Terbakar Erupsi Merapi 7 Tahun lalu, Endah Fri Utami Masih Trauma

Terbakar Erupsi Merapi 7 Tahun lalu, Endah Fri Utami Masih Trauma

Tujuh tahun lalu Endah Fri Utami kehilangan ibu dan kedua kakaknya karena erupsi Gunung Merapi. Dia sendiri terluka bakar yang membuat tubuhnya tak sempurna. Namun luka batin karena trauma tak kalah berat hingga membuatnya terpuruk.

 

Erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Agung di Bali yang kini sedang terjadi langsung mengingatkan Endah Fri Utami pada peritiwa kelam 5 November 2010 lalu. Saat Gunung Merapi di Yogyakarta mengalami hal yang sama dan membuatnya kehilangan ibu dan kakaknya. Tak hanya itu, dia mengalami luka bakar parah.

Erupsi Gunung Merapi saat itu tercatat sebagai letusan terbesar selama 140 tahun terakhir atau sejak 1872. Luncuran awan panas juga merupakan yang terpanjang di 2010. Ratusan rumah warga hancur, banyak pula yang kehilangan keluarga.

Duka dan trauma masih dirasakan korban yang selamat hingga kini. Seperti yang dirasakan Endah, 23 tahun. Warga Dusun Bronggang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini sejak lahir tinggal di dusun itu bersama orang tua dan kedua kakaknya.

Rumahnya yang berjarak sekitar 17 km dari Gunung Merapi juga berdekatan dengan Sungai Gendol yang menjadi aliran saat banjir lahar. Meski tak pernah terkena banjir, tapi bau belerang yang menyengat sudah menjadi hal yang biasa.

Ayah Endah, Sabari, seorang PNS, ibundanya, Endang Sri Widiastuti, ibu rumah tangga. Kedua kakaknya, Yoyok dan Viga bekerja serabutan. Sedangkan Endah yang saat itu masih 16 tahun duduk di kelas 1 SMK.

Sebelum kejadiaan naas itu, Endah sudah mendapat firasat. Seperti pada siang harinya saat mengungsikan dokumen penting keluarga ke rumah neneknya di daerah Kalasan yang lokasinya terbilang lebih aman, tiba-tiba antingnya copot sebelah.

”Perasaan langsung nggak enak, gelisah, merasa mau ada kejadian tapi entah apa. Pas bilang ke ibu, kata ibu nggak apa-apa, besok beli lagi antingnya,” ungkap Endah.

Setelah kembali dari Kalasan, Endah merasa pikirannya tidak tenang. Wajah keluarga dan para tetangganya berbeda, tidak seperti biasanya. Ia juga heran anak tetangganya yang masih dua tahun tak henti-henti menangis, tak jelas sebabnya.

Endah masih mencoba tenang karena sampai hari itu tidak ada pemberitahuan untuk mengungsi. Ia juga berpikir tempat tinggalnya tergolong aman karena jaraknya cukup jauh dari Merapi. Bahkan desanya menjadi tempat mengungsi warga desa lain yang daerahnya termasuk rawan terkena erupsi.

Namun selepas magrib suara sirine penanda banjir terus bergema. ”Kirain ada banjir lahar dingin, tapi ditunggu tidak ada. Cuma kalau lihat ke atas ada gumpalan awan putih besar,” kenang Endah.

Antara Hidup dan Mati

Malam harinya, seperti biasa, lingkungan tempat tinggal Endah rutin mengadakan yasinan setiap malam Jumat. Lagi-lagi ia merasa ada yang berbeda ketika melihat wajah para tetangga dan keluarganya.

”Saat itu ibu juga beda, tumben ibu pakai gelang dan kalung. Aku tanya, memang ibu mau ke mana? Kata ibu gelang dan kalungnya mau dipakai selamanya. Aku heran, kok ibu jawabnya gitu,” kata Endah.

Satu jam sebelum kejadian Endah juga mendapat telepon dari temannya yang tinggal di Kalasan dan menyuruhnya agar segera mengungsi. ”Teman bilang, dia mimpi aku dalam keadaan gosong, katanya aku harus segera mengungsi. Aku bilang, kok ngomongnya gitu sih?” tambahnya.

Saat itu Endah merasa hawa di sekitarnya semakin panas. Sampai tengah malam, memasuki Jumat dinihari, Endah dan keluarga masih terjaga. Ayahnya juga baru pulang sehabis menengok hewan kurban mereka karena saat itu menjelang Idul Adha, sembari memantau keadaan di sekitar rumah mereka.

Tak lama, Endah mendengar suara gemuruh sangat kencang. Dia juga mendengar pintu rumahnya diketuk. Rupanya salah satu tetangganya meminta tolong sambil menggendong anaknya yang masih 2 tahun.

”Pas dibuka, ternyata awan panas warna hitam ikut masuk. Ibu saya langsung kontak dengan awan panas itu dan terpental sampai ke depan pintu kamar,” ungkap Endah dengan eksresi ngeri.

Panik, Endah langsung berlari ke kamarnya. Dadanya langsung terasa sesak karena kesulitan bernapas. Ia juga mendengar teriakan kakak-kakaknya. Sedangkan ayahnya berusaha berlindung di balik kasur.

Saat itu, Endah tidak bisa berpikir jernih. Bahkan ia sudah membayangkan nyawanya tak tertolong.

”Saat itu aku antara hidup dan mati karena rasanya panas banget dan lemas sampai nggak bisa jalan dan nggak bisa melihat dengan jelas di sekitarku. Banyak debu dan genteng meleleh terkena awan panas,” ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.

Setelah itu, Endah diminta tetap bertahan di rumah dan ayahnya akan keluar mencari pertolongan. Tak lama, sempat turun hujan sebentar tapi kemudian ia justru mendengar teriakan minta tolong dari para tetangganya.

”Mereka bilang rumahku kebakaran. Pas aku lihat, langit langsung berubah jadi warna merah dan banyak yang teriak minta tolong,” tutur Endah.

Endah tak mampu berbuat banyak hingga dua jam kemudian ada tim relawan yang datang menyelamatkannya. Dia menjadi orang pertama yang digotong dan dipindahkan ke mobil bak terbuka. Saat itu dia masih melihat kedua kakaknya di sampingnya dan tetangganya yang mengetuk pintu rumahnya sambil menggendong bayi.

Setibanya di RSUP Dr. Sardjito, Endah masih sadar walau tidak merasakan apa-apa saat tubunya disuntik atau dipasang kateter. ”Sempat ketemu keluarga, tapi kemudian dipisah karena saya masih di bawah umur,” tambahnya.

Koma Tiga Hari

Akibat terkena awan panas, 38,8% tubuh Endah mengalami luka bakar, terutama di tangan dan kaki. Semua jari kakinya diamputasi setengah ruas.

Untuk penyembuhan luka bakar, Endah juga berkali-kali menjalani operasi. Karena itu dia cukup lama dirawat di rumah sakit, selama delapan bulan.

Namun, ada hal yang membuat Endah bertanya-tanya. Dia tak pernah melihat ibu dan kakak-kakaknya datang menjenguk. Selalu saja ayah atau saudaranya yang lain yang datang.

Pada bulan keempat Endah akhirnya diberitahu, ibu dan kakak-kakaknya tak bisa diselamatkan. Jika ditotal ada 24 sanak saudaranya yang wafat.  ”Bapak nggak berani kasih tahu, katanya takut kondisi aku drop,” tuturnya.

Benar saja, setelah mendapat kabar itu Endah langsung tak sadarkan diri. Dokter mengatakan Endah koma selama tiga hari.

”Ketika dokter bilang aku koma, saat itu aku merasa kayak mimpi. Jalan di lorong-lorong, banyak banget lorongnya. Setiap mau masuk lorong nggak bisa, sampai tahu-tahu sadar,” ungkap Endah.

Bulan kedelapan akhirnya Endah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Berdua dengan sang ayah yang lukanya tidak terlalu parah, untuk sementara mereka tinggal di Shelter Dusun Kuwang. Menempati bangunan berdinding bambu dan beratapkan asbes yang memang diperuntukan bagi para pengungsi.

Setelah keluar dari rumah sakit, Endah masih terus berlatih untuk jalan selama dua tahun. Selama itu pula dia harus menggunakan kursi roda jika perjalanan jauh dan berhenti sementara dari sekolahnya.

Ketika kondisinya makin baik, Endah baru kembali bersekolah. Namun itu juga membuatnya merasa terpuruk dan minder karena fisiknya kini berbeda dan cara berjalannya terlihat kaku.

”Teman-teman yang dulu sekelas, saat itu juga sudah di kelas 3. Tapi teman-teman yang baru baik-baik. Mereka mendengarkan ceritaku. Kalau aku diam, ditanyakan kenapa. Guru-guru juga support, mereka bilang dibawa happy aja. Banyak yang kasih semangat dan sayang sama aku,” ungkap Endah.

Untuk menghilangkan rasa trauma dan rasa minder karena kekurangan fisiknya, Endah mendapat bantuan konseling dari psikolog di rumah sakit. Ayahnya juga terus menyemangati.

”Aku dan bapak juga saling menguatkan. Kata bapak, masalah fisik cuekin aja. Kalau ada yang ngomong macam-macam, bilang aja ke orang itu, bisa nggak dia sekuat aku dikasih cobaan seperti ini? Itu yang selalu aku ingat dan menguatkanku,” tuturnya.

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi

Merapi, Gunung, Erupsi, Meletus

Artikel Terkait

Comments