Annisa Pratiwi Menggarap dan Mengoptimalkan Kelimpahan Singkong

Annisa Pratiwi Menggarap dan Mengoptimalkan Kelimpahan Singkong

Indonesia kaya singkong. Batang pohonnya dapat ditanam dan tumbuh di mana saja. Sayangnya hasil tani yang dapat diolah menjadi beragam produk ini masih lekat dengan label makanan kelas bawah.

 

Itulah yang ingin diubah Annisa Pratiwi dengan merintis Ladang Lima. Dia ingin membuktikan bahwa singkong dapat diolah menjadi produk lokal berkualitas untuk mendukung terciptanya keluarga sehat.

Riset membuktikan singkong sangat baik untuk diolah sebagai tepung pengganti tepung terigu. Kelebihannya antara lain tidak perlu menggunakan pewarna buatan/pemutih, sumber serat yang baik, kaya zat besi dan kalsium, rendah nilai Glycemic Index (GI) dan yang terpenting bebas gluten (gluten free).

Bekerjasama dengan petani di beberapa kabupaten di Indonesia, mulai tahun 2013, Annisa Pratiwi dan sang suami mulai mengolah singkong segar menjadi aneka produk. Mulai dari tepung serba guna, bahan roti dan pancake dan aneka mi dengan campuran ekstrak sayuran. Semuanya dikemas menarik dan mewah.

Annisa mengaku tidak mudah pada awalnya. Apalagi masyarakat sudah sangat akrab dengan tepung terigu. Tak banyak yang paham bahwa gluten, salah satu protein yang biasanya terkandung dalam gandum hasil persilangan membutuhkan tiga kali metabolisme untuk dapat diproses menjadi nutrisi.

Namun Annisa tak menyerah. Perlahan dia melakukan edukasi pada masyarakat tentang kebaikan bebas gluten.

Bersyukur Annisa, suatu kali dia berjumpa dengan orang-orang yang memiliki alergi terhadap tepung terigu. Di kesempatan lain bertemu dengan para orangtua anak berkebutuhan khusus yang intoleran terhadap gluten.

Kebanyakan dari mereka harus impor tepung bebas gluten dari Australia dan Amerika Serikat. Di kedua negara itu memang sudah tumbuh kesadaran perlunya mengurangi konsumsi gluten, terutama bagi mereka yang alergi. Merekalah yang kemudian menjadi pelanggan Ladang Lima.

Untuk melebarkan sayap sekaligus manfaat usaha yang dirintisnya, Annisa rajin memberdayakan kaum wanita. Supaya mereka tak hanya menjadi pelanggan saja, namun juga turut menjadi penjual produk sehat Ladang Lima.

Annisa bersyukur, usahanya membuahkan jaringan reseller di beberpa kota besar di Indonesia. Ladang Lima juga dinobatkan sebagai juara dua kompetisi Food Start Up Indonesia.

Yang terbaru dia memperoleh investasi dari program kerjasama Investing in Women (IW) dengan Kinara Indonesia dan Patamar Kapital.

”Dana ini akan kami manfaatkan untuk mendapatkan sertifikasi dan melengkapi infrastruktur untuk BPOM dan membeli mesin,” ungkap Annisa.

Alumni Universitas Airlangga ini berharap ke depan dapat melakukan lebih banyak pembinaan petani. Tidak hanya petani singkong namun juga petani sayur di Indonesia.

Punya Potensi Besar

Usaha pangan di Indonesia punya potensi sangat besar. Sebagian besar penggarapnya wanita. Kenyataan memprihatinkannya, wanita kerap kesulitan mendapatkan dukungan untuk mengembangkan bisnis. Baik dalam hal investasi maupun manajemen.  

Kinara Indonesia, sebuah firma modal usaha lantas menjalin kerjasama dengan Patamar Capital dan Investing in Women dari pemerintahan Australia guna memecahkan persoalan di atas.

Hasilnya, pertengahan Oktober lalu dibagikan modal awal senilai USD 25 ribu bagi 4 UMKM wanita yang dipilih dari 12 wirausaha. Ke-12 wirausaha dari berbagai wilayah di Indonesia itu dikumpulkan dalam program akselerasi selama 4 bulan. Mereka dilatih untuk mengembangkan bisnisnya. Mulai dari bagaimana membentuk dan mengelola sebuah tim, berinteraksi dengan pelanggan potensial hingga bagaimana berhubungan dengan para investor.

”Untuk mengumpulkan mereka kami berkeliling ke beberapa kota. Kondisi membuktikan, para wanita wirausaha ini punya semangat luar biasa meski harus membawa bayinya ke mana-mana dan berbagai fokus perhatian pada keluarga. Hanya perlu diasah dalam beberapa sisi, misalnya hal teknis menyangkut finansial dan pengembangan produk. Kami yakin mereka dapat berkembang,” ungkap Fajar Anugerah, Managing Partner Kinara Indonesia optimis. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham, Dok. Pribadi

Petani Millenial, Kembali Bertani, Pulang Kampung, Petani Masa Kini, Online, Medsos

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments