Agar Anak Muda Tertarik Berbusana Etnik

Agar Anak Muda Tertarik Berbusana Etnik

Pameran tahunan Indocraft 2017 kembali digelar di Jakarta Convention Center (JCC). Gelaran ke-14 kali ini mempromosikan keindahan Indonesia melalui produk fashion.

 

Memasuki tahun penyelenggaraan ke-14 pameran aneka ragam produk batik dan kerajinan Indoocraft menghadirkan banyak kejutan menarik bagi masyarakat luas. Pameran kali ini diikuti lebih dari 242 peserta yang terdiri dari 1 kementerian menampilkan 5 mitra binaan, 11 BUMN  dengan 46 mitra binaan, 13 Pemda dengan 22 mitra binaan, 159 UKM Swasta Mandiri, lima asosiasi dan komunitas terdiri dari 6 mitra binaan.

Gelaran Indocraft 2017 semakin meriah dengan keterlibatan 13 desainer yang tergabung dalam Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI). Selama acara mereka menggelar sejumlah peragaan busana yang mengangkat ragam busana etnik dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebut saja desainer Leny Anggraini yang terkenal lewat brand busana Leny Rafael. Desainer dari Jakarta ini menampil gaun pesta ready to wear dengan tema  Ethnic Glam Tenun Troso. Terasa menyegarkan dan berbeda. 

“Aku angkat tenun troso karena kebanyakan desainer sudah pakai batik, tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tenun dari Nusa Tenggara Barat (NTB)  atau dari daerah lain. Kebetulan aku orang Jawa, aku sengaja ambil ciri khas tenun jepara, yaitu troso,” ungkap Leny.

Leny mengaku jatuh hati pada motif tenun troso yang didominasi motif geometris hingga karakter flora dan fauna, seolah menggambarkan atmosfir pedesaan. “Selama ini tenun troso kurang dilirik desainer lain karena itulah aku ingin mengangkat tenun ini ke permukaan. Karena tenun troso tidak kalah cantik dengan tenun-tenun dari daerah lain. Sekilas motifnya  mirip dengan motif kain khas Indonesia Timur. Proses pembuatannya cukup rumit dan memakan waktu lama,” papar desainer yang beberapa karyanya merambah hingga Malaysia, Singapura, Belanda dan Qatar.

Dengan mengangkat gaun pesta ready to wear lewat kain tenun troso, Leny memastikan karyanya dapat dimiliki siapa saja. “Range harganya mau yang terjangkau. Selama ini orang mungkin mengenal Leny lewat baju kebaya wedding, baju pesta. Jadi ketika mengaplikasikan ke ready to wear memang tidak akan meninggalkan kesan glamornya. Karena bisa dibilang ciri khas Leny adalah glam,” urainya.

Tenun Tanah Toraja

Sementara tak kalah menarik juga, Erna Rashid Taufan, desainer asal Pare-Pare yang mengangkat tenun tanah toraja (tator)  pada brand busana muslimahnya. Jika selama ini tenun tanah toraja hanya dikenakan pada upacara-upacara adat, Ketua Dekranasda Kota Pare-Pare itu mencoba mendobrak pakem tersebut.

“Saya pilih tenunan ini karena teman-teman perancang busana di Sulawesi Selatan sudah jauh ke depan untuk merancang sutra sengkang. Saya nggak mungkin ikuti mereka, karena bakal tertinggal jauh. Oleh karena itu saya terpikir unutk mengangkat tenun tator ini,” jelas Erna.

Apalagi potensi tenun tator begitu besar. Tidak saja untuk pangsa pasar lokal, namun juga Eropa. “Motifnya terbilang simple sehingga saya yakin dapat dipasarkan sampai ke Eropa. Yang penting bisa mengaplikasikannya secara tepat. Untuk pasar Eropa bisa jadi jas, coat dan lain-lain,”  urai Erna.

Untuk pasar lokal, Erna mengaplikasikan tenun tator dalam rangkaian busana muslim syari. Dia sengaja memilih berkontribusi pada penyediaan busana muslim syari karena selama ini banyak busana muslimah yang tidak sesuai syariah.

“Saya melihat tren busana muslimah masih memperlihatkan lekuk tubuh. Dari situ saya berpikir bagaimana saya ada waktu untuk berkontribusi mengubah keadaan ini,” kata Erna.

Meski mengangkat tenun tator yang fungsi awalnya untuk upacara adat, kiprah Erna sebagai desainer tidak pernah dipertentangkan. Justru lewat kreasinya, kain tator yang awalnya banyak didominasi warna-warna mati, kini berubah menjadi lebih menarik.

“Dulu kan warnanya sangat etnik. hitam, merah gelap, coklat. Tapi saya bisa request ke perajin agar dibuatkan warna-warna kekinian. Alhamdulillah mereka mau bereksplorasi. Dengan warna-warna  baru kemudian saya tambah bersemangat membuat  desain busana muslim syari yang saya padu padankan juga dengan aksesori kerang. Kerang adalah ciri khas dari kota Pare-Pare, dimana saat ini suami memimpin. Insya Allah ini juga menjadi cirri khas dari desain saya, yaitu aplikasi kain tenun tator dan kerang,”  kata istri dari Walikota Pare-Pare, Rashid Taufan.

Tugas  Desainer Berkreasi

Raizal Boeyoeng Rais selaku Ketua Umum Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI) mengatakan potensi lokal Indonesia sampai kapan pun tak akan habis untuk dieksplorasi. Kuncinya tergantung pada manusianya apakah mau atau tidak untuk melakukan upaya tersebut.

"Banyak kain etnik yang bisa di eksplorasi dan kami berusaha mempromosikan secara nasional. Ini niat murni saya dan teman-teman dan apa yang kami lakukan ternyata banyak yang mendukung," jelas Boeyoeng.

Boeyoeng menaruh harapan besar terhadap anak-anak mud saat ini. Itulah mengapa KDEI rutin menggelar kegiatan yang bersifat mempromosikan produk lokal yang kaya dengan seni.

“Anak-anak muda zaman sekarang  harus tahu dan mengenal busana etnik yang ada di berbagai daerah dan tidak kalah dengan busana lain. Sebagai desainer tugas kita  terus berkreasi agar anak muda  tertarik. Setelah ada ketertarikan, saya yakin mereka juga tergerak untuk melestarikannya,” pungkas Boeyoeng.

indocraft 2017, pameran produk batik dan kerajinan indonesia, agar anak muda tertarik busana etnik, angkat tenun troso, tenun jepara, leny rafael, desainer indonesia, desainer wanita, erna rasyid taufan, tenun tanah toraja, dekranasda kota pare-pare,

Artikel Terkait

Comments