Korban Siraman Air Keras Itu Temukan Cinta Sejati

Korban Siraman Air Keras Itu Temukan Cinta Sejati

Menolak lamaran seorang pria, Primodini Roul disiram cairan korosif. Wajah, tangan dan kakinya pun luka parah seperti terbakar. Siapa sangka, di saat merasa terpuruk dan masa depannya hancur, dia justru menemukan belahan jiwanya di rumah sakit.

 

Tak terbayangkan hancurnya perasaan Primodini Roul saat mengalami rasa sakit bertubi-tubi akibat cairan korosif yang mengandung asam itu. Bertahun-tahun dia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur dan harus berkali-kali menjalani operasi. Bukan hanya fisik, batinnya pun terluka.

Tapi di balik musibah yang menimpanya, ada hikmah besar dirasakan wanita yang akrab disapa Rani bahwa cinta tak melulu soal fisik. Lebih penting dari itu, ketulusan dan ketegaran hatinya yang membuat Saroj Kumar Sahuu jatuh hati padanya.  

Kejadian mengerikan ini dialami saat Rani masih berusia 15 tahun. Dalam perjalanan pulang sekolah bersama sepupunya, tiba-tiba seorang pria yang mengendarai motor melempar cairan kimia berbahaya. Rupanya, pria 28 tahun itu dendam pada Rani karena menolak lamarannya.

Akibatnya, Rani yang kini berusia 25 tahun, mengalami luka bakar hebat. Bahkan kehilangan penglihatannya hingga dirawat di ruang ICU selama empat bulan.

Harapan hidup Rani sangat kecil, mengingat luka-luka yang dialaminya menimbulkan infeksi. Tak hanya itu, dia harus merelakan kepalanya menjadi botak selamanya. Tak ada lagi rambut sebagai mahkota yang menghias kepalanya seperti wanita lain.

Setelah melewati masa-masa kritis, Rani hanya bisa terbaring di tempat tidur rumahnya. Selama itu pula dia dirawat sang ibu yang seorang diri membesarkannya dan sabar dalam membalut luka-lukanya. Rani juga masih harus bolak-balik menjalani operasi. Terhitung lima operasi dijalaninya.

Hampir satu dekade Rani menjalani segala pengobatan itu. Tak jarang dia mengalami depresi. Apalagi pada 2012 lalu kasusnya dihentikan karena kekurangan bukti dan pelakunya sekarang bisa bebas berkeliaran.

”Aku masih menunggu pria yang menyerangku itu ditangkap dan dimasukan ke penjara. Aku mengajukan kasus pada orang itu dan juga telah menerima surat perintah dari pengadilan yang meminta pengajuan bukti-bukti. Tapi karena aku tidak bisa bangun dari tempat tidur dan tinggal ibuku sendiri, tidak banyak yang bisa dilakukan. Akhirnya kasus ini dihentikan,” sesal Rani.

Rutin Mengunjungi

Tak mudah untuk bisa bangkit dengan segala efek dari kejadian yang dialaminya. Apalagi pada 2014 lalu Rani mengalami infeksi di kakinya yang sebelumnya menjalani cangkok kulit.

Sampai akhirnya suatu hari Rani menemukan alasan untuk hidup lagi. Semua ini berawal dari tiga tahun lalu, saat dia menjalani perawatan di rumah sakit untuk mengobati infeksi kakinya.

Di antara para suster yang senantiasa membantunya menjalani perawatan, hingga kondisinya membaik, rupanya ada seorang pemuda, teman dekat dari seorang suster yang juga ikut merawatnya. Dialah Saroj Kumar Sahoo, 26 tahun. Mengunjungi rumah sakit memang menjadi agenda rutin Saroj.

Ketika Rani masuk rumah sakit pertama kali untuk menjalani perawatan pada kakinya yang infeksi, sebenarnya mereka bertemu. Rani mengenang, saat itu mereka tidak saling berbicara walau dia tahu sebenarnya Saroj melihatnya.

Hingga suatu hari Saroj mendengar ketika ibunda Rani bertanya pada dokter tentang perkembangan putrinya itu dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih kembali. Pasalnya, saat itu Rani tidak bisa berdiri sendiri karena infeksi kakinya. Ibundanya pun terkejut, sangat sedih dan tak kuasa menahan tangis ketika dokter mengatakan butuh waktu empat tahun agar bisa kembali berjalan seperti semula. Tak terbayangkan kesedihan tiada akhir yang dihadapi putrinya.

Sebagai orang tua tunggal, semua biaya pengobatan yang dibutuhkan Rani membuat tabungannya terkuras habis. Karenanya, operasi lanjutan tertunda karena tiadanya dana.

Beruntung Chhanv Foundation memberikan dukungan dan membantu dana operasi dan perawatan. ”Ibuku tidak bisa mengatur uang untuk perawatanku dan kami harus menghentikannya di tengah jalan. Penundaan perawatan menyebabkan beberapa komplikasi yang aku alami dan perlu ditangani segera,” jelasnya.

Dua minggu sejak masuk rumah sakit dan mengetahui apa yang dialami Rani, Saroj mulai berbicara padanya dan sering mengunjunginya di rumah sakit. ”Aku yakin dia melihat ibuku dan mengamatinya, sampai perlahan mulai menawarkan bantuan karena ibuku selalu datang sendiri saat aku menjalani fisioterapi. Saroj menghibur ibuku dan mengatakan akan melakukan apa saja untuk membantuku bisa berjalan lagi,” tambahnya.

Kedatangan Saroj akhirnya menjadi jadwal rutin. Bahkan dia berhenti dari pekerjaannya dan menghabiskan 8 jam sehari di rumah sakit untuk menjaga Rani. Mulai dari pukul 08.00-12 siang dan berlanjut dari pukul 16.00-20.00 malam. Dia juga menunjukkan kepeduliannya dan membantu Rani melewati masa-masa sulit.

Saat itu, Saroj bertugas suka rela mendampingi Rani dan memberikan konseling untuk psikologinya. Tak hanya itu, dia juga mendampingi saat Rani menjalani berbagai perawatan dan pemulihan penglihatan yang tidak bisa kembali 100%, mengatasi depresi dan sebagainya.

“Sangat berat bagiku saat dokter mengatakan aku tidak bisa berjalan sampai empat tahun lamanya, ditambah aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, rasanya menambah penderitaanku. Tapi Saroj tidak kehilangan harapan. Dia mendorongku setiap hari, memotivasiku untuk bersikap positif dan memiliki harapan,” kata Rani.

Bagi Rani, sama halnya seperti obat yang dia butuhkan untuk pemulihan fisiknya, secara mental juga butuh dukungan dan dorongan yang kuat. Dan itu yang diberikan Saroj padanya.

Cinta Itu Tumbuh

Pelan-pelan, berkat perawatan dan latihan dengan dukungan Saroj, luka-luka Rani mulai sembuh. Tak hanya itu, kepercayaan dirinya pun kembali dan kini sudah bisa berdiri tegak.

Namun, selama itu pula Rani belum tahu seperti apa rupa Saroj karena tidak penglihatannya terbatas. Meski begitu, dia sudah tertarik dengan Saroj. Sampai akhirnya September lalu, Rani menjalani operasi pertama di mata kirinya dan untuk pertama kalinya dia bercermin melihat wajahnya.

”Saya masih sangat terpukul. Tapi ada Saroj yang bisa membesarkan hati saya, sehingga kelak saya tetap bisa bermanfaat bagi orang lain,” kata Rani dalam wawancaranya dengan dailymail.co.uk.

Ya, meski awalnya biasa saja, tumbuh benih-benih cinta di antara mereka. Walau secara fisik, wajah Rani tidak menarik lagi. Tapi ada hal lain yang membuat hati Saroj tertambat, yakni keberanian dan ketegaran Rani untuk bangkit dari keterpurukan dan menyambut kembali masa depannya yang sempat suram.

Januari 2016 lalu, Saroj mengungkapkan isi hatinya dan ternyata Rani memiliki perasaan yang sama. Walau awalnya merasa ragu menjalin hubungan dengan Saroj karena merasa belum siap untuk itu.

Ketidaksiapannya saat itu jika mereka menjalin hubungan lebih dari teman diungkapkan Rani pada Saroj. Tapi justru Saroj terus mendorong Rani dengan mengatakan agar tidak terlalu memikirkan hal itu.

”Aku juga telah jatuh cinta padanya dan mengungkapkan padanya. Tapi aku juga tahu kalau mencintai itu berbeda ketika sudah memasuki sebuah hubungan. Aku tidak cukup sehat untuk menjaga diriku sendiri, lalu bagaimana aku bisa membuat orang lain bahagia?” ungkap Rani.

”Tapi dia terus meyakinkanku, akan datang satu hari ketika aku tidak hanya bisa melihat dunia dan bekerja tapi juga bisa membuat orang lain bahagia,” tambahnya seraya tersenyum.

Rani dan Saroj melanjutkan hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius. Mereka berencana melangsungkan pernikahan di penghujung tahun ini. Masing-masing keluarga pun menerima keputusan mereka dan keduanya sedang menunggu operasi rekonstruksi tahap selanjutnya yang sudah dijadwalkan untuk Rani.

Diperlakukan seperti Ratu

Meski saat ini kondisi fisik Rani tidak seperti wanita pada umumnya, nyatanya tidak menyurutkan cinta Saroj Rani. Yang membuat Rani terkesan, Saroj selalu memperlakukannya istimewa.

Rani mengatakan, sehari setelah tragedi disiram cairan kimia berbahaya itu, dia merasa takut pada dirinya sendiri. Sejak saat itu, dia tidak berani bercermin sampai akhirnya kehilangan penglihatan.

Akibat serangan itu, kulit di tulang punggungnya benar-benar meleleh. Operasi plastik di kepalanya juga dilakukan karena sebagian besar kulit kepalanya hilang.

”Aku memang tahu dengan apa yang terjadi pada diriku karena tragedi itu, tapi ketika aku melihat diriku sendiri aku merasa sangat terluka. Aku begitu takut pada diriku sendiri dan membuat tak berhenti menangis sepanjang malam,” kenangnya.

Hati Rani tersentuh kala mendengar pengakuan cinta Saroj. Pikirnya, ternyata masih ada pria baik hati yang sayang padanya dan bukan hanya melihat dirinya dari fisik semata dan Saroj membuktikannya.

”Aku merasa beruntung memilikinya. Dia sangat mengerti dan selalu ada untukku. Rasanya menyenangkan dicintai dan yakin memiliki pasangan yang mencintai dan menerima kebaikan dalam dirimu,” tutur Rani.

Hati Rani pun tak karuan, apalagi mengingat kondisinya yang kini tidak sempurna seperti dulu. Tapi berkat ketulusan cinta Saroj, akhirnya Rani menerimanya. Saroj membuktikan mencintai apa adanya dengan selalu memperlakukan pujaan hatinya itu seperti ratu.

”Dia mendorongku menjalani hidup ini dengan bahagia. Saroj sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tidak akan bisa melihat dunia hari ini jika tidak memilikinya dalam hidupku,” ujar Rani sambil tersenyum.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Istimewa, dailymail

Cinta Sejati, Korban Air Keras, Kekerasan Pada Wanita

Artikel Terkait

Comments