Rupa-rupa Diet

dr. Inge Permadi MS, SpGK: Jangan Asal Ikut Tren Diet!

dr. Inge Permadi MS, SpGK: Jangan Asal Ikut Tren Diet!

Tren diet, terutama untuk menurunkan berat badan berlebih terus berganti dengan metode yang kian beragam. Tidak semua orang cocok menjalaninya sebab tubuh masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Lantas apa saja yang perlu diperhatikan seseorang saat menentukan diet yang akan dijalaninya?  

 

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Inge Permadi MS, SpGK mengingatkan, prinsip utama yang harus diperhatikan dalam diet adalah gizi seimbang. Perhitungannya, konsumsi karbohidrat sebanyak 55-65 %, protein 15-20 % dan lemak kurang dari 3%.

Komposisi ini boleh diubah-ubah sedikit dengan pertimbangan tertentu oleh dokter, namun secara keseluruhan tetap harus mencapai 100%. Selanjutnya diimbangi dengan aktivitas fisik. Misalnya olahraga minimal 150 menit satu minggu.

Masalahnya tak sedikit orang terkesan kalap, asal mencontek tren diet tertentu tanpa mempertimbangkan dan mempedulikan efek sampingnya.

”Ada pula diet-diet yang dilakukan orang sangat ekstrem. Kalau waktunya terbatas tidak masalah. Karena kita mencari penurunan berat badan dengan target sel lemak yang turun. Namun perlu diingat, jangan sampai penurunan sel ototnya yang banyak. Akibatnya bisa malnutrisi. Contohnya anoreksia yang kehilangan sel lemak dan otot,” jelas dr. Inge.

Dia lantas menyinggung diet ketogenik yang membatasi konsumsi karbohidrat, sebaliknya meninggikan konsumsi  lemak dan protein. Menurut dr. Inge, diet ini boleh dilakukan hanya dalam waktu terbatas. Jika berlebihan ditakutkan mengganggu keseimbangan. Seperti yang terjadi dalam diet yoyo, dimana seseorang menjalani diet ketat dalam kurun waktu tertentu hingga berat badannya turun drastis dan selanjutnya makan seenaknya.

”Bahayanya, sel otot yang kempes terisi kembali oleh lemak. Akibatnya menjadi lebih gemuk dari sebelumnya dan ini berbahaya,” urai dr. Inge.

Tak kalah berbahaya bagi mereka yang membeli obat tertentu demi menurutkan berat badan. Misalnya pencahar yang memancing buang air besar (BAB) dan diuretic untuk meningkatkan laju urin.

”Jangan sembarangan deh. Itu tidak bagus, dapat merusak saluran cerna dan organ lain. Terlebih bagi orang dengan penyakit tertentu. Maka penggunaan obat untuk diet harus didampingi dokter ahli yang menentukan dosis dan menghindari reaksi tertentu,” pesan dr. Inge.

Bukan Asal Turun Berat Badan

Obesitas memang berbahaya bagi tubuh, memicu banyak penyakit. Karenanya menurut dr. Inge diet menjadi wajib bagi yang kelebihan berat bedan.  Namun dia mengingatkan, dalam memilih diet jangan hanya memasang target turun berat badan, tapi harus sehat. Tak apa prosesnya lama asal kebutuhan gizi dalam tubuh tetap seimbang.

”Prinsipnya sadar diri bahwa tubuh kita membutuhkan jumlah makan seimbang dengan aktivitas. Sebab aktivitas inilah yang akan membakar lemak dalam tubuh,” kata dr. Inge.

Indonesia sebagai wilayah tropis menurut dr. Inge menguntungkan masyarakat. ”Kita bisa memanfaatkan protein nabati yang berlimpah. Bisa juga embatasi daging merah untuk kemudian menggantinya dengan protein putih dari ikan,” sarannya.

Dalam hal ini prinsip raw food atau real food dapat diterapkan. Namun dr. Inge mengingatkan, makanan mentah yang dikonsumsi jangan melebihi 80%. Pasalnya serat yang terlalu tinggi dapat mengikat zat dalam sayur dan buah atau makanan lain yang dikonsumsi bersama.

”Jadi selain gizi seimbang harus pula variasi agar saling melengkapi. Sebab tubuh nggak hanya butuh vitamin C, tapi juga vitamin lainnya. Bukan hanya yang larut air tapi juga larut lemak,” tegasnya mengingatkan.

Hal lain yang harus diingat dalam makan adalah jangan lapar mata. Sudah saatnya masyarakat harus berperan mengurangi sampah di dunia yang kian menggunung.

”Caranya mengurangi jumlah makan yang dikonsumsi atau mengambil sesuai porsi saja. Jangan berlebihan namun pada akhirnya tidak dihabiskan. Belajarlah menahan diri dan makan secukupnya,” pungkas dr. Inge mewanti.

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: pixabay, Dok. Pribadi