Pesawatnya Jatuh, Ximena Suarez Satu-satunya Wanita yang Selamat

Pesawatnya Jatuh, Ximena Suarez Satu-satunya Wanita yang Selamat

Kecelakaan pesawat British Aerospace 146 yang membawa tim sepak bola dari Brazil, Chapecoense pada November tahun lalu masih meninggalkan cerita duka. Terutama bagi Ximena Suarez, satu di antara 6 orang yang selamat.

         

Duka merundung dunia olahraga pada 28 November 2016 lalu. Pesawat sewaan yang melayani penerbangan jarak pendek jatuh di kawasan pegunungan Kolumbia.

Pesawat yang sempat singgah di Santa Cruz, Bolivia itu membawa tim sepak bola Chapecoense dari Brazil yang berada di bawah kompetisi utama antarklub Amerika Latin, Copa Libertadores.

Dari 77 orang yang berada dalam pesawat nahas itu, 71 di antaranya tewas. Korban sebagian besar merupakan anggota tim sepak bola dari Serie A Brasil, Chapecoense. Sisanya, para kru maskapai La Mia, official tim Serie A Brasil, pelatih, serta para jurnalis yang rencananya meliput pertandingan final Piala Sudamericana di Medellin, Kolombia.

Seharusnya, sesuai jadwal yang sudah ditentukan, tim akan bertanding pada Rabu, 30 November 2016 untuk pertandingan pertama dari dua pertandingan final Copa Sudamericana melawan Atletico Nacional of Medellin.

Jatuhnya pesawat itu membuat Presiden Brazil Michael Temer menetapkan tiga hari berkabung bagi korban. Insiden ini juga dinyatakan sebagai tragedi besar.

Data penerbangan menunjukkan, kurangnya bahan bakar ke mesin menyebabkan kerusakan pada kelistrikan pesawat. Inilah yang kemudian menyebabkan kecelakaan. Pesawat terekam sempat berputar-putar sebelum akhirnya jatuh di wilayah pegunungan.

Ingatan saat detik-detik pesawat jatuh itu masih terbayang jelas di benak enam korban selamat hingga kini. Salah satunya Ximena Suarez, satu-satunya awak pesawat yang selamat.

Seperti ditulis surat kabar El Colombiano, Ximena diselamatkan dua jam setelah kecekaan terjadi. Dia mengalami luka pada kaki dan tangannya.

Wanita asal Bolivia ini menuturkan, tidak ada ada hal aneh yang dia rasakan sebelum lepas landas. Penerbangan hari itu pun normal seperti biasanya. Tak ada yang mengira hal buruk akan terjadi.  

”Tidak ada yang tahu bagaimana mereka akan bertindak dalam keadaan darurat, tidak ada yang siap. Kami awak kabin memang sudah dilatih dan melakukan simulasi untuk menghadapi hal-hal seperti ini. Tapi ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, pada kenyataannya itu sulit,” jelas Ximena pada surat kabar Spanyol El Pais.  

Menurut Ximena, satu menit sebelum pesawat jatuh, semua lampu padam. Suasana mulai mencekam, penumpang berteriak-teriak, ada yang bangun dari kursinya.  

Mimpi Buruk

Ximena sangat bersyukur bisa selamat dalam kecelakaan tragis tersebut. Menurutnya, ini adalah kehendak Tuhan yang diberikan padanya. Dia percaya, tanpa campur tangan Tuhan tidak mungkin bisa selamat dan bertahan hingga kini.

Ximena mengenang, saat pesawat akan jatuh, dia pindah ke bagian belakang. Dia meyakini, keputusannya inilah yang mungkin menyelamatkan hidupnya.

”Saya merasa Tuhan berkata kepada saya, ’Saya membawa Anda keluar dan kita berjuang’. Itulah yang saya rasakan. Saya harus memperjuangkan anak-anak saya dan keluarga saya untuk melihat mereka lagi,” kata Ximena kepada BBC World.

Ximena bersyukur mendapat kesempatan itu. Ibu dua anak ini sepakat dengan banyak orang yang mengatakan keselamatannya adalah sebuah keajaiban. Sementara ada sebagian orang yang mengatakan padanya, dia beruntung karena bisa menyelamatkan diri.

”Bagi saya itu bukan keberuntungan. Itu adalah kehendak Tuhan dan jelas saya merasa sedih karena kehilangan rekan kerja saya,” tuturnya lirih.

Meski selamat, Xemina tak mudah melepas trauma dari sebuah kejadian mengerikan.  Hingga sekarang wanita 28 tahun ini masih dihantui bayangan mengerikan kecelakaan itu. Bahkan membuatnya tidak bisa tidur. Karenanya dia masih menggantungkan diri pada obat-obatan demi bisa tidur nyenyak di malam hari.

”Beberapa malam saya mimpi buruk, saya melihat gambar tim sepak bola dan para penumpang. Lalu saya terbangun dan itu membuat saya tidak bisa kembali tidur. Saya coba tidak menenggak obat tidur, tapi tidak bisa, karena saya selalu terbangun di malam hari. Jadi saya harus terus meminumnya. Itulah yang terjadi, tapi saya tahu saya harus kuat menghadapi ini,” jelas Ximena ditulis dailymail.co.uk.

Semua korban selamat mengalami trauma seperti Ximena. Dia kini menganggap para korban yang selamat sebagai saudara laki-lakinya. Karena mereka merasa ’dilahirkan’ kembali pada hari yang sama di tanggal 28 November itu.

”Kami adalah sebuah keajaiban. Inilah yang membuat kami harus memberi kesaksian untuk menolong orang lain. Menurut saya, itulah salah satu tujuan kami berada di sini, kami berenam,” tutur Ximena.

Galang Dana

Bukan saja berjuang melepas trauma, untuk mengobati tangannya yang patah serta mengatasi masalah di pergelangan kaki dan lehernya, Ximena harus menjalani fisioterapi.

Ditambah lagi, berbagai sakit yang dialaminya pasca kecelakaan juga membuatnya kesulitan duduk atau berdiri dalam waktu lama.

”Saya juga sakit punggung, harus menjalani operasi hidung dan gigi karena saya kehilangan gigi depan,” jelas Ximena.

Masalahnya, perusahaan asuransi dari maskapai tempatnya bekerja hanya menanggung sebagian biaya perawatan saja. Karenanya, Januari awal tahun ini Ximena meluncurkan GoFundMe, platform untuk menggalang bantuan secara online.

Ximena yang orang tua tunggal ini mengetuk hati siapa saja yang ingin membantunya membayar biaya pengobatan. Dalam laman itu dia mengungkapkan, biaya pengobatan menjadi salah satu bagian dari cobaan berat yang dialaminya. Apalagi dia juga harus membesarkan dua buah hatinya.  

Sebenarnya orang tua Ximena siap memberi bantuan untuknya dan anak-anaknya yang masih berusia 6 tahun dan 2 tahun. Namun dia merasa perlu berbuat sesuatu untuk mengatasi masalahnya.

Namun tak seperti yang dia bayangkan, penggalangan dana itu menimbulkan beban baru. Sebabnya, setelah aksi Ximena tersebar di berbagai media sosial beberapa orang menganggapnya hanya mencari keuntungan dari musibah yang dialaminya.

”Mereka bilang lebih baik saya meninggal dan saya hanya memanfaatkan orang-orang yang berhati baik saja,” keluhnya.

Tapi tentu saja tak sedikit yang bersimpati padanya dan mengulurkan bantuan. Dalam waktu 22 hari tercatat telah terkumpul dana USD 2.900.

Terbiasa aktif dan kerja keras sebelum kecelakaan membuat Ximena kian tersiksa berada dalam kondisi tak berdaya. Dia merasa terpenjara secara fisik dan  psikologis. Apalagi harus bergantung secara finansial pada orang lain.

Xemina ingin segera sehat dan kembali bekerja. Meski ketika ditanya apakah akan kembali ’terbang’, dia tidak memberikan jawaban pasti.”Itu tergantung pada psikolog saya dan terapinya,” tandas wanita yang sudah 8 tahun menjadi pramugari.

Yang pasti, Ximena hanya ingin segera menutup bab gelap dalam kehidupannya ini dan bisa kembali beraktivitas seperti semula. ”Saya ingin keluar dari semua ini, menyelesaikan terapi saya dan mulai bekerja kembali,” pungkasnya.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dailymail, BBC