Happy Salma: Sastra Menangkal Keserakahan dan Radikalisme

Happy Salma: Sastra Menangkal Keserakahan dan Radikalisme

Happy Salma punya resep untuk mengatasi keserakahan dan radikalisme yang kini tengah dihadapi bangsa Indonesia. Yaitu melalui sastra. Bagaimana caranya?

 

Happy Salma kini menetap di Bali. Namun dia sering bolak-balik ke Jakarta untuk urusan bisnis maupun seni. Salah satunya menggelar pertunjukkan teater bertajuk Perempuan-perempuan Chairil Anwar pada 11-12 November 2017 lalu.

Berselang dua minggu, Happy kembali berada di Jakarta untuk menggelar pameran perhiasan. Ditemui di Gallery Kunstring, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, istri Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa tengah bercengkerama dengan pengunjung pameran.

Usai melayani konsumen, Happy menemui WI. Jadwalnya selama berada di Jakarta begitu padat. ”Memang sibuk sekali karena dikondisikan sebagai tempat kerja. Jadi waktu luangnya ya saat di Bali. Selama di Jakarta dipergunakan untuk semua urusan kerja, dari pagi, siang, sore hingga malam. Padat merayap deh. Tapi ini aku anggap sebagai konpensasi untuk menikmati hidup di kota kecil,” ujar Happy sambil tersenyum.

Happy mengaku kerasan tinggal di Bali. Tak ubahnya seperti saat dia masih hidup bersama kedua orang tuanya di kota kelahirannya, Sukabumi.

Karena itulah Happy bersyukur menemukan pasangan yang menetap di kota kecil, semacam Ubud di Bali. ”Aku sangat menikmati punya kampung halaman. Itu pula yang ingin aku wariskan pada anak perempuanku. Kalau bisa dia tetap bertumbuh di kota kecil,” ucap mantan model yang kini memiliki nama baru Jero Happy Salma Wanasari.

Karena di Jakarta cukup lama, mau tak mau Happy mengajak putri semata wayangnya, Tjokorda Sri Kinandari Kertayasa, 2,5 tahun. ”Bisnis suami di Jakarta, jadi biasanya jadwal aku dan dia sengaja disamakan. Sehingga ketika ke Jakarta, boyongan bareng-bareng. Kalau pun harus berpisah 1-2 hari. Misalnya aku atau dia harus lebih dulu kembali ke Bali, tak masalah. Seperti hari ini, anakku seharian bersama papanya, karena jadwalku padat banget,”  ungkap wanita kelahiran, Sukabumi, 4 Januari 1980, itu.  

Memilih Sesuai Passion

Kegiatannya yang padat itu, menurut Happy sebenarnya semua sudah terjadwal jauh-jauh hari. ”Dari setahun lalu kan sudah dijadwalkan. Seperti tahun ini aku terjun lagi ke sinetron dan film. Kebetulan aku muncul di sitkom Dunia Terbalik dan ada tiga film,” ungkapnya.

Di sitkom, Happy hanya terlibat beberapa bulan saja. Dia mau terlibat karena menyukai jalan ceritanya. Sementara tiga film yang dimainkannya, akhir tahun ini sudah selesai syuting.

”Cuma memang di akhir tahun ini jadwalnya cukup padat karena waktunya hampir bersamaan. Dari gelaran Perempuan-perempuan Chairil Anwar, pulang sebentar ke Bali, kemudian lanjut pameran perhiasan ini. Tapi setelah ini bisa santai menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga di Bali,” jelas Happy.

Happy kembali bermain sinetron dan film untuk mengobati rasa kangennya berakting di layar kaca. Tujuh tahun dia meninggalkan sinetron dan film.

Maka tahun lalu Happy mengutarakan keinginan ini kepada suami. ”Suamiku nggak masalah. Tapi pesannya jangan terlalu sibuk, jangan terlalu capek,” terangnya.

”Aku sudah bilang ke suami tahun ini mau main berapa film. Kapan harus pergi selama seminggu ke lokasi syuting. Alhamdulillah tahun ini ada tiga film yang sudah selesai, Buffalo Boys, produksi kerjasama Singapura-Indonesia. Lalu Wiro Sableng dan Dilan. Tapi memang porsinya nggak terlalu banyak. Aku minta syuting untukku nggak lebih dari seminggu atau 10 hari. Kalau kelamaan khawatir anakku bosan,” papar Happy.

Saat ini passion Happy adalah panggung teater dan berbisnis perhiasan. Sementara sinetron, film dan model yang membesarkan namanya dikesampingkan.

”Saat ini aku sudah punya anak dan harus memilih. Nggak seperti dulu waktunya mau ngapain, terserah aku. Sekarang waktunya sedikit, jadi saya harus memilih mana yang aku suka banget,” urai sutradara film Rectoverso (2012) itu.

Baca juga: Evolusi Happy Salma

Untuk mendukung passion-nya, Happy mendirikan Yayasan Titimangsa. Melalui yayasan ini dia mengalihwahanakan karya sastra ke panggung teater. Dalam setahun Titimangsa menggelar 5-6 pertunjukkan.

”Yang terakhir Perempuan-perempuan Chairil Anwar. Bisa dibilang ini pertunjukkan teater besar. Animonya alhamdulillah luar biasa, tiket sold out,” ujar Happy sambil tersenyum.

Karena animo penonton yang besar, Happy berencana menggelar roadshow pertunjukkan teater Perempuan-perempuan Chairil Anwar. Hal yang pernah dilakukan untuk pertunjukkan teater Bunga Penutup Abad yang melibatkan Reza Rahadian dan Chelsea Islan.

”Tapi belum tahu lokasinya dimana. Biasanya saya mengikuti pasar saja. Kalau memang masih banyak yang menginginkan, kita bisa bikin lagi,” terang Happy.

Hingga kini sebanyak 18  pertunjukkan teater yang telah dilahirkan Happy melalui Yayasan Titimangsa. Dimulai dari kapasitas penonton kecil dengan pementasan dirinya yang tampil.

”Sekarang pelan-pelan mengajak teman-teman aktor naik panggung. Kemudian yang dari panggung ke film. Dengan saling silang ini maka industri itu akan timbul dengan sendirinya. Kalau di luar negeri kan bisa begitu. Aku sih berpikir dari sisi aku sebagai seorang aktor,  ini bagus untuk mentalitas aku juga,” papar Happy.

Tak hanya itu, bisa menjajal panggung teater merupakan kebanggan tersendiri bagi seorang aktor. ”Karena kan ada ruang yang berbeda dari dunia keaktoran itu sendiri. Dunia keaktoran tidak hanya dunia visual. Tapi ada ruang-ruang lain,” urainya.

Harapan Happy itu mendapat respons positif. Semakin banyak aktor yang menawarkan diri untuk dilibatkan dalam pertunjukkan teater yang digelarnya.

Kekeluargaan yang Kental

Kini Happy melihat dunia teater mulai tumbuh dan menggeliat di Indonesia. Namun dia tak mau menyebut bahwa salah satu penyebabnya adalah karena keterlibatan sejumlah aktor film terkenal di dalamnya.

”Karena beberapa kali saya juga bikin pementasan dengan aktor nggak terkenal. Jadi aku berkolaborasi dengan banyak pihak, ada yang dikenal, ada yang tidak,” kata Happy.

Menurut Happy salah satu faktor yang membuat teater tumbuh adalah kemasannnya yang makin menjual. ”Tidak bisa dipungkiri, dalam dunia art kita ada bagian packaging yang harus disampaikan. Bukan berarti kita mau memperjualbelikan seni. Nggak bisa dipungkiri ketika kita ingin menyajikan sebuah bentuk kesenian, harus ada sisi komersial, kita harus bayar listrik, pulsa telepon dan lain sebagainya,” katanya.

”Sisi manajemen itu harus kuat. Nggak Cuma jadi ajang ekspresi kalau memang mau survive. Saya bersyukur sekarang pelan-pelan orang mengapresiasi dengan membeli tiket,” lanjut Happy.

Selain kepuasan, apa yang didapat dari panggung teater? Happy menyebut panggung teater sangat kental dengan suasana guyub dan kekeluargaan. Sehingga setiap orang yang berada di dalamnya selalu ingin kembali.

”Aku suka karya sastra Indonesia dan sebetulnya karya sastra milik semua orang. Aku merasakan arti pembentukan karakter juga. Aku berharap lewat panggung teater menjadi cara ampuh untuk mempopulerkan virus karya sastra. Generasi milenial yang kerap menggunakan gadget banyak yang tak bersentuhan dengan karya sastra,” lanjut Happy.

Khusus untuk Titimangsa, Happy berharap bisa terus menghidupkan seni pertunjukkan di Indonesia. ”Agar sastra Indonesia semakin dekat dengan masyarakat. Sastra bukan hanya di ruang-ruang intelektual atau diskusi-diskusi yang berat. Atau orang harus menjadi penulis, menjadi wartawan yang mengerti sastra. Tapi orang yang melek sastra itu bisa siapa saja,” harapnya.

”Karena kupikir itu yang bisa menangkal radikalisme. Itu yang bisa menangkal keserakahan dan lain-lain. Melalui seni pertunjukkan  kita belajar berempati, kisah humanis dalam kehidupan itu adanya di karya-karya sastra,” tandas Happy.

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Instagram Happy Salma

Artis, Wanita Indonesia, Teater, Bali, Sastra

Artikel Terkait

Comments