Ini Cara Happy Salma Melestarikan Sastra

Ini Cara Happy Salma Melestarikan Sastra

Rasa cintanya pada sastra membuat Happy Salma ingin melestarikannya. Apa yang dia lakukan?

 

Happy Salma mulai jatuh cinta pada dunia sastra lewat buku-buku sastra yang dipelajarinya saat di bangku SMP. Kebiasaan membaca buku karya sastra itu terus berlanjut hingga dia menjadi artis.

Waktu kosong di lokasi syuting, tidak dibuang secara percuma oleh anak keempat dari enam bersaudara  pasangan  H. Dachlan Suhendra dan Hj. Iis Rohaeni , itu.

”Dulu kalau di tempat syuting jarang ketemu teman. Nah untuk membunuh kejenuhan aku banyak baca. Aku menemukan cinta sejati pada karya sastra adalah sebetulnya dalam proses ketika banyak menunggu di lokasi syuting itu,” ungkap putri pasangan H. Dachlan dan Hj. Iis Rohani itu.

Happy pertama jatuh cinta pada sastra sejak membaca buku Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. ”Waktu itu kan wajib baca. Lalu, buku Kasih Tak Sampai, Siti Nurbaya, Katak dalam Tempurung. Saya juga suka buku-bukunya NH Dini, Pramoedya Ananta Toer,” ucap Happy.

Happy menilai banyak hal dari isi buku tersebut yang bisa disampaikan kepada masyarakat. ”Jadi aku mengemasnya dengan komunikatif dan lebih light. Tapi yang disampaikan ini ideologi-ideologi besar. Kayak tentang Chairil Anwar. Betapa berat pemikirannya, bagaimana filsafat hidup dan dirinya. Aku senang banget karena setelah itu orang jadi berbondong-bondong membeli buku Chairil Anwar. Orang-orang kembali  membaca bukunya. Dengan begitu kita ikut melestarikan kesusastraan Indonesia,” paparnya.

Baca juga: Happy Salma: Sastra Menangkal Keserakahan dan Radikalisme

Daripada melalui film, Happy memilih mengalihwahanakan buku sastra ke panggung teater lantaran dari sisi biaya lebih murah. ”Kalau ke film butuh big production, uang yang besar dan lain-lain,” terangnya.

Garansi 2 Tahun

Selain serius dengan seni pertunjukkan, sejak tahun 2007 Happy terjun ke dunia bisnis perhiasan. Bersama sahabatnya, Dewa Sri Luce Rusna, dia membangun memiliki brand shoptula.com.

Semula sahabatnya itu menjalankan bisnis perhiasan seorang diri. Tiga tahun kemudian Happy diajak bergabung untuk membesarkan bisnis tersebut.

”Kami berbagi tugas. Dia desainer, saya membuat konsep kreatifnya. Idenya dari kekayaan Indonesia. Dari motif-motif komunalnya, historikanya. Dari apa yang sudah saya kerjakan dari teater. Dijadikan satu dan terimplementasikan pada sebentuk perhiasan,” ungkap Happy.

Kini bisnis mereka yang berpusat di Bali itu memiliki sekitar 150 pegawai. ”Semua produk kita ada garansinya, 2 tahun. Ini silver di gold platet. Kita ada laboratorium sendiri. Seratus persen pengerjaannya dengan tangan,” terang Happy.

Baca juga: Evolusi Happy Salma

Untuk jangkauan pasarnya tidak terbatas di Pulau Dewata. Bahkan menurut Happy telah merambah luar negeri. ”Awalnya partnerku lebih banyak mengembangkannya ke Amerika. Terus ketika bergabung, aku katakan bahwa market yang harus digali dulu adalah Indonesia. Sekarang kita terus memperkuat pasar di Indonesia. Tapi ada beberapa yang jual sampai ke Amerika, Australia, Timur Tengah. Karena kita punya sistem online,” paparnya. *

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Instagram Happy Salma

Artis, Wanita Indonesia, Teater, Bali, Sastra

Artikel Terkait

Comments