Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional

Memanggil Nurani Memupuk Kepedulian

Memanggil Nurani Memupuk Kepedulian

Tanggal 20 Desember ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN). Harapannya terpupuk kembali semangat kepedulian dan gotong-royong di antara masyarakat Indonesia. Seperti selalu dilakukan para pegiat kemanusiaan berikut.

 

Anak-anak di Desa Tanjung Gunung Dalam, Sambas Kalimantan Barat harus berjalan 3,5 km melewati jalan setapak yang berlumpur saat hujan untuk menjangkau PAUD di desa sebelah. Kondisi serupa terjadi pula di wilayah Biak, Papua. Ini membuat banyak orang tua khawatir, lantas melarang anaknya sekolah.

Siapapun memahami, pendidikan usia dini penting untuk masa. Namun kondisi alam yang tak bersahabat bagi anak-anak membuat orang tua memilih untuk tak mengizinkan anak-anaknya bersekolah ke desa sebelah.

Untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat tersebut, Wahana Visi Indonesia menggandeng banyak pihak untuk membangun gedung PAUD dan fasilitasnya. Kali ini giliran Indra Bekti Event yang bekerjasama dengan dua mal di kawasan Jakarta Barat yang menyambutnya.

”Sebenarnya setiap tahunnya kami ada beberapa program yang harus dicarikan pendanaan. Nah salah duanya yang dipilih dalam kerjasama dengan Central Park dan Inbek Event adalah pendidikan di Biak dan Sambas ini. Kalau ditanya soal prioritas kebutuhan, ya semua membutuhkan,” ungkap Priscilla Christin, Communication Director Wahana Visi Indonesia.

Wanita yang akrab disapa Priscil ini menjelaskan, Wahana Visi Indonesia (WVI) merupakan yayasan kemanusiaan Kristen yang fokus membantu anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Wujudnya, melayani masyarakat dan anak-anak tanpa membedakan latar belakang suku, ras dan agama.

Dalam praktiknya, fokus itu diwujudkan melalui berbagai program di empat sektor, yakni kesehatan, pendidikan, perekonomian keluarga dan perlindungan anak. ”Kami berada di lebih dari 60 wilayah di Indonesia. Mulai dari Papua, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga Pulau Jawa. Di masing-masing wilayah biasanya kami melakukan pendampingan selama 10-15 tahun,” jelas Priscil.

Stop Kekerasan Pada Anak

Salah satu kampanye yang WVI galakkan hingga lima tahun ke depan adalah Stop Kekerasan Pada Anak. Selebihnya program lain tetap dijalankan.

”Selain PAUD kami juga ada program penguatan Posyandu, di Biak, Kalimantan dan  NTT. Lalu program Penguatan Forum Anak di Bengkayang dan tempat lainnya. Nah dalam menjalankan program-program itu kami terus melakukan sosialisasi. Karena sebenarnya kami ini menyalurkan kepercayaan orang-orang kepada mereka yang membutuhkan,” imbuh Priscill yang menjumpai WI dalam acara bazaar di sebuah mal di Jakarta Barat pekan lalu.

Priscil lantas membandingkan, di Jakarta yang lengkap fasilitasnya mungkin membuat orang-orang yang menetap di dalamnya tidak punya bayangan betapa tertinggalnya berbagai daerah lain. ”Kalau di kota besar mau playgroup atau TK di mana bisa milih, sementara di daerah pelosok Kalimantan, Papua, NTT dan sebagainya banyak yang tak memiliki TK. Bahkan SD juga jauh,” ungkapnya.

”Nah anak-anak kecil di sana kalau ada kakaknya bisa barengan atau barengan anak-anak satu desa. Para orang tua pasti punya rasa khawatir, sementara mereka tidak bisa mengantar karena tetap harus bekerja untuk kebutuhan makan. Akhirnya melarang anak-anak ke sekolah. Itulah banyak problem di daerah,” lanjutnya panjang lebar.

Kalau harus menunggu usia SD, masa golden age anak-anak itu terlewat. ”Makanya kalau belum bisa bikin PAUD kami membentuk kelompok-kelompok belajar anak. Supaya anak-anak yang belum SD bisa belajar di situ. Supaya bisa menyerap, sehingga saat masuk SD bisa lebih siap,” tandas Priscil.

Banyak Anak Butuh Perhatian

Dalam menjalankan berbagai program di seluruh daerah dampingan, WVI bergantung pada dana dari para donatur. Karena itulah Priscil senang ada sejumlah artis yang bergerak menggalang dana melalui kitabisa.com untuk aksi Berani Sekolah demi pembangunan PAUD di Sambas dan Biak. Sebutlah Asri Welas, Indra Bekti, Sinyorita, Indy Barends, Maria Selena, Imam Darto, Cak Lontong dan sebagainya.

Sebelumnya ada Chelsea Islan, Eva Celia, Monita Tahalea dan lainnya mendukung program Berani Mimpi untuk mewujudkan peningkatan pendidikan dan kesehatan di Wamena, Papua.

Para artis diharapkan dapat menggungah kepedulian masyarakat luas. Bahwa banyak saudara-saudara di daerah lain yang membutuhkan uluran kasih untuk keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang lebih baik. WVI juga membuka kesempatan bagi para relawan, perorangan maupun kelompok, untuk terlibat dalam aksi sosial mereka.

”Kami terus mengajak banyak orang, baik perseorangan maupun selebriti atau perusahaan, seperti mal, media dan sebagainya untuk punya kepedulian bersama. Karena kondisi anak-anak Indonesia masih banyak yang perlu diperhatikan. Di bidang kesehatan, perekonomian, pendidikan, keluarga dan perlindungan anak,” kata Priscil.

Menurut Priscil setiap wilayah kebutuhannya berbeda-beda. Di Papua misalnya, mereka mengutamakan pembangunan dan pengembangan di sektor pendidikan dan kesehatan. Sementara di NTT fokus pada bidang kesehatan, pendidikan dan perlindungan anak. Begitu pula di Kalimantan.

Dalam menentukan prioritas di atas serta daerah mana yang lebih membutuhkan, WVI bekerjasama dengan pemerintah setempat. ”Setelah masuk kita kumpulkan masyarakat untuk memetakan akar masalahnya. Selanjutnya dirumuskan pemecahannya, dari mana harus dimulai. Setelah itu setiap lima tahun kami evaluasi,” jelas Priscil.*

Teks: Arimbi Tyastuti, Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pribadi, Instagram WVI