Terharu, Natashia Nikita: Nyanyianku Bikin Penjarah Bertobat

Terharu, Natashia Nikita: Nyanyianku Bikin Penjarah Bertobat

Suatu masa sebelum era digital Natashia Nikita mendapat surat. Intinya si pengirim mengaku menjadi bagian dari penjarah dalam peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta. Penjarah itu tobat setelah mendengar lagu rohani yang dinyanyikan Nikita. 

 

Penjarah pada kerusuhan 1998 iseng memutar tape recorder yang menjadi salah satu barang jarahannya. Terdengarlah lagu Natasha Nikita yang berjudul Ada Ampun Bapa Bagimu. Seketika penjarah itu termenung, lalu memutuskan untuk mengembalikan tape recorder pada pemiliknya.

Sebenarnya penjarah itu ketakutan, bagaimana jika kemudian pemilik toko yang dia jarah melaporkannya ke polisi lalu dia dipenjara. Namun lagu Ada Ampun Bapa Bagimu memberinya keberaian untuk menanggung apapun risiko perbuatannya.

Tak dinyana, pemilik toko justru mengucapkan terima kasih dan mengampuninya. Bahkan mengajaknya berbincang, kemudian menawarinya biaya sekolah. Begitulah akhirnya si penjarah lulus dari sekolah pendeta.

Cerita di atas hanya salah satu dari banyak kisah hati yang tergerak karena lagu-lagu Niki, demikian Natashia Nikita akrab disapa. Membuat dia kian bersyukur telah memilih jalur penyanyi rohani. Jalur yang kadang membuatnya takjub sendiri ketika merenungi cara-cara ajaib Tuhan menjadikannya perantara untuk menyentuh seseorang.

Selain penjarah yang bertobat, ada banyak orang lagi yang mengubah kehidupannya setelah mendengar lagu Niki. Paling tidak merasa kuat dan berserah pada Tuhan dalam berbagai persoalan hidupnya.

”Itulah mengapa saya ingin terus menyanyikan lagu rohani hingga ompong (tua) nanti. Saya tidak pandai berkomunikasi sehingga tak mungkin berkotbah seperti pendeta. Maka saya memanfaatkan suara dan kemampuan menyanyi ini untuk menyampaikan pesan,” ungkap Niki seraya mengembangkan senyum manisnya.

Memasuki bulan Desember seperti biasa kesibukan Niki berlipat. Dia harus memenuhi undangan menyanyi di berbagai wilayah Indonesia. Baru kembali dari Papua dan Banjarmasin, Niki harus bersiap-siap lagi untuk ke Ambon.

Di sela jeda keliling Indonesia, Niki meluangkan waktu menjumpai WI. Berbincang santai di salah satu sudut mal di kawasan Kelapa Gading, dia yang gaya bicaranya lembut selembut saat menyanyi mengatakan, Papua adalah salah satu sudut negeri yang paling sering mengundangnya.

”Kalau tidak jadi penyanyi rohani, mungkin saya tidak pernah tahu sudut-sudut dalam Papua yang juga membutuhkan perhatian. Palingan hanya tahu Raja Ampat yang memang sudah menjadi lokasi wisata tersohor hehehe,” lanjut Niki tentang hal lain yang dia syukuri dari karier yang dipilihnya ini.

Tolak Lagu Anak-anak

Mengawali karier sebagai penyanyi rohani sedari kecil, barangkali Niki satu-satunya yang konsisten pada jalurnya hingga kini usianya hampir 30 tahun. Seperti dia katakan di atas, dia berharap dapat menjalaninya hingga usia senja.   

Memutar balik perjalanannya Niki mengenang, orang tuanya mulai menyadari bahwa dia punya kemampuan bernyanyi sedari kecil. Bahkan sebelum ia jelas berkata-kata.

”Dulu mami dan suster suka memutar lagu-lagu Koes Plus di rumah, sering memutar radio juga. Jadi sering ikutan humming (bersenandung, red.). Mami merasa saya sepertinya senang menyanyi, maka sekitar usia 4 tahun dimasukanlah ke sanggar. Waktu itu barengan Rio Febrian, Leoni dan Alfandi Trio Kwek Kwek, Melissa dan Oki Lukman, ada juga Judika,” ceritanya.

Suatu kali datang seorang produser yang ingin menelurkan album anak-anak. Mendengar satu per satu anak sanggar bernyanyi, si produser memutuskan memilih Nikita. Jadilah album pertamanya Anak Siapa, lagu anak-anak biasa bukan rohani. Dia pun mulai sibuk promosi ke berbagai televisi.

Di sela itu eyangnya dari Solo mengusulkan, kenapa Niki tidak dimasukkan ke jalur penyanyi rohani saja? Toh selama itu sering bernyanyi di gereja juga.

Gayung bersambut ketika Niki bernyanyi di GKI Kayu Putih Jakarta. Suaranya didengar Herlin Pirena, seorang penyanyi rohani yang lantas mengajaknya kerjasama. Dia kemudian diajak menjadi backing vokalnya untuk album Natal.

Ketika sedang rekaman, seorang produser yang mendengar suaranya meminta Niki menyanyikan satu lagu solo. Dari situlah perjalannya di lagu rohani dimulai. Menyusul dia rekaman album solo pertama yang salah satunya menyertakan lagu Di Doa Ibuku Namaku Disebut (1996). Tiada disangka lagu yang masuk terakhir kali ini justru meledak, bahkan menjadi satu-satunya lagu rohani yang masuk nominasi AMI Award di tahun 1998.

Nama Niki kian dikenal. Suatu ketika produser grup penyanyi anak-anak  menawarinya bergabung. Saat itu bersamaan dengan kemunculan album Sherina yang berbeda dengan lagu anak kebanyakan. Niki dijanjikan mendapat garapan lagu dengan kualitas musik serupa Sherina tanpa menyalahi sebagai penyanyi rohani. Temanya tentang cinta orang tua dan sebagainya.

Lily Tanjaya, ibunda Niki sempat tergiur dengan tawaran tersebut. Bahkan beberapa kali berbincang dengan si produser dan siap tanda tangan kontrak. Namun entah bagaimana ketika Niki ditanya mengenai tawaran itu dia justru bertanya balik, ”Mami kalau nanti di saat bersamaan ada permintaan nyanyi rohani dan nyanyi yang lain Mami pilih mana?”

Pertanyaan polos Niki yang masih belia menohok ibundanya, bagaimana anak sekecil itu punya pemikiran demikian? Begitu batin Lily. Dia lantas berpikir ulang dan merenung, mungkin itulah cara Tuhan memilih putrinya.    

Ketika Jenuh Melanda

Selanjutnya dengan dampingan ibunya Niki terus setia di jalur rohani. Kalaupun sekali waktu menyanyikan lagu-lagu sekuler, hanya saat mendapat undangan tampil dalam suatu pesta pernikahan.

Niki bukannya tak pernah menjajal dunia lain. Setelah mengisi original soundtrack film Buku Harian Nayla dengan lagu Seperti Yang Kau Ingini, tawaran sinetron berdatangan. Dia sempat tertantang, namun begitu menjalaninya dia merasa tidak nyaman. ”Mungkin memang bukan jalurku,” simpulnya.   

Menjadi penyanyi rohani memang tidak mendatangkan pemasukan berlebih, tapi Niki bersyukur kehidupannya berkecukupan. Maka jika sekali waktu komunitas atau gereja yang mengundangnya tak punya anggaran pun dia tetap berusaha memenuhi. Soal teknis dan kriterianya Niki mengaku tak begitu paham karena ibundanya yang mengatur.

Selebihnya Niki bersyukur dengan kariernya pula dia selalu diingatkan untuk menjaga diri. Wanita yang pernah mendalami ilmu musik di Australia ini memang tipe anak rumahan yang tidak suka neko-neko, namun pengawasan masyarakat yang seolah menuntut penyanyi rohani harus tampil dan bersikap sempurna membuatnya lebih berhati-hati dalam bersikap. 

Namun bukan berarti kehidupannya mulus-mulus saja. ”Saya seperti manusia pada umumnya yang kadang down dan menangis juga. Ada pula titik di mana saya merasa hubungan dengan Tuhan stagnan atau mengalami masa jenuh. Baca alkitab jadi seperti rutinitas saja,” katanya.

Sekali waktu Niki juga masa bertanya pada Tuhan. ”Kenapa sih saya harus mengalami kayak gini?” ujarnya menirukan pertanyaan yang pernah muncul.

Jika itu terjadi, wanita kelahiran 22 Mei 1988 ini mengobatinya dengan cara menyanyi. ”Kalau urusan menyanyi saya tak pernah jenuh. Capek ada, tapi karena senang ya enjoy terus. Apalagi dalam suasana down, sedih atau ragu, lagu-lagu itu justru menguatkan. Komunikasi dengan Tuhan terasa lebih nyampai. Akhirnya beberapa kali nyanyi sampai menangis. Mungkin orang-orang mengira, wah menghayati sekali. Ya memang selalu menghayati tapi ketika sedang mengalami sesuatu pasti turut mempengaruhi,” curhat Niki.

Niki tak gengsi mengakui kekurangannya. Sebab dia meyakini, Tuhan paham benar manusia yang diciptaka-Nya seperti apa. ”Tuhan kan sudah kasih kita otak, jadi wajar ketika otak itu berpikir kemudian dalam momen tertentu menanyakan mengapa Tuhan begini atau begitu,” tandasnya.

Ke depan Niki berharap dapat mengembangkan pelayanannya melalui dapur rekamannya sendiri. Bahkan wanita yang siap menikah tahun depan ini juga mulai menulis lagu. Mimpi lain dia ingin kelak dapat mendirikan yayasan sosial untuk melebarkan pelayanannya. ”Semoga terwujud,” harapnya.

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok Pribadi

Natal, Lagu Rohani, Kristiani, Nikita

Fokus Berita Lainnya

Chocolate Wreath
Chocolate Wreath

24 December 2017

Christmas Table Setting
Christmas Table Setting

24 December 2017

Choco Christmas Tree
Choco Christmas Tree

24 December 2017

Italian Macaron
Italian Macaron

23 December 2017

Red Velvet Cookies
Red Velvet Cookies

23 December 2017

Artikel Terkait

Comments