Tita Djumaryo: Menebar Seni, Menuai Toleransi

Tita Djumaryo: Menebar Seni, Menuai Toleransi

Tita Djumaryo mendirikan studio seni salah satunya untuk mendukung anaknya yang mengalami keterlambatan bicara. Namun berkembang tak hanya tentang seni tetapi juga tentang pendidikan karakter.

 

Usai merayakan ulang tahun kedelapan putra bungsunya, Ralanggana Djumaryo Leswara pada Senin, 18 Desember 2017, Tita Djumaryo mengiringi langkah ke sebuah ruangan yang dipenuhi karya seni rupa. Ada gambar burung dengan aneka warna, langit malam dengan kerlip bintang, hingga berbagai binatang yang dibentuk dari tanah liat. Semua adalah  hasil karya peserta yang mengikuti kelasnya.

Berbincang santai di salah satu sudut ruang wanita 37 tahun ini mengatakan dunia seni sudah mengalir dalam darahnya sejak balita. Tita ingat, saat usianya masih empat tahun, mendiang ayahnya yang pelukis dan fotografer sudah mengarahkannya agar menjadi pelukis.

”Aku dulu sering diajak bapak lihat pameran. Dari SMP sudah diajarkan bikin portofolio,” kenang anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Djumaryo Imam Muhni dan Irmawaty Djumaryo ini.

Sejak sebelum lulus kuliah, pemilik nama lengkap Saraswati Djumaryo ini sudah sering ikut pameran lukisan di dalam dan luar negeri. Setelah menikah, ia sempet berhenti karena kehamilannya bermasalah. Tita harus banyak istirahat.

Begitu anaknya lahir dan mulai masuk usia prasekolah, dunia seni kembali memanggilnya. Bedanya, kali itu Tita diminta menjadi pengajar.

”Ketika mau daftarkan anak preschool malah diajak jadi guru. Kebetulan sekolah sedang mencari guru seni dan pihak sekolah tahu pekerjaan saya seniman,” cerita istri Ranald Indra ini.

Inspirasi Anak-anak

Selama beberapa tahun menjadi guru, ibunda Gadra Djumaryo Leswara, 10 tahun, Nalagra Djumaryo Leswara, 8 tahun dan Ralanggana Djumaryo Leswara, 5 tahun ini kemudian berpikir untuk membuat sebuah wadah berbagai kegiatan seni rupa. Bukan hanya painting atau art and craft.

Berbekal pengalamannya sebagai pelukis dan pendidik, Tita mendirikan Ganara Art Studio bersama suaminya. Ada beberapa tingkatan kelas yang bisa diikuti anak usia 1,5 sampai 8 tahun.

Ada pula  Ganara Art Space yang disediakan bagi anak usia 7 tahun sampai dewasa. Beberapa kelas pilihannya antara lain oil painting class, pottery class, watercolor painting dan lainnya. Sampai saat ini, Tita sudah membuka Ganara di lima tempat, termasuk Jakarta dan Bali.

Lulusan Seni Lukis Institut Teknologi Bandung ini awalnya mendirikan sekolah seni sejak Juni 2013 itu untuk memberi aktivitas anak-anaknya. Ketika itu Tita dan suami merancang kegiatan yang menumbuhkan kreativitas.

”Akhirnya kami bikin Ganara yang diambil dari gabungan nama anak-anak. Kami giring mereka belajar tapi nggak tahu kalau yang mereka lakukan itu sebenarnya belajar. Tahunya bermain dan menggambar, padahal dengan melukis mereka jadi belajar pencampuran warna,” jelas Tita.

Kegelisahan lain yang mengusik Tita dan suami adalah keterlambatan bicara pada putra bungsu mereka. Pada usia 3,5 tahun, Ralanggana belum juga dapat mengucap kata yang bisa dipahami.

Seorang terapis menyarankan agar selain terapi, Relanggana juga diberi banyak kegiatan sensoris atau yang berkaitan dengan panca indranya.

”Akhirnya kami merancang kelas yang ada sensory dan art-nya. Namanya Early Art Sensory, ditujukan untuk anak-anak usia 1,5 sampai 3 tahun. Harapannya kelas ini bisa membantu anak-anak yang punya persoalan serupa. Tadinya yang ikut cuma dua anak, lama-lama banyak,” urai Tita.

Tita mencontohkan pelatihan yang diberikan ke anak-anak di kelas itu bermain dengan jeli. Kegiatan ini membuat anak-anak belajar mengenal tekstur jeli yang dingin dan  lengket. Indra penglihatan mereka pun terlatih saat jeli dicampur cat aneka warna.

Menurut Tita, seni penting untuk anak-anak sebagai modal mereka berpikir kreatif, terbuka dan kritis. Belajar seni juga membuat anak belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Kelebihan lain, melatih mereka berempati terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Langit Tidak Harus Biru

Setahun setelah mendirikan Ganara Art Studio, Tita membuat sebuah gerakan untuk menyebarkan manfaat seni, khususnya kepada anak. Namanya Mari Berbagi Seni.

Sejak menjalankan gerakan ini pada 2014 Tita mengamati sekeliling. Salah satunya melihat panti asuhan atau komunitas anak jalanan. Jika ada pihak yang menyampaikan bantuan, biasanya berupa uang, buku, sandang pangan atau papan.

”Belum ada yang menyumbang dalam bentuk kegiatan kreatif. Kami ingin semua anak bisa mendapatkan pengalaman kreatif yang sama. Kalau Ganara harganya kan middle up. Biar semua anak dapat pengalaman juga, kami ciptakan Mari Berbagi Seni,” jelasnya.

Minggu lalu, Tita baru saja kembali dari Yogyakarta setelah lima hari di Kota Pelajar itu. Kemendikbud memintanya memberi pelatihan berpikir kreatif melalui seni kepada 150 guru seni budaya. Para guru ini datang dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan Lampung. 

”Kami kombinasikan acaranya. Mereka bikin karya seni tapi kegiatannya lebih atraktif. Aku juga kasih mereka tas polos dan mereka harus berpasangan dengan guru dari daerah lain, bikin motif khas daerah masing-masing. Tantangannya, bagaimana supaya nyambung. Jadi mereka saling menghormati budaya masing-masing daerah,” urai Tita.

Tita mengawali Mari Berbagi Seni di Kandang Jurang Doank. Mulanya dengan  memberi pelatihan seni kepada 150 anak dari sebuah panti asuhan yang dibawa sekelompok mahasiswa psikologi. Dari situ, gerakan ini terus bergulir.

”Ramadan 2014 kami diajak bekerja sama sebuah yayasan lalu keliling lima panti asuhan di Jakarta. Tahun ini temanya menghormati perbedaan dengan iman dan takwa. Kami ajak mereka menggambarkan ragam hias dari seluruh Nusantara. Kami merasa pelatihan itu bisa diaplikasikan ke berbagai hal,” papar Tita.

Dari yang awalnya mentargetkan lima ribu anak, ajakan Mari Berbagi Seni semakin meluas.

Sampai saat ini, Tita dan para relawan sudah berbagi seni ke hampir 10.500 anak dan guru. Selain di Jabodetabek, anak-anak dan guru di daerah pelosok Indonesia juga pernah disambanginya. Sebutlah Serang, Ambon, Banda Neira, Saparua, Kepulauan Kei Barat, Pulau Hatta dan Makassar.

Berbagai pengalaman menarik pernah dirasakannya saat memberi pelatihan seni. Tita mencontohkan para guru yang sangat bersemangat dan keesokan harinya sudah mengubah cara mengajarnya seperti yang didapat di pelatihan.

”Guru-gurunya jadi lebih terbuka. Salah satunya kami ajari belajar warna menggunakan pasir yang dicampur pewarna makanan alami. Selebihnya menggunakan bahan-bahan di sekitar mereka yang gampang ditemui. Mereka juga diajari cara menangani anak-anak,” imbuhnya.

Menyenangkan, karya anak-anak menjadi lebih berwarna. ”Tidak lagi langit harus biru atau matahari berwarna kuning,” papar Tita.

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Arimbi dan Dok. Pribadi

Wanita Indonesia, Inspiratif, Wanita, Sosial, Seni, Terapi

Artikel Terkait

Comments