Tita Djumaryo: Seni Mencegah Perpecahan

Tita Djumaryo: Seni Mencegah Perpecahan

Seni yang dikembangkan Tita Djumaryo awalnya sebagai bagian terapi untuk anaknya. Pada perkembangannya mampu menyatukan perbedaan dan mencegah perpecahan.

 

Manfaat Mari Berbagi Seni dirasakan anak-anak jalanan di wilayah Kota Tua. Yayasan Sahabat Anak yang peduli pada anak-anak marginal pernah bekerja sama dengan Rumah Belajar Senen yang didirikan para mahasiswa untuk anak-anak di sekitar Stasiun Senen. Pernah juga Tita Djumaryo membawa Mari Berbagi Seni ke Iftar Budaya di Masjid Istiqlal.

”Kami diminta mereka kasih pelatihan seni untuk anak-anak madrasah di Istiqlal. Mereka pintar-pintar banget lho, motif yang dibuat juga lucu-lucu. Menurut kami, orang Indonesia itu kreatif,” ungkapnya.

Menurut Tita, kepekaan dan keterbukaan dengan keberagaman di sekitar perlu diasah. ”Cara melatihnya lewat seni dan budaya,” tandas Tita.

Pelatihan kreatif ini juga diselenggarakan bagi anak-anak pasien kanker di RSCM dan RS Fatmawati. Tak hanya itu, anak berkebutuhan khusus yang mengalami celebral palsy dan para lansia di panti jompo juga ikut merasakan pelatihan kreatif ini.

Bagi Tita, suasana panti asuhan atau berbagai kondisi sosial yang terjadi di sekelilingnya tak asing lagi. Sejak kecil ia telah menghadapinya.

”Aku bisa kayak gini karena dari umur dua tahun sampai SD, setiap ulang tahun dibawanya ke panti asuhan sama bapak. Waktu mau masuk ITB juga nazarnya kalau diterima mau ngajar gambar di panti asuhan,” ungkap kakak Giring Nidji ini.

Terbuka dan Kritis

Menurut Tita, dunia seni pula yang membuatnya bisa seperti saat ini. Menurutnya, salah persepsi jika masih ada yang berpikir, seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dari seni.

”Ada yang berpikir, kalau jadi seniman gimana bisa cari uangnya? Itu stigma yang sulit di hapuskan. Tapi, terbukti saya dan suami dari seni, bapakku juga bisa menghidupi keluarga dari seni,” tuturnya.

Darah seni dalam diri Tita dan suami juga menurun pada anak-anak mereka. Buktinya karya mereka bernilai artistik.

Tita menyemangati para orang tua lain untuk turut memicu kreativitas anak. Namun yang harus diingat para orang tua dan anak, seni itu budaya, kendaraan untuk bisa berpikir kreatif, terbuka dan kritis.

Tita dan suami juga melibatkan anak-anak mereka dalam berbagai kegiatan. Misalnya saat berbagi seni ke anak-anak tunanetra.

”Kami mengajarkan seni tiga dimensi menggunakan clay. Anakku ikut mengajarkan, dia bisikkan ke temannya kalau bentuk bulat itu seperti apa,” jelasnya.

Berbagai kesibukan yang dijalani Tita setiap hari memang hampir membuatnya tak memiliki waktu luang. Kalaupun ada waktu senggang, dia masih pilih kegiatan yang tak jauh dari dunia seni rupa.

”Saya masih suka melukis dengan teman-teman sambil ngopi, masih berhubungan dengan seni juga sih cuma lebih rileks mengerjakannya,” tambahnya.

Lantas, apalagi harapan Tita yang belum terwujud? “Pengin belajar di luar negeri seperti kursus singkat atau pelatihan beberapa minggu. Tapi sepertinya belum memungkinkan karena anak-anak masih kecil, belum bisa ditinggal lama-lama. Kemarin aja di Jogja lima hari ditelepon mulu kapan pulang, hehehe,” curhat Tita.

Menyatukan Perbedaan

Memasuki 2018, Tita menargetkan kegiatan Mari Berbagai Seni dapat menyentuh para guru seni SMA dan siswa SMA.

Baca juga: Tita Djumaryo: Menebar Seni, Menuai Toleransi

Isu sara yang berkembang belakangan ini ditambah maraknya berita palsu yang beredar di dunia maya turut menjadi perhatian Tita. Dia sangat khawatir, terutama terhadap para remaja.

Karenanya, Tita berharap dapat mengajar guru-guru seni budaya SMA supaya menularkan ke para siswanya. Tujuannya para siswa menjadi lebih kritis melalui seni.

”Kami merasa guru-guru seni budaya bisa jadi agen perubahan. Kalau lihat Indonesia saat ini, dua tahun lalu belum seperti saat ini. Tapi sekarang banyak yang terbelah-belah dan terkotak-kotak,” Tita prihatin.

Namun Tita masih punya harapan. Apalagi dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran Seni Budaya yang ia temui saat pelatihan di Yogyakarta terlihat semangat para guru untuk membawa kegiatan ini ke daerah masing-masing. Ia juga punya semangat serupa menyambut permintaan para guru untuk datang ke daerah mereka.

”Tapi Kami butuh bantuan guru-guru untuk mengurus izin kegiatan ini di tempat mereka. Nah, dari kami nanti bantu cari dana dari beberapa pihak yang bisa bantu membiayai kegiatan ini,” jelas Tita.  

Sebagai agen perubahan, pelajaran seni yang dibawa para guru itu menurut Tita selalu bersinggungan dengan hal berbeda dari budaya yang diajarkan di daerah mereka. Misalnya, meskipun mereka di Lampung belajar tari, tapi tidak mempelajari tari Lampung saja, melainkan belajar seni dari daerah lain juga. Dari situ, para siswa juga turut mengenal kebudayaan dari daerah lain.

”Guru-guru seni budaya pikirannya sangat terbuka. Mereka bisa jadi agen perubahan, mereka bisa mengajarkan anak-anak SMA lebih open minded dan kritis. Sehingga tidak menelan mentah-mentah berita yang beredar atau ikut menyebarkan hoax,” pungkas Tita.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Arimbi dan Dok. Pribadi