Ketika Bank Menyambut Tuntutan Milenial

Ketika Bank Menyambut Tuntutan Milenial

Ini eranya teknologi digital. Bukan hanya kebiasaan membaca yang beralih, segala transaksi keuangan pun berganti. Jika tak mau ketinggalan, lembaga perbankan pun harus berubah.  ”Ke depan kita mengalami yang namanya disruption (gangguan) dalam bisnis perbankan. Masa cash sudah tidak berlaku lagi,” ungkap Glen Glenardi, Direktur  utama Bank Bukopin dalam acara Rapat Kerja Anggaran 2018, Jumat, 15 Desember 2017 di IPC Corporate University Ciawi, Jawa Barat.

Disruption atau gangguan yang dimaksud Glen adalah masuknya era digital di semua lini kehidupan masyarakat. Memang dunia digital identik dengan generasi milenial yang oleh beberapa pakar didefinisikan sebagai generasi yang lahir tahun 1985-1994. Namun tentunya semua pihak, apalagi di bidang bisnis harus menyesuaikan diri. ”Karena pasar kita ke depan adalah milenial, anak-anak muda yang tidak lagi suka cash. Mereka generasi yang serba digital,” sambung Glen. Glen mencontohkan dirinya. Jika dulu terbiasa bawa cash, seiring waktu beralih ke kartu. Sekarang dia harus menyesuaikan diri lagi untuk berganti dengan ponsel pintar dalam melakukan
segala transaksi.

”Karena memang sudah tuntutan zaman, sekarang kita harus bermain digital. Kenapa? karena ke depan semakin berat,” katanya mengingatkan. Oleh sebab itu, Bank Bukopin pun harus mulai bertransisi ke digital. Jika selama ini pelayanan digital masih sebatas layanan bank ke customer, ke depan semua pihak harus siap melayani customer digital. ”Intinya End to End semuanya menggunakan digital,” tandas Glen. Jadi Top of Mind Sebagai penanda migrasi ke digital, di sela rapat kerja bersama seluruh direksi, komisaris,
pimpinan cabang hingga para general manager, Glen meluncurkan aplikasi digital Bank Bukopin dengan nama Wokee. Menyasar masyarakat urban yang akrab dengan perkembangan teknologi. ”Apa keunggulan produk ini? Semua transaksi bisa! Di sini Anda bisa buka rekening tanpa harus datang ke bank, melakukan pembayaran, belanja dan juga split tabungan, baik bunga maupun pokoknya. Ini adalah tabungan pertama kali paling komplit!” serunya disambut tepuk tangan seluruh karyawan. 

Dengan investasi Rp 300 miliar sejak 2015, Glen menargetkan produk baru ini akan mendatangkan minimal 400 ribu customer baru pada tahun 2018. ”Saya yakin bisa tercapai. Bisa, kan?” tanya Glen yang kemudian dijawab serentak dengan nada yakin, ”Bisa!” oleh seluruh jajaran Bank Bukopin. Meski mendadak karena seharusnya produk ini direncanakan diluncurkan pada awal tahun 2018, Glen mengajak seluruh jajarannya untuk menyukseskan Wokee. ”Dengan ini kita akan meningkatkan tabungan dan casa,” ajaknya.

Glen berharap produk ini menjadi top of mind bagi masyarakat yang akrab dengan teknologi dalam bertransaksi. ”Harapan berikutnya Wokee menjadi lifestyle bagi para generasi milenial. Bagi mereka yang senang belanja, makan dan traveling, Wokee bisa menjadi andalan ketika bertransaksi. Mereka adalah salah satu sasaran utama untuk menggunakan Wokee, karena mereka sangat adaptif dan haus dengan teknologi terbaru,” pungkas Glen. 

Mendukung Indonesia Jadi Energi Digital Asia
Bank Bukopin sangat serius dalam bermigrasi ke dunia digital. Sebelum meluncurkan Wokee, bank yang eksis sejak 1970 ini telah mengembangkan inkubasi digital BNVLabs. Program BNVLabs diharapkan dapat mendorong pertumbuhan startup fintech di Indonesia. Ini merupakan langkah nyata Bank Bukopin yang sejak awal tahun 2017 menyatakan dukungannya pada mimpi besar pemerintah menjadikan negeri ini The Digital Energy Of Asia pada tahun 2020. Salah satu strateginya mencanangkan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

”Kenapa kami mendukung startup? Sebab dunia tengah berubah dan kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Misalnya saja pembayaran dan transaksi melalui pulsa dan sebagainya,” ungkap Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin ketika itu. Hingga saat ini tercatat lebih dari delapan startup telah menjalin kerjasama dengan
BNVLabs.

”Kami siap membuka sistem perbankan Bank Bukopin untuk dimanfaatkan oleh para start-up. Misalnya dalam sistem payment gateway, core banking system, hingga credit scoring,” jelas Adhi Brahmantya, Direktur TI & Pengembangan Bisnis Bank Bukopin beberapa waktu lalu.

 

Teks: Kristina Rahayu Lestari

Foto: Zulham

Bukopin

Artikel Terkait

Comments