Hati-hati Ketika Si Kecil Mulai Ngemil Berlebihan!

Hati-hati Ketika Si Kecil Mulai Ngemil Berlebihan!

Kebanyakan dari Anda tentu suka ngemil ya. Cemilan memang merupakan hal yang terkadang kita butuhkan untuk mengisi kekosongan perut saat jam makan masih lama. Namun bagaimana jika kebiasaan ngemil berlebihan terjadi pada si kecil?

Anak, menurut psikolog klinis Tara De Thouars, merupakan modelling dari orang tuanya dalam segala hal. Termasuk dalam hal pola makan. Orang tua dan lingkungan sekitarnya lah yang akan mempengaruhinya.

Jika anak Anda termasuk anak yang suka ngemil berlebihan, maka sebaiknya Anda tengok diri Anda dahulu, apakah Anda juga hobi ngemil atau tidak? Apakah Anda termasuk orang tua yang sebentar-sebentar memberikan cemilan pada anak saat anak rewel?


Tidak Menggantikan Makan

Jika masih dalam batas wajar, ngemil sebenarnya bukan hal yang buruk juga untuk si kecil. Karena biasanya anak lebih membutuhkan banyak kalori, terutama pada anak tipe aktif. Namun jika sudah berlebihan, tentunya tidak baik, karena anak akan berpotensi mengalami obesitas. Apalagi hingga sampai menjadi pengganti makan, menurut Tarra, akan membuat anak menjadi tidak kenal dengan rasa makanan lain, yang akan tertanam di otaknya adalah rasa-rasa enak dan gurih dari cemilan yang biasa dimakannya. Akibatnya, anak bisa jadi kekurangan nutrisi yang ia butuhkan untuk perkembangannya.

“Sebetulnya jangan dibalik ya, snack jadi makanan utama, dan makanan utama jadi snack,” tutur Tara dalam acara Snack Talk bersama Mondelez Indonesia.

Lebih lanjut menurut Tara, orang tua harus menerapkan pola makan yang disiplin. Sejak anak masih usia dini, sudah harus menerapkan untuk mengonsumsi tiga kali makan utama.

“Baru kalau di luar itu anak minta cemilan, ya tidak apa-apa. Asal jangan jika anak tidak mau makan, lalu orang tua memberikan snack dalam jumlah banyak agar anak kenyang,” jelasnya.

Hal ini untuk menyiasati anak menjadi terbiasa mengonsumsi makanan yang gurih dan enak-enak terus. Hal ini bisa membuat anak lebih memilih sesuatu yang lebih enak. Karena dari segi otak, anak belum bisa mempertimbangkan mana yang yang baik dan benar.

“Kalau anak perilakunya itu lebih didasarkan pada apa yang ia suka dan tidak suka. Ya kalau diberikan yang dia suka, nanti dia jadi mau yang dia suka terus. Jadi memang harus dari orang tuanya yang mengarahkan dahulu, sampai nanti pada waktunya dia bisa menentukan sendiri apa yang baik dan tidak baik untuk dirinya,” jelasnya lebih lanjut.