Agar Berdaya Saing, TKI Harus Mahir Berbahasa Inggris

 Agar Berdaya Saing, TKI Harus Mahir Berbahasa Inggris

Dari penelitian Pusat Studi ASEAN menyebutkan kualitas tenaga kerja Indonesia masih kurang memadai, terutama kompetensi bahasa inggris. Bahkan tingkat kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih di bawah Malaysia dan India yang berada di level tinggi, lalu diikuti oleh Korea Selatan, Vietnam, Jepang dan Taiwan.

 

Berangkat dari kenyataan diatas, kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) terus meningkatkan komitmen di bidang kualitas  tenaga kerja Indonesia salah satunya adalah dalam kemampuan Bahasa Inggris.

“Dari bidang hospitality kita tidak kalah. Kita unggul dari negara lain. Tapi kemampuan berbahasa ini yang membuat kita kurang bisa bersaing dengan tenaga kerja lain,” ungkap Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Bambang Satrio Lelono, baru-baru ini di Jakarta. Sehingga untuk mengoptimalkan kompetensi yang, menurut Bambang,  tenaga kerja Indonesia harus dibekali dengan kemampuan bahasa inggris.

Sebagai salah satu langkah awal, Kemenaker  telah melakukan penanda tangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan salah satu pusat pembelajaran Bahasa Inggris, Wall Street English (WSE) untuk memberi pelatihan kemampuan bahasa inggris b bagi [ara buruh migrant Indonesia. Sejak tahun 2017 lalu, WSE  sudah mengunjungi beberapa balai latihan kerja Kemnaker dan menentukan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bandung sebagai pilot project.

“Kita telah melakukan  uji coba kerja sejak taun 2017 lalu,” jelas Bambang.

 

Sempurnakan Metode Pembelajaran

Bambang mengakui bahwa salah satu kelemahan di masyarakat kita  adalah tidak menganggap penting kemampuan berbahasa asing. Untuk itu dia menghimbau agar sistem pendidikan bahasa inggris perlu  diperbaharui.

“Buatlah sebuah   metode pembelajaran  bahasa apapun  adalah hal yang menyenangkan. Seperti konsep pendidikan dasar  kita adalah taman siswa. Dimana pendidikan itu seperti taman bermain. Sehingga kita itu bukannya merasa  terkungkung ,kaku dan sebagainya. Kan begitu konsep pendidikan kita di awal yan dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Ini yang perlu dilakukan kementrian pendidikan, yaitu menyempurnakan metode pembelajaran,” paparnya. Harapan yang sama juga ditujukan Bambang pada pihak WSE agar  menerapkan metode pembelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan.

“Dengan begitu para peserta  memiliki ketertarikan yang tinggi dan  mudah menyerap materi pembelajaran,” paparnya, lagi.

Sementara itu, International CEO Wall Street English David Kedwards  mengatakan bahwa materi pembelajaran yang diberikan pihaknya telah menyesuaikan dengan BLK Bandung. “Kontennya lebih customize. Metode yang kami gunakan adalah dengan mengombinasikan budaya Indonesia dengan materi yang kita berikan, sehingga akan mudah diterima," ucap David. 

David sendiri yakin program belajar bahasa inggris untuk buruh migrant Indonesia akan meningkatkan kualitas mereka di dunia kerja.  

David menilai, sebenarnya  saat ini kepercayaan diri orang Indonesia dalam menggunakan bahasa inggris sudah cukup baik. “Sudah cukup bagus. Tapi di bagian menulis yang agak sulit. Sehingga kita dorong untuk bisa menulis imel dan surat,” urai David .

Setelah menjalin kerjasama dengan BLK Kemenaker Bandung, ke depan juga akan  ada kerjasama lain dengan sejumlah BLK di Indonesia. Yang terdekat antara lain Serang, Bekasi dan Tangerang.

“Kita bukan saja melatih tenaga kerjanya, tapi sekaligus  pelatihnya. Sehingga mereka nanti juga memiliki kemampuan mengajar,” ujar David.

 

 

Foto: pixabay