Adi Pramudyo: Mantan Pedagang Piscok Yang Kini Jadi Petani Kaya

Adi  Pramudyo:   Mantan Pedagang Piscok Yang Kini Jadi Petani Kaya

Di saat anak muda seusianya tengah sibuk mengejar karier di gedung-gedung perkantoran nan elit, Adi Pramudyo, lulusan teknik industri Universitas Gunadharma ini justru memilih menjadi petani. Pilihannya ternyata tidak salah, karena kini dia telah menjelma sebagai petani sukses dengan omzet milyaran per bulan!

Di balik musibah pasti ada hikmahnya. Sebagai manusia Adi Pramudyo juga pernah mengalami hal tersulit dalam hidupnya. Bagaimana tidak, di saat harus melanjutkan kuliah di kampus favoritnya, tiba-tiba toko kelontong milik orang tuanya yang sekaligus menjadi pegangan hidup keluarga, hangus dilalap api.

Seketika Adi terpaksa melupakan beasiswa dari STT Telkom, Bandung yang saat itu ada dalam genggamannya.

“Ketika  toko kelontong ibu terbakar, saya langsung memutuskan tidak mengambil  bea siswa tersebut. Karena saya pikir nggak mau merepotkan orang tua. Kuliah kan nggak sekedar bayar uang kuliah. Tapi ada  biaya lain, untuk makan , kost dll. Dari situ saya minta ijin pada ayah dan ibu untuk berangkat ke Jakarta. Saya mau kerja dulu, setelah itu baru melanjutkan kuliah,” kenang Adi.

Sesampainya di ibukota, dengan modal  pinjaman dari kakaknya yang tinggal di Jakarta, Adi memulai usaha pisang coklat. Dengan menggunakan gerobak, dia mangkal di pinggir SPBU di kawasan Tanjung Barat.

Dari keuntungan berjualan pisang coklat, bersyukur Adi dapat mendaftarkan diri masuk kuliah di Universitas Gunadharma.

Semula usaha Adi berjalan lancar. Ketika masa perkuliahan dimulai, Adi memperkerjakan satu karyawan untuk menggantikan dirinya berjualan. Namun  usahanya tidak berlangsung lama, lantaran gerobaknya terjaring oleh petugas satpol PP. “Begitu terjaring satpol PP, eh karyawan saya memilih berhenti juga karena dia mau buka usaha yang sama di kampung halamannya.  Ya sudah, akhirnya saya mulai cari-cari kerja part time untuk biaya kuliah,” tutur Adi, mengenang.

 

Pahlawan Pangan

Setelah usaha piscoknya bangkrut, secara tak sengaja Adi berkunjung ke salah satu kenalannya yang berprofesi sebagai petani di kawasan Jonggol , Jawa Barat. Di sana Adi melihat begitu banyak lahan pertanian yang tidak terurus. Pada saat itu tercetus ide olehnya untuk menanam sesuatu di lahan tersebut. Lantas Adi pun memberanikan diri menyewa lahan seluas 1 ha dari salah satu petani yang dikenalkan sang teman.

“Waktu itu sewa lahan satu hektar harganya masih murah banget. Rp. 1,5 juta/ tahun. Kemudian saya mulai menanam singkong diatasnya.Modalnya dari hasil tabungan saya kerja part time,” ujar pria kelahiran April, 1992. Di awal memulai  usaha, karena tidak memiliki pengetahuan tentang bercocok tanam, Adi memanfaatkan petani setempat untuk menanami lahan yang disewanya. Namun disamping itu Adi juga rajin melahap jurnal-jurnal pertanian yang dibaca lewat internet.

“Jadi saya combine dengan pengetahuan yang saya dapat dari jurnal. Adakalanya apa yang selama ini diterapkan petani itu sangat tradisional sekali. Lalu saya ajarkan bagaimana menanam yang efisien,” lanjut Adi. Namun beberapa kali menghadapi panen singkong, Adi mulai berpikir bahwa bernanam singkong tidak terlalu memberi keuntungan. Lantas, Adi mencoba putar haluan dengan menanam lengkuas. Rupanya feeling bisnis Adi kali ini tidak salah. Sebab  dari segi hasil panen lengkuas ternyata lebih menggiurkan.

“Singkong harganya murah. Waktu tanamnya lama. Sementara lengkuas harganya lebih bagus. Belum lagi tonasinya juga  tinggi. Kalau  kita tanam singkong , kita nggak tahu berapa banyak  buah yang ada satu pohon itu. Kalau lengkuas sudah bisa diprediksi.  Selain itu singkong per hektar, kapasitas  12-15 ton. Sementara lengkuas bisa mencapai 30 ton. Kita kali seribu rupiah saja sudah terbayang berapa keuntungannya,” urai Adi, bersemangat.

Usaha pertanian Adi tidak saja melayani permintaan pasar lokal saja. Kini dia juga harus memenuhi kebutuhan tanaman rempah dari sejumlah negara, mulai dari Asia hingga Eropa. “Alhamdulillah permintaan lengkuas cukup besar.  Karena saya sudah bekerja sama dengan salah satu buyer di Hongkong, Taiwan. Untuk permintaan dari luar, kita  ekspor dalam bentuk simplisia  atau rajang kering. Sampai disana mereka olah menjadi obat-obatan dan kuliner,” ucapnya, bangga.

Seperti apa keseruan menjadi petani? Adi mengatakan bahwa niatnya menjadi petani bukan semata-mata mengejar profit. “Menurut saya profesi sebagai petani itu selain  mengejar profit,  bertani itu juga ibadah. Dengan kita menanam dan tanaman kita dimakan orang . itu seperti amal jariah. Jadi kalau dimakan jadi sel, jadi darah. Itu amal jariah buat saya. Insya Allah,” ucapnya, bijak.

Berbekal pandangan tersebut, Adi kini juga mengembangkan budidaya tanaman tanaman jahe dan kencur. Untuk memenuhi permintaan pasar, Adi menanam aneka tanaman rempah itu diatas tanah seluas 27 hektar. Adi mengaku sampai kini masih menyewa  tanah kepada masyarakat setempat. “Dari 27 hektar,  yang resmi milik saya pribadi hanya 7 hektar. Sisanya punya orang. hehehe,” katanya, lagi.

Belum lama ini Adi hadir menjadi salah satu pembicara di acara talkshow Go-Young Farmers yang merupakan bagian dari perhelatan The Jakarta Food Security Summit 2018 yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Di tengah-tengah peserta talkshow yang didominasi siswa SMA, Adi  bercerita tentang kisah suksesnya menjadi petani dengan omzet  besar.

Belakangan  pria yang dinobatkan sebagai Petani Muda Terbaik 2016  itu melakukan ekspansi bisnis sebagai peternak ayam broiler. Motivasi Adi menjadi peternak ayam karena kebutuhan pasar terhadap ayam masih sangat besar. “Kebutuhan ayam di Jakarta dalam sehari itu mencapai 1,2 juta ekor. Saat ini saya dan teman-teman baru punya 50 ribu kandang. Jadi itupun belum bisa memenuhi dari jumlah yang dibutuhkan. Untuk ayam sendiri waktu panennya juga nggak terlalu lama.  Ayam itu mulai dari kecil hingga besar Cuma butuh waktu 35 hari. Untuk omzet bisa 9 milyaran per bulannya,” lanjut  lulusan S2 psikologi industri, Universitas Gunadharma, ini.

Dengan keberhasilan yang diraihnya,  ke depan Adi berharap semakin banyak anak-anak muda yang mau mengikuti jejaknya  terjun sebagai petani. “Pertama jangan malu menjadi petani. Jangan malu berkecimpung di bidang agrobisnis Karena bidang ini adalah jantung dari sebuah negara. Kita bisa jadi seorang pahlawan bukan dengan berperang, melawan penjajah. Tapi kita menjadi pahlawan pangan untuk negeri kita sendiri,” pungkas Adi.

 

 

Foto: instagram @adipramudyo