Kelly Tandiono: Modeling Bukan Dunia Gemerlap

Kelly Tandiono: Modeling Bukan Dunia Gemerlap

Kelly Tandiono

Sejak debut film pertamanya Loe Gue End di tahun 2012, model dan aktris Kelly Tandiono mulai jatuh cinta terhadap dunia acting.

Senang menantang diri untuk melakukan sesuatu yang baru merupakan bagian dalam diri Kelly. Meski dunia akting dengan modeling merupakan dunia yang berbeda, wanita kelahiran Singapura, 28 Oktober 1986 ini berupaya memberikan karya terbaik ketika mendapat kesempatan berakting di layar lebar.

“Bedanya acting dengan modelling, kita nggak boleh sadar kamera. Kalau di modelling ada kamera dikit, langsung pose. Di acting, nggak boleh tuh. Adaptasi disitunya memang agak susah sih. Tapi bagi saya akting itu lebih challenging aja,” ungkap wanita dengan tinggi 1,76 meter ini.

Sebelum berkarier di tanah air, Kelly merupakan model internasional sejak bergabung dengan Next Model Management di Los Angeles. Kelly mengenang , pertama kali berkenalan dengan dunia acting lewat sutradara Timo. “Pertama kali ditawarin oleh Mas Timo (Tjahjanto), mau nggak shoot movie? Iya tapi aku nggak bisa akting. Its oke. Akhirnya pertama kali main sama dia. Sejak itu aku jadi kecanduan. Terus ada tawaran lagi dari mas Awi Suryadi, akhirnya aku jadi cinta acting. Ya senang sih,” papar Kelly.

Pemeran Bia di film Labuan Hati ini menampik anggapan bahwa dunia modeling adalah dunia gemerlap, sehingga ketika masuk ke film dan mengharuskannya harus syuting ke pelosok-pelosok, hal tersebut membuatnya tersiksa. “Sebenarnya modeling nggak gemerlap banget. Its only on stage. Tapi behind the scene kita juga tidur-tidur di lantai. Maksudnya nggak glamour. Tapi kalau kita ke pelosok-pelosok untuk main film, justru itu yang aku senang sih. Karena pengalaman yang beda banget. Karena kalau di modelling, only on backstage. Kalau di film,saat syuting aku ketemu penduduksekitar. Bertemu dengan orang-orang yang sangat menarik. Disitu aku bisa belajar banyak,” ucap Kelly lagi.

Kelly memberi contoh, saat dia menjalani syuting film Rumah Belanda di kawasan pegunungan di Jawa Barat. Dimana dia harus beradaptasi dengan kondisi alam sekitar dan fasilitas yang serba terbatas. “Pada saat mandi harus mandi dengan air dingin. Aku mempelajari penduduk sana hidup dengan keterbatasan. Itu interesting sekali sih. Bagaimana mereka bisa hidup senang. Aku juga terbiasa melihat anak membawa hasil panen jagung. Lalu salah satu dari mereka menawarkannya ke aku, ‘Kakak mau jagung nggak?’ Terus disitu juga ada pemandangan, ada ibu-ibu di depan rumah lagi ngobrol. Ada ayam dimana-mana. Semua itu benar-benar memberi pengalaman baru untukku,” ucap Kelly.

Biasanya Kelly tak lupa mengabadikan moment-moment tak biasa yang dilaluinya dengan membuat video pendek yang tersedia di smartphone, miliknya. Bicara soal ponsel cerdas, Kelly mengatakan dalam keseharian tak bisa lepas dari alat komunikasi tersebut. Namun bagi Kelly, saat ini smartphone tidak sekedar alat berkirim pesan. Kini ponsel cerdas juga memungkinkan penggunanya berkomunikasi dengan lebih ekspressif.

“Pada saat berkomunikasi dengan teman biasanya aku nggak sekadar mengirim pesan teks. Aku suka tuh menunjukkan suasana hati lewat emoji. Daripada sekedar bentuk bulat kuning, gambar binatang, kenapa tidak wajah sendiri. This is the real me. Super fun karena bisa langsung di-share diberbagai platform sosial media kita, dan gampang banget create-nya. Sekarang, komunikasi sama teman – teman bisa lebih personalize,” pungkas Kelly yang didaulat menjadi brand ambassador Samsung Galaxy S9 dan S9+ di Jakarta, belum lama ini.

 

 

Foto: instagram @kelly_tandiono