Suguhan Teatrikal Fashion di Media Viewing Trend 2018

Untuk pertama kalinya, Indonesia Fashion Chamber menyelenggarakan presentasi mode bertajuk Media Viewing Trend. Ajang ini menampilkan presentasi para desainer lokal dalam beberapa kategori busana, antara lain; Avant Garde, Urban, Muslim dan Evening Wear. Uniknya, pagelaran busana ini ditampilkan dalam konsep teatrikal.

Saat pementasan tak hanya model yang berlenggak-lenggok di panggung, para desainer pun memainkan perannya masing-masing. Bak sebuah pertunjukan sulap, mereka mengubah busana yang dibawakan para model secara dramatis. Tidak hanya itu, para desainer juga diberi kesempatan untuk menjelaskan rancangannya secara mendetail dalam sesi presentasi.

Dilaksanakan dalam dua hari, ajang ini bertujuan memberikan gambaran tentang perkembangan tren mode Indonesia. Pada hari pertama, ditampilkan kategori busana Urban & Avant Garde dari sejumlah desainer, salah satunya adalah desainer Aldre. Didominasi warna gelap, ia merepresentasikan pengalaman mimpi buruk masa kecil menjadi sebuah koleksi busana.

Lain lagi dengan desainer aksesori, Rilya Krisnawati. Terinspirasi dari suku Dayak, label JUMPANONA mengangkat tema ‘Rajah’ atau tato. Berkonsep beauty imperfection, ia menampilkan koleksi bermaterialkan kuningan organik yang dibentuk dengan cara dicacah atau ditumbuk.

Di hari kedua, para desainer dengan konsep rancang Muslim dan Evening Wear yang unjuk gigi. Dani Paraswati misalnya. Menampilkan 10 set look modestwear, ia mengangkat tema ‘Bohemian’ ala 70- an dengan motif tribal, flowery, dan abstrak. Perpaduan kultur tradisional nusantara juga terlihat saat kain batik turut disertakan sebagai bahan utama.

Untuk kategori Evening Wear, desainer Bramanta Wijaya menghadirkan koleksi ‘Etoile’, yang dalam bahasa Perancis berarti bintang. Untuk dapat berpijar dengan terang, sebuah bintang harus melewati proses pembentukan yang panjang dan rumit. Sama halnya seperti kehidupan manusia, dimana kesuksesan pun hanya dapat diperoleh dengan kerja keras dan proses yang tak selalu menyenangkan. Diadaptasi dari ide tersebut, Bramanta mengemasnya dalam deretan busana yang menonjolkan detail embroidery lace. Terlihat pula taburan mutiara dan kristal yang bersinar bak cahaya bintang, serta palet warna yang menggambarkan langit seperti; hitam, nudedusty pink, dan navy blue.*