Dunia Usaha Harus Peduli Anak

 Dunia Usaha  Harus Peduli Anak

Dari 87 juta  anak di Indonesia ternyata hanya 51 persen yang mendapat akses pendidikan.  Bahkan permasalahan anak tidak hanya di bidang pendidikan saja, melainkan juga di bidang kesehatan dan   bidang lainnya. Mengandalkan pemerintah untuk mengatasi masalah anak sudah jelas  tidak bisa. Butuh kemitraan dengan berbagai pihak,  semisal  perusahaan-perusahaan swasta.

 

Kemitraan ini sangat penting karena peran serta   perusahaan-perusahaan  dalam  membantu pemerintah diharapkan dapat  mengurai permasalahan anak di Indonesia. Ketua Umum Assosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI), Luhur Budijarso, mengatakan tujuan dibentuk APSAI  untuk memperhatikan kesejahteraan anak-anak Indonesia. Hadir untuk mewadahi perusahaan swasta dan pelaku bisnis untuk bersama-sama dengan pemerintah dan masyarakat dalam pemenuhan hak-hak anak Indonesia.

Asosiasi ini diresmikan pada 2 Mei 2012 oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Agum Gumelar, saat itu.

“Kami ingin melihat anak-anak Indonesia di masa depan bernasib lebih baik. Awal pembentukan asosiasi ini terjadi dari perbincangan-perbicangan informal dari beberapa orang. Kami awali dari lingkungan paling dekat dulu,” ungkapnya.

Menurut Luhur,   dunia usaha berperan penting dalam pemenuhan hak anak karena beberapa alasan. Pertama, care givers (ayah, ibu) yang bekerja memerlukan dukungan dari kebijakan perusahaan agar dapat secara maksimal memastikan tumbuh kembang optimal anak-anaknya bahkan sejak dalam kandungan.

Kedua, produk dan jasa yang dihasilkan dunia usaha, Hal ini tidak dapat dihindari, akan menghasilkan dampak bagi tumbuh kembang anak secara langsung maupun tidak langsung.

"Ketiga, dunia usaha merupakan bagian dari anggota masyarakat yang memiliki kewajiban menjalankan program tanggung jawab sosial dalam berbagai bidang termasuk pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan hak anak," lanjutnya.

Dunia usaha  harus ikut bertanggung jawab moral untuk mewujudkan visi anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia, serta terlindungi dari kekerasan, diskriminasi, dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan. "Tidak mudah mengelola lingkungan kerja yang ramah anak. Terlebih jika perusahaan itu mempekerjakan anak-anak atau memproduksi produk yang membahayakan kesehatan anak seperti perusahaan rokok," urai Luhur.

Hingga 5 tahun berjalan, semakin banyak perusahaan yang menjadi anggota APSAI. Perusahaan yang bergabung ini berkomitmen menghasilkan produk yang ramah anak, baik produk makanan yang tidak membahayakan kesehatan anak, juga produk mainan yang aman, mendidik, dan tidak mengandung kekerasan bagi anak.

 

Apresiasi Perusahaan Yang Peduli

Bagi perusahaan yang belum menghasilkan produk ramah anak maka perusahaan itu bisa membuat program untuk anak. Di antaranya, menyediakan pojok ASI, tempat penitipan anak (TPA), dan mengembangkan kebijakan yang memberikan dispensasi waktu bagi karyawati yang memiliki bayi di bawah usia 6 bulan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

"Kebijakan peduli anak tersebut termasuk dengan kebijakan perusahaan untuk tidak mempekerjakan anak di bawah usia yang ditentukan, dan tidak melibatkan anak-anak dalam bentuk-bentuk pekerjaan yang membahayakan bagi anak," terangnya.

Sebagai apresiasi atas kepedulian perusahaan terhadap anak, APSAI pun menyelenggarakan Anugerah Pelangi yang diprakarsai APSAI sejak 2013. Anugerah Pelangi ini sudah tiga kali diadakan (2013, 2015, 2017). Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan-perusahaan dan pelaku bisnis melalui evaluasi yang teliti dan menyeluruh dari dewan penguji yang independen.

Perusahaan yang memperoleh Anugerah Pelangi umumnya telah menerapkan tiga hal yang menjadi prinsip APSAI. Pertama, memiliki kebijakan yang ramah anak, seperti menyediakan ruang laktasi untuk mendorong ibu yang bekerja memberikan ASI ekslusif. Kedua, menghasilkan produk yang ramah anak, dan ketiga program-program perusahaan ramah anak.

Ia mengungkapkan, setiap kegiatan yang diadakan APSAI memberikan dampak yang cukup positif bagi pemenuhan hak anak. Pihaknya mengklaim relatif cukup memuaskan hingga saat ini. Terbukti dari capaian para anggota APSAI dalam Anugerah Pelangi 2017. Berbagai program perbaikan telah ditempuh untuk menjangkau 3P (Child Friendly Policy, Product and Program) diterapkan secara lebih terstruktur.

 

 

Foto: Pixabay, Dewi Muchtar