Anak Sulit Makan? Mungkin Ini Penyebab dan Solusinya

Anak Sulit Makan? Mungkin Ini Penyebab dan Solusinya

Sekitar 50 % ibu merasa anak-anak yang menginjak usia 2 tahun mulai sulit makan. Namun menurut dr. Ariani Dewi Widodo SpA (K), hanya 20-30 % diantaranya yang sulit makan betulan. Lalu sisanya?

“Hanya perasaan orang tuanya saja,” jawab dr. Ariani demikian sapanya. Sebab saat si anak dicek tumbuh kembangnya, normal-normal saja.

“Orang tua, khususnya ibu kerap panik jika anak hanya mau makan beberapa suap. Mereka inginnya anak makan lahap, bersuap-suap,” imbuh dr. Ariani.
    
Menurutnya orang tua tak perlu panik berlebihan. Cek saja tumbuh kembangnya dan pahami keinginannya. Sebab pada usia 2 tahun anak-anak pada umumnya mulai punya kemauan dan pilih-pilih.

“Kesannya sulit, padahal mungkin dia pintar. Dulu (sebelum 2 tahun) kan kalau disuapi, dibilang ‘aaa’ mau mau saja. Sementara pada usia itu (2 tahun) sudah punya kemauan dan bisa milih,” jelasnya.

Faktor penyebab lain menurut dr. Ariani, aktif tidaknya anak bersangkutan. Kalau anaknya aktif maunya bergerak terus, tak bisa diam untuk makan. Kalaupun makannya banyak seperti tak terlihat hasilnya, sebab selalu terbakar menjadi energi. Sementara kalau anaknya pasif, memang enggan ini dan itu termasuk makan.

“Ada pula anak yang sulit dikenalkan dengan hal-hal baru termasuk makanan, namanya neofobia. Penyebabnya, mungkin pernah dipaksa makan. Atau bisa jadi tidak punya hubungan dekat dengan orang tua atau pengasuhnya,” urai dr. Ariani.

Penyebab lain lagi, mungkin anak mengalami sakit tertentu. “Misalnya radang tenggorokan sehingga kesulitan menelan, atau mungkin dia muntah-muntah sehingga takut makan. Kemungkinan lain, anak belum terampil mengunyah,” tuturnya menyontohkan.

Selanjutnya dr. Ariani mengingatkan, gangguan makan biasa terjadi pula pada anak autis. Penyebabnya gangguan interaksi sosial dengan sekitarnya. Termasuk orang tua dan pengasuh.

Siapkan Variasi Makanan

Apapun penyebabnya, tentulah harus dicari solusinya. Ada yang berpendapat, salah satunya bisa dengan menciptakan variasi makanan.

“Yang namanya variasi makanan, berarti memberinya beberapa jenis saat makan ya. Ini bisa dilakukan tapi tidak selalu berhasil. Mengganti makanan juga perlu,” ungkap dr. Ariani.

Langkah lain yang perlu dilakukan menurutnya adalah perkenalkan makanan baru secara berkala.

“Ada ibu atau pengasuh yang melihat anak doyan makanan tertentu lantas diberi makanan itu terus. Tentu lama-lama anak akan bosan. Jadi harus dikenalkan dengan yang baru!” sarannya.

Di awal bisa jadi anak menolak. Namun tidak seharusnya ibu atau pengasuh menyerah. “Dicoba satu dua kali anak tetap menolak jadi dikira nggak suka. Padahal bisa jadi bukannya nggak suka, namun belum terbiasa. Penelitian membuktikan setelah mengujicobakan makanan 10-15 kali anak pasti akan mau. Tapi banyak orang tua yang cepat menyerah,” kata dr. Ariani menyayangkan.

Dia menambahkan, untuk anak yang sulit makan atau tidak sebenarnya sangat penting memberikan keragaman makanan untuk anak.  

“Sebab setiap bahan makanan memiliki kandungan yang berbeda. Ada yang tinggi vitamin C, A atau zat besi, karbohidrat, protein dan sebagainya. Jadi dengan keberagaman makanan anak akan mendapatkan nutrisi lengkap dan seimbang,” tandasnya.

Tidak usah memusingkan diri dengan menghitung-hitung kalori dan nutrisi. “Putar saja,” saran dr. Ariani.

“Variasi makanan penting, bukan hanya jenis tetapi juga konturnya. Untuk mendukung tumbuh kembang misalnya, anak usia 6 bulan menuju satu tahun perlahan diberi kontur agak padat dan seterusnya. Ini penting juga untuk melatih kontur otot. Jangan sampai usia satu tahun masih hanya bisa makan bubur,” lanjutnya mengingatkan.

-----
Teks: Kristina Rahayu Lestari
Foto: Istimewa

ibu anak, toddler, makan, susah, susah makan

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments