Waspadai Jantung Berdebar Sebagai Aritmia

Waspadai Jantung Berdebar Sebagai Aritmia

Jantung Anda sering berdebar? Jangan anggap remeh. Bisa jadi itu gejala aritmia  atau penyakit yang dikenal dengan gangguan irama jantung. Hal ini  terjadi lantaran adanya gangguan produksi implus atau abnormalitas penjalaran implus listrik ke otot jantung.

Berdebar adalah gejala tersering aritmia. Tetapi spektrum gejala aritmia cukup luas mulai dari berdebar, keleyengan, pingsan, stroke bahkan kematian mendadak.  Kendati begitu, berdebar sebagai gejala terserang aritmia jangan sampai salah dimengerti. Sebab  gejala yang dikeluhkan oleh pasien, berdebar tidak hanya  terbatas  pada denyut jantung yang cepat. Pasien mengeluh berdebar ketika denyut jantungnya cepat  maupun lambat, tidak teratur, terasa lebih kuat, ada jeda  bahkan  saat terasa  sakit  dada.

Oleh karena itu di dalam kedokteran istilah berdebar didefinisikan sebagai kesadaran akan denyut jantung yang digambarkan sebagai sensasi nadi yang tidak nyaman atau gerakan di sekitar dada.

Semua orang  dari rentang usia, bayi hingga lansia dapat terserang aritmia.  Pada lansia aritmia ditemui pada 60 tahun keatas.  Mereka kerap mengalami jantung berdebar seperti drum yang bertalu. Bisa juga dengan debaran yang skip, debaran kadang muncul dan kadang bisa hilang. Bahkan tidak jarang debarannya  terasa seperti ada lompatan dalam dada.

Kasus aritmia di Indonesia tidak berbeda jauh dengan  negara lain. Sebanyak 87%  pasien  yang  meninggal mendadak mengalami Aritmia.   

“Karena itulah kami menghimbau agar  masyarakat waspada terhadap  gejala yang  tidak khas Aritmia namun dapat mengarah ke penyakit tersebut. yaitu lesu dan pusing yang kerap jadi. Jika terdapat gejala ini, segera konsultasikan ke dokter,” ungkap Dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP (K), FIHA, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society Meeting (InaHRS).

Dr. Dicky menambahkan saat ini, teknologi dan tatalaksana Aritmia berkembang dengan pesat di seluruh dunia.  Peningkatan pengetahuan tentang Aritmia tersebut sekaligus menggambarkan meningkatnya tingkat kepedulian para spesialis jantung dan pembuluh darah di seluruh dunia terhadap penyakit ini.

Namun demikian di Indonesia, pengetahuan para dokter spesialis jantung dan pembuluh darah tentang Aritmia belum merata.  Di Jakarta sudah berkembang pesat namun di kota-kota lain masih sangat perlu untuk ditingkatkan, baik jumlah dokter subspesialis Aritmia maupun fasilitas atau alat yang diperlukan.

“Di antara  lebih dari 1000 orang dokter spesialis jantung  dan pembuluh  darah  (SpJP), saat ini  hanya  ada 25  orang subspesialis  Aritmia, yang artinya rasio 1:10.000.000,  padahal  idealnya adalah rasio 1:100.000. Oleh karena itu, salah satu tujuan InaHRS sebagai  asosiasi profesional peminatan  Aritmia  pada tahun 2018 ini adalah pemerataan pelayanan Aritmia di seluruh Indonesia,” papar dr. Dicky.

Stroke Sebabkan Fibrilasi Atrium

Sementara itu, pada kesempatan yang  sama, dr.Agung Fabian Chandranegara,  SpJP (K) mengatakan aritmia yang paling sering ditemukan di klinik adalah fibrilasi atrium (FA).

Pada penderita FA,  kondisi  kesehatannya  mengacu pada hantaran sinyal listrik yang tidak benar atau tidak teratur pada jantung. FA ditandai dengan denyut jantung tidak teratur dan sering cepat atau bergetar. Oleh sebab itu FA tidak memiliki penyebab yang pasti. Beberapa pasien mengalaminya setelah mereka menjalani bedah jantung, baik untuk mengurangi penyumbatan atau untuk memperbaiki katup.

Namun para ahli  kesehatan lainnya memberi kesimpulan  bahwa FA disebabkan oleh beberapa hal ini, yaitu penyakit paru, berat badan berlebih (obesitas), diabetes, kondisi jantung tertentu seperti kardiomiopati hipertrofi (penebalan bagian dari otot jantung), serangan jantung, aterosklerosis (penumpukan plak di arteri jantung) dan gangguan  tiroid.  

“Tidak jarang stroke merupakan manifestasi klinis pertama dari FA. Prevalensi FA mencapai 1-2% dan akan terus meningkat dalam 50 tahun mendatang,” ujar dokter yang saat ini gencar berkampanye terhadap bahaya FA.

“Oleh karena itu, mengingat pentingnya mengedukasi  masyarakat tentang FA, maka secara  kontinyu sejak tahun  2016, kami  mengadakan  kampanye FA. Secara keseluruhan, kampanye FA 2017 cukup berhasil, salah satunya ditandai dengan banyaknya peminat kampanye ini, yaitu sekitar 1700 orang yang menghadiri kampanye  di Jakarta. Kegiatan yang diadakan ada Pelatihan BLS, Talk Show, Check Up gratis, dan senam bersama,” papar  dr Agung.
 
-----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Istimewa

 

 

sehat, jantung, aritmia

Artikel Terkait

Comments