Jangan Biarkan Kita Disetir Oleh Sosial Media

Jangan Biarkan Kita Disetir Oleh Sosial Media

Mengamati para ibu muda meng-update perkembangan anaknya di media sosial kadang bikin galau. “Kok anak saya begini begitu ya, nggak sama dengan anak dia?”

Begitu diakui Natasha Rizky, ibu milenial dari dua anak dalam sebuah talk show parenting yang diselenggarakan PT. Johnson & Johnson Indonesia medio pekan lalu.
Karenanya istri presenter Desta ini sepakat bahwa perkembangan internet yang selalu diikuti ibu masa kini punya dua sisi yang menyertai. Satu sisi memberi keuntungan berupa kemudahan akses informasi, namun di sisi lain dapat menjadi bumerang dan tekanan.

“Bahkan dapat menimbulkan depresi dan obsesi,” tandas Chacha, demikian Natasha Rizky akrab disapa mengingatkan.

Soal depresi, Chacha mengakui pernah merasakannya. Tepatnya beberapa saat setelah melahirkan anak pertama. Waktu itu Chacha pesimis dapat memberikan air susu ibu (ASI) secara maksimal.

“ASI saya minim. Sampai usia anak dua bulan, setiap kali mompa keluarnya hanya 20-30 ml. Sementara kalau lihat teman-teman di Instagram, freezer mereka penuh dengan persediaan ASI. Itu rasanya sedih, bahkan depresi. Selanjutnya ya itu, jadi membanding-bandingkan tumbuh kembang anak, ‘Kok anak saya begini sementara anak mereka begitu ya.’,” ceritanya.

Untuk keluar dari masalah di atas, Chacha akhirnya memutuskan untuk memilih dan memilah teman. Khususnya yang ia ikuti di sosial media. “Intinya yang mendukung kita menjadi ibu yang baik, bukan ibu yang terobsesi,” tandas Chacha.

Datang Pada Ahlinya


     
dr. Meita Dhamayanti, SpA (K), M.Kes yang hadir di acara yang sama mengangguk setuju dengan keputusan Chacha. Menurutnya semua anak unik, jadi pastinya selalu memiliki perbedaan dengan anak-anak lainnya. Hanya ibunya atau orang terdekatlah yang memahaminya.
    
Maka ia menyarankan jangan berpatokan pada info yang kurang jelas kebenarannya. Cek saja tumbuh kembang anak masing-masing pada dokter. Selanjutnya ciptakan lingkungan yang saling mendukung tumbuh kembangnya.
    
“Sebab tumbuh kembang anak selain dipengaruhi faktor genetik atau bawaan alias dari sananya, juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan,” tegas dr. Meita.
    
Lebih lanjut ia menjelaskan, faktor lingkungan antara lain menyangkut kebutuhan nutrisi, stimulasi dan lainnya.
    
“Kalau kami punya jargon untuk merangkum kebutuhan dasar tumbuh kembang anak yakni 3 A: Asuh, Asih dan Asah. Asuh berupa sandang, pangan serta papan. Asih yakni kasih sayang. Sementara asah, bagaimana kita mengasah supaya anak benar-benar terstimulasi,” jelasnya.
    
Lantas siapa saja yang dapat menjaga 3 A? “Mulai dari lingkungan terkecil yakni ibu. Nah ibu berperan besar menstimulasi tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan dengan memberikan nutrisi dan rangsangan yang baik. Setelah anak lahir, lingkungan keluarga turut berperan. Mulai dari ayah, kakak, serta nenek dan kakek. Selanjutnya kalau dia sudah usia sekolah ya pasti lingkungan sekolahan turut mempengaruhi. Selanjutnya lagi ada lingkungan masyarakat dan pemerintah. Semua satu ekosistem, jadi harus ada keseimbangan dan saling mendukung,” pesan dr. Meita.

----
Teks: Kristina Rahayu Lestari
Foto: Istimewa