Abimana Aryasatya: Pindah Ke Belakang Layar?

Abimana Aryasatya: Pindah Ke Belakang Layar?

Menepi dari rutinitas syuting diibaratkan Abimana seperti seorang pemain sepak bola  yang sedang  mencoba melihat suasana di pinggir  lapangan sambil melihat komposisi permainan seperti apa.  Setelah itu baru dia ancang-ancang untuk ikut bertanding lagi.

Pilihannya pun jatuh pada dunia balik layar,  menjadi co produser untuk film besutan sutradara  Timo Tjahjanto. Film bergenre horor berjudul Sebelum Iblis Menjemput ini dibintangi oleh 2 aktris papan atas, yakni: Chelsea Islan dan Pevita Pearce.

Abimana bercerita, tawaran menjadi co produser itu datang secara tak sengaja. Berawal dari upaya dia untuk memenuhi janji pada sutradara yang juga sahabat dekatnya.

“Kenapa mau, sebetulnya Timo yang bikin aku mau. Aku pernah janji ke dia, aku akan  support dia di satu film sebagai co produser. Terus Timo telpon aku ngajakin bikin film ini. ‘Mau nggak lo jadi co produser gue?’ Waktu itu film ini belum ada judulnya,” ungkap Abi, begitu sapaan kecilnya.

Setelah melalui kerja keras sekaligus melelahkan, Abi bersyukur proses syuting film ini telah rampung. Namun sebagai co produser , dirinya belum sepenuhnya  bernafas lega. Setidaknya hingga 3-4 bulan ke depan Abi masih akan berkutat  dengan pekerjaan pasca produksi.

“Biasanya kalau jadi talent, pekerjaanku sudah selesai nih. Begitu selesai syuting, bisa santai lagi. Tapi ini masih terus sampai 3-4 bulan ke depan. Makanya ini sudah pusing banget, stres,” ujar  bintang film 99 Cahaya di Langit Eropa, itu.

Abi mengatakan pekerjaan sebagai co produser ternyata tidak mudah. Ia harus  mengakomodir 180 kru dengan berbagai pikiran, pekerjaan dan kemauan yang berbeda. Mulai permasalahan makanan, antar jemput sampai ke permasalahan kreatif. Abi memberi perumpamaan perannya seperti seorang  ibu rumah tangga dengan 180 anak.


 

Benci Drama, Kedepankan Solusi

Meski berat saat menjalani, pengalaman sebagai co produser telah mengajarkannya  banyak hal. Pada akhirnya ia menyadari bahwa membuat film tidaklah mudah.

“Ini buat aku  seperti orang sekolah,  tapi impactnya ke CV aku positif banget,” urainya, lagi.

Bicara  soal honor, Abi  berterus terang jika yang diterimanya tidak sebesar ketika dia menjadi pemain. Tapi  sejak dulu Abi telah tertarik pada dunia balik layar.  

“Bahkan sebelum terjun sebagai pemain aku pernah kerja di bagian lampu. Jadi memang akhirnya aku sedikit lebih mengerti ranah itu. Nanti bisa dilihat di film ini, sisi visualnya akan sangat menonjol. Karena aku memang interest sama visual. Sisi visualnya sangat kuat sekali,” ujar bapak 4 anak yang usai selesai pekerjaan sebagai co produser akan kembali syuting film.

Tentang pencapaiannya saat ini, Abi tidak mau  disetarakan seperti orang naik kelas. Menurutnya jika orang kebanyakan berpikir bahwa hirarki tertinggi itu ketika seorang orang naik jabatan, tapi di industri ini tidak sepenuhnya benar.

“Tapi ini bukan hirarki. Bekerja di industry ini domino effectnya besar. Satu sama lain harus saling dukung.  Bikin film bukan satu orang . Kalau kita nggak bantuin yang ini, akan jadi problem pada yang lain. Kalau nggak ada saya, produksi nggak jalan. Tapi kalau nggak ada sutradara, juga sama,” urai Abi dengan mantap mengatakan jika ini adalah batu loncatan l untuknya menuju tempat lain.

Batu loncatan sebagai sutradara?
Abi pun mengangguk. Ia  mengatakan sudah pernah memproduksi sebuah film anak bersama  beberapa orang teman sesama artis. Masing-masing film memberikannya pengalaman yang berbeda.

Abi menambahkan bahwa pekerjaan ini juga memberinya bukti bahwa apa yang dipelajarinya lewat buku tidaklah serupa dengan yang terjadi di lapangan.
Dikatakannya tidak  semua rumus yang ada di buku dapat diaplikasikan di dunia nyata. Baginya, Tino Sarunggalo yang memberinya pandangan bahwa setiap produksi film memiliki caranya masing-masing.

"Ketika teori yang aku dapat dari buku berbeda dengan kenyataannya, aku mencoba mengedepankan solutif. Bukan drama,” tuturnya.

Abi sangat membenci drama. Hal itu yang selalu dia katakan pada krunya. Dalam setiap pekerjaan , tidak bukan tidak ada masalah. Jika tidak ada masalah bukan berarti tidak ada masalah.

“Jadi kita harus solutif dengan segala keadaan. Kita juga harus bisa saling back up. Supaya nggak terjadi domino effect itu tadi. Jadi aku selalu memakai prinsip musyawarah dan mufakat. Simple banget. Jadi teori-teori besar New York Film Academy, nggak bisa dipraktekan di indonseia. Maaf itu sangat sulit. Di Indonesia semunya sistem kekeluargaan  dan personal. Kita manusianya komunal. Kalau di luar negeri individual. Tiap satu divisi mengejarkan satu divisi saja. Di Indonesia orang-orangnya lebih sensitif. Hari ini aja kita nggak nyapa, bisa bikin orang lebih sensitif,” tutupnya.

----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Instagram @abimana_arya