Gardini Oktari: Punya Kekurangan Bukan Berarti Bodoh

Gardini Oktari: Punya Kekurangan Bukan Berarti Bodoh

Menjadi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan predikat slow learner penuh perjuangan. Tak mudah memang, tapi bukan berarti tak bisa. Gardini Oktari mematahkan berbagai prediksi yang mungkin di hadapinya di masa depan sebagai anak dengan IQ 70.

Suatu sore awal Mei lalu WI menjumpai Gardi, begitu ia disapa di Rumah Sakit Permata Pamulang tempatnya bekerja. Sekilas penampilannya sama seperti wanita seusianya. Mengenakan blazer panjang warna ungu dan kerudung, senyumnya ramah menyapa. Gardi kemudian mengajak masuk ke ruang kerja yang ia tempati setiap Senin-Jumat. Terpampang namanya di pintu, Gardini Oktari, S.Pd.

Tak terlalu besar, tapi di ruangan itu Gardi yang menjadi pelatih di bagian tumbuh kembang anak, bertemu para ibu dan melatih mereka memijat bayi. Tak mulus memang jalannya hingga bisa sampai di titik ini.

Wanita 28 tahun ini mengenang, ia pernah masuk sekolah umum saat kelas 1 SD, tapi dikeluarkan karena tidak naik kelas dan sekolah tersebut tidak memiliki guru khusus untuk menangani anak spesial sepertinya. Karenanya, Gardi kemudian pindah ke sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) dan bergabung dengan anak-anak istimewa lainnya. Di situlah ia bisa membaca, menulis, berbicara dan bersosialisasi dengan sekitarnya.

Ya, sampai usianya kelas 1 SD Gardi mengalami kesulitan bicara. Kosa kata yang dimilikinya sangat minim, tidak bisa membuat kalimat dan ‘Gahdi’ menjadi kata yang sering diucapkannya.

“Kalau ditanya nama jawab Gahdi, ditanya alamat jawab Gahdi, ditanya umur juga jawabnya Gahdi, bukan Gardi,” kata wanita kelahiran 22 Oktober 1989 ini.

Saat mendatangi lembaga yang menangani ABK, Gardi mengikuti tes IQ (intellegent quotien) dan hasilnya sama dengan dua tes sebelumnya, IQ Gardi 70 yang artinya tingkat kecerdasan Gardi tergolong rendah. Berbagai rangkaian terapi, termasuk pembetukan karakter agar menjadi pribadi yang mandiri dan bisa bersosialisasi ia jalani.

Karena tergolong lamban dalam belajar (slow learner), metode pengajarannya pun berbeda, Gardi harus dibantu rangsangan dari luar. Misalnya untuk melatih bicara, selain mengajarkan setiap kata dengan jelas, oral motornya yang mencakup area rongga mulut seperti rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi harus dirangsang.  Gardi sampai harus menggunakan tiga jenis sikat gigi berbeda ukuran setiap harinya.

“Itu bukan hal yang nyaman,” sambung anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Sampai di rumah, semua hal yang dipelajari di tempat terapi harus diulang.  Sekitar dua tahun kemudian Gardi bisa berbicara. Menurutnya, di situlah pentingnya peran orang tua yang harus menerima kondisi anak dan kompak.

Apalagi kedua orang tuanya adalah dokter dan kakak serta adiknya memiliki IQ lebih tinggi darinya. Meski berprofesi sebagai dokter anak dan dokter umum, ayah dan ibu Gardi tetap mencari informasi dan solusi dari teman-teman sejawatnya untuk menanganinya.

 “Untuk IQ 70 pengulangannya harus lebih dari tiga kali karena konsep yang akan disampaikan berbeda,” jelasnya.

Seperti Bunglon

Selama di SLB, Gardi termasuk berprestasi secara akademik, bahkan menyandang gelar siswa teladan. Setelah menyelesaikan sekolah sampai tingkat SMA di SLB, putri pasangan Dr. dr. Soedjatmiko Sp.A (K) MSi, dan dr. Rhodia India KS ini melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar Indonesia, Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Gardi mengaku, sebenarnya ia ‘dicemplungi’ orang tuanya  untuk kuliah. Sebenarnya pula  setelah lulus SMA ia belum memiliki rencana selanjutnya.

“Aku tahu kapasitas diriku, jangan sampai aku melibatkan orang lain yang tidak tahu kondisiku sehingga mereka jadi susah karena aku,” ungkapnya.

Jika merasa orang lain jadi susah karena dirinya, Gardi akan menyalahkan dirinya sendiri. Karenanya selama kuliah, Gardi harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dia mengibaratkannya seperti bunglon.

Belum lagi berbagai tanggapan dari teman-temannya ketika ia lebih dekat dengan dosen. Mahasiswa lain mungkin mengira ia melakukannya demi mendapat nilai bagus padahal itu karena ia tidak mengerti materi perkuliahan dan harus bertanya berkali-kali.

Apalagi awal masuk kuliah Gardi belum ter motivasi. Gardi paham orang tuanya hanya tidak ingin sampai dewasa kelak ia tidak memiliki kemampuan karenanya mereka ingin putri satu-satunya itu bisa meraih pendidikan tinggi. Pesan kedua orang tuanya pun selalu diingatnya.

“Walaupun kamu punya kekurangan, bukan berarti bodoh, kamu bisa dan punya kemampuan sendiri. Semua orang punya kemampuan masing-masing, kelebihan dan kekurangan. Tidak bisa matematika bukan berarti ‘mati’, kekurangan harus ditutupi dengan kelebihan,” kata Gardi menirukan orang tuanya.

Pemilihan jurusan kuliahnya saat itu dirasa pas untuk kemampuannya. Masa-masa kuliah pun penuh perjuangan ia lalui. Sebenarnya Gardi bercita-cita menjadi penulis yang menurutnya sangat menyenangkan untuk anak-anak sepertinya yang bisa bermain dengan imajinasi dan tidak ada kontak dengan orang lain, atau menjadi penari seperti hobinya sejak kecil.

Selama di kampus Gardi tergolong pendiam. Jika teman-temannya sering berkumpul atau bermain ke mal usai kuliah, ia lebih banyak baca buku untuk mengejar pelajaran. Sampai rumah pun ia harus kembali mengulang pelajaran.  

Kesulitan mengerjakan skripsi sempat membuatnya hampir menyerah. Tapi orang tuanya menyemangati agar bisa lulus. Tak ada pula tuntutan nilai cum laude baginya, yang penting Gardi menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.

Semuanya pun untuk membuktikan jika ia tidak seperti yang diprediksi saat mendapat IQ 70. Saat itu Gardi dinyatakan tidak akan lulus sekolah dasar, tidak akan bekerja, tidak akan bisa apa-apa, apalagi bersosialisasi. Kalaupun bekerja diprediksi sebagai asisten rumah tangga atau petugas kebersihan.

Untuk menguatkan, setiap pagi Gardi selalu mengatakan pada dirinya sendiri sambil bercermin, ‘Kamu harus bisa, kamu pasti bisa. Hari ini hari baik, harus jadi orang yang lebih baik’.

Mahasiswa Inspiratif

Walaupun molor hampir dua tahun, Gardi akhirnya menyandang gelar sarjana pendidikan. Bahkan semangatnya kuliah membuat Gardi didaulat sebagai mahasiswa ABK inspiratif di kampusnya.

Setelah lulus kuliah, hari-hari Gardi banyak diisi dengan menjadi pembicara seminar di berbagai kota, berbagai pengalaman dan motivasi sebagai ABK slow learner. Sejak awal tahun lalu, Gardi mulai bekerja di tempatnya sekarang.

Untuk mendapat keahlian ini Gardi harus mengantongi sertifikat. Karenanya ia harus mengikuti seminar dan karantina. Bukan hanya menguasai teknik memijat bayi, Gardi juga harus paham manfaat pijat pada bayi secara psikologis dan tahu bagaimana melakukan pendekatan dengan bayi. Latar belakang pendidikannya membantu dalam hal pendekatan pada anak. Ilmu yang dikuasai itu ia transfer ke para ibu yang datang padanya untuk dipraktikan pada bayi mereka.

“Aku tertarik pijat bayi karena bagian dari terapi tapi tidak bersifat klinis, agar anak nyaman, juga menguatkan ikatan ibu dan anak. Selain itu, masih jarang pijat khusus bayi di rumah sakit, metode yang digunakan pun berbeda dengan tempat-tempat spa bayi,” urainya.

----
Teks & Foto: Arimbi Tyastuti