Catatan Mbak Tutut

La Wis Kadung Nglamar

La Wis Kadung Nglamar

Ada cerita lucu namun indah untuk dikenang dari bapak dan ibu kami, jenaka pun mesra yang ingin saya share di media ini.

Suatu hari kami sedang berkumpul, melihat foto-foto lama, tiba-tiba ibu tertawa geli.

Saya tanya : “Ada apa tho, Bu, kok gembujeng (tertawa).”

Ibu menjawab : “Bapakmu itu dulu waktu dikenalkan dengan Ibu pertama kalinya kecele.”

Kecele kena apa, Bu,” saya bertanya

“Saat itu Ibu kurusan, kulitnya kuning bagus,” ibu tertawa geli lagi.

“Makanya Bapak jadi jatuh cinta dengan Ibu,” saya katakan ke ibu.

“Iyo, Wuk. Bapak akhirnya melamar. Beberapa lama kemudian ketemu lagi, Bapak koyone rodo kaget, kok lain Ibu kulitnya.
Kowe ngerti, Wuk? Waktu Bapak dikenalin ke Ibu … terus nglamar kae, Ibu baru saja sembuh dari sakit kuning. Kulitnya kuning, kurus, ketok menik menik, dadi Bapakmu rodo kesengsem. Ternyata kok sekarang Ibu agak hitam (karena aktif di Palang Merah). Bapakmu kecele .. (hi hi hi), ora menik menik ning menuk-menuk saiki,” kata ibu sambil tertawa geli.

“Tapi kan tetep kromo (menikah) tho, Bu. Itu kan tandanya Bapak cinta sama Ibu,” kata saya.

Jawabnya ibu : “La wis kadung nglamar.”

Saya lihat bapak, beliau hanya tersenyum, maklum bapak orangnya pendiem.

Saya tanya ke bapak : “Betul ya Pak cerita Ibu”

Bapak jawab : “Iyo, tapi ibumu tetep ayu.”

“Walah Bapak,“ jawab ibu sambil tersipu.

Kami tertawa melihat tingkah ibu…


*
Jakarta, menjelang buka, Ramadhan hari ke delapan 1439H / 24 Mei 2018 H

----
Sumber: www.tututsoeharto.id