Mbok Cikrak : Ibunya Para TKI

Mbok Cikrak : Ibunya Para TKI

Himpitan ekonomi membawanya  terbang sebagai tenaga kerja wanita (TKW)  ke  Taiwan pada tahun 2000 silam. Hingga berbelas tahun lamanya, kini wanita cantik yang akrab disapa Mbok Cikrak itu, menjelma sebagai  pemilik travel agent  yang melayani penjualan  tiket pesawat bagi para buruh migran Indonesia yang hendak pulang ke tanah air.

Tepatnya di usia 18 tahun, Mbok Cikrak yang tak pernah mau mengungkapkan nama aslinya ini, merantau ke Taiwan. Kala itu ia masih belia, baru lulus SMK .

“Waktu itu datang sebagai pembantu kece lah. Hahaha. Tahun 2000 kalau nggak salah. Di situ jagain lansia, selama tiga tahun,” kenang wanita berparas cantik  itu.

‎Ibu 2 anak ini bercerita alasannya menjadi TKW lantaran himpitan ekonomi. Cikrak ingin membantu keluarga dengan mencari uang ke negeri orang.  Apalagi ketika ia melihat tetangga kiri kanan yang nasibnya berubah setelah berangkat ke luar negeri.  

“Lihat tetangga-tetangga ke luar negeri pada bangun rumah, saya juga ingin seperti mereka. Tadinya ingin sekolah lagi, tapi saya nggak punya punya uang. Ya sudah jadi TKW saja lah,” lanjut  Cikrak yang baru belajar bahasa Taiwan selama satu bulan  pada saat masa karantina di perusahaan yang akan menyalurkannya.

Begitu diterima bekerja, Cikrak bersyukur mendapatkan majikan yang terbilang baik and membuatnya betah bekerja hingga 3 tahun. Tapi Cikrak terpaksa pulang ke Tanah Air, lantaran mendapat kabar ibunya sakit keras.

Di balik kabar buruk yang diterimanya, Tuhan mempertemukan ia dengan jodohnya. Pertemuan tak sengaja dengan seorang pria asal Taiwan dijembatani oleh agency yang memperkerjakannya.

“Waktu itu  agency nya beli tiket sama suami saya. Begitu berkenalan dia sudah seperti yakin saja bakal jadian sama saya. Sebelum terbang saya dikasih handphone, katanya supaya bisa komunikasi. Selama 6 bulan pacaran lewat hp aja. Kemudian dia meminang saya dengan datang langsung ke kampung,”  urai Cikrak yang saat ini dikarunia 2 orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan.

Usai menikah, Cikrak diboyong kembali ke Taiwan oleh suaminya dan turun ke lapangan membantu di perusahaan travel sang suami.

Ketika Nurani Ingin Membantu

Karena banyaknya pemesanan  tiket ke Indonesia, oleh suaminya Cikrak diberi tugas khusus mengurusi para TKW yang akan pulang ke Tanah Air.
 “Tipikal orang Taiwan nggak  begitu pedulian. Misalnya dia sudah belikan tiket pulang  untuk asisten rumah tangganya, ya sudah begitu saja. Setelah itu dia tinggal pergi begitu aja TKW nya. Mereka harus urus apa-apa sendiri di bandara,” ujar Cikrak.

Hampir 10  tahun membantu bisnis suami, kepedulian Cikrak terhadap TKW  memang tersiar lewat mulut ke mulut. Bahkan Cikrak sempat ditegur para calo bandara.
Karena dianggap  terlalu aktif mengurus  TKW Indonesia. Namun Cikrak tak mau ambil pusing, baginya kepentingan para pahlawan devisa negara ini di atas segalanya.

“Beberapa kali saya temukan TKI kita terlantar begitu saja di bandara. Rata-rata di antara mereka tak tahu apa yang dilakukan, yang lainnya bahkan tertipu dengan tiket pulang. Hal ini terus terang membuat saya jatuh kasihan. Nurani saya ingin membantu mereka,” lanjut Cikrak.

Dari situ, Cikrak tak segan membantu mengedukasi mereka.Termasuk mengenai barang-barang apa saja yang boleh dibawa dan mana yang tidak boleh dibawa ke atas pesawat.

Namanya kian tenar di kalangan para TKI, terutama melalui sosial media. Itulah yang kemudian membuatnya semangat untuk memanfaatkan sosial media lebih dalam. Dari sosmed, ia justru mendapatkan pemasuk hingga 15 juta rupiah setiap bulannya. Dari pemasukan tersebut, 1-3 juta kembali disalurkan guna  membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim binaan  yayasan Cikrak Gaul Club (CGC).

“Alhamdulillah bulan kemarin malah dapat Rp. 16 jutaan. Bulan ini kasih 3 juta dari hasil saweran teman-teman di sosmed,”  urai Cikrak yang sejak 6 tahun lalu juga merintis bisnis kosmetik.

Perihal nama Mbok Cikrak sendiri, wanita berusia 35 tahun ini mengatakan nama tersebut merupakan pemberian dari dirinya sendiri. Arti mbok sebagai ibu dalam bahasa Jawa dipilih karena ia ingin menjadi ibunya para pahlawan devisa ini. Sementara Cikrak yang juga diambil dari bahasa Jawa, memiliki arti tong sampah. Ia ingin menjadi tempat di mana para TKI bisa mencurahkan uneg-unegnya.

Hingga kini, ia enggan memberitahu nama aslinya.

“Panggil saya Mbok Cikrak saja. Para TKI disini kenalnya itu saja. Kalau di Taiwan, saya dipanggilnya Jia Jia. Nama itu ejaan dari nama Indonesia saya sih,” pungkasnya, seraya tertawa lepas.
 
----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Dok. Pribadi