Ge Pamungkas: Muka Saya Muka Drama

Ge Pamungkas: Muka Saya Muka Drama

Perjalanan kariernya di dunia entertainment kini sudah begitu pesat. Kini Ge justru mengaku tak bisa memilih antara menjadi komika dan film. Baginya, dua bidang itu memberinya pelajaran sekaligus pengalaman yang berbeda.

Kini di film, Ge tak lagi hanya mendapatkan porsi sebagai pengocok perut penonton dengan guyonan segarnya. Ia memang ditantang keluar dari zona nyamannya sebagai komedian dan mengambil porsi serius.

“Pertama kali berakting serius di film Negeri Van Orange. Walaupun drama komedi, aku dapat porsi dramanya. Lalu yang kedua di film Kapal Goyang Kapten (belum tayang-red) aku kembali dapat scene-scene serius. Sutradara sampai  bilang selama di lokasi syuting, aku harus menghindar. Jangan sampai terkontaminasi dengan komedinya,” papar Ge, seru.

Susah? Kata Ge, seharusnya  tidak juga, apabila lawan mainnya bukan dari kalangan sesama komika.
    
“Masalahnya kebanyakan pemainnya para stand up comedian semua. Ketemu Babe Cabitha, Ari Kriting, Acho dll. Gila, rasanya tersiksa banget tuh. Tiap kali ada yang ngelawak,  mulut tuh gatal untuk menimpali. Tapi nggak bisa, harus ditahan. Karena itu selama di lokasi syuting pula aku dipanggil dengan karakter aku di film supaya benar-benar menyatu. Karena nggak sekolah teatrikal, perfilman sama sekali, ya sudah aku kondisikan aja yang menjadi karakterku. Tapi itu pun masih suka kepancing juga begitu ada yang melucu,” ujar Ge diiringi tawa.

Sudah beberapa kali mendapatkan peran serius, Ge belum berani mengatakan bahwa dirinya memiliki nilai lebih dari rekan-rekannya sesama komika.

“Kalau itu harus ditanyakan ke sutradaranya sih. Aku nggak berani nge-klaim. Mungkin juga karena hidupku terlalu banyak drama kali ya. Atau memang wajahku emang cocok untuk drama. Kan kalau Babe (Cabitha) mukanya udah komedi banget. Mungkin kalau mukaku muka drama, sedihgenic. Hahaha ,” katanya, kembali terpingkal.

Berada di dunia akting, Ge pun tidak muluk-muluk untuk mematok harus mendapatkan sejumlah penghargaan. Menurutnya penghargaan yang paling berarti adalah ketika dirinya bisa membuat lawan mainnya dapat berakting dengan baik bersama dirinya. Dengan  merendah, ia mengatakan harus belajar berpuluh-puluh tahun lagi untuk bisa mengimbangi para aktor senior di atasnya.
 
“Aku belajar banyak dari para senior. Dimulai ketika aku bermain di serial The East. Aku bermain dengan Om Lukman Sardi. Ada Tara Basro juga, Tantra Ginting, di situ aku belajar dari  mereka. Terus di Negeri Van Orange, aku dapat kesempatan belajar dengan Abimana Aryasatya, Chicco Jericko, Tatyana Saphira, Aripin Putra. Ibarat aku benar-benar memeras ilmu dari mereka. Bagaimana pengalaman mereka, apa yang harus dilakukan saat berada di set dll. Sama juga di film kemarin, aku dapat kesempatan main dengan om Mathias Muchus, om Roy Marten. Aku banyak ngobrol sama mereka. Aku tanya bagaimana bisa bertahan di dunia ini,” urai  Ge yang hanya bermain 2-3 film dalam setahun.

Seiring dengan niatan  untuk serius  di jalur film, saat ini  Ge  ingin mengambil sekolah mengenai film. Hal ini mengikuti anjuran salah seorang sutradara yang melihat potensi Ge yang besar terhadap dunia akting.

“Waktu itu sempat kerjasama di film Mars and Venus dengan Hadrah Dairatu. Dia bilang aku harus belajar lebih banyak lagi. Kayaknya kurang lebih kalau aku nggak tahu teknik-teknik berakting. Iya juga sih, selama ini aku kan terjun tanpa ilmunya. Tahunya hanya prakteknya aja,” lanjut pria yang kini dikabarkan menjalin kasih dengan Putri Indonesia 2015, Anastasia Herzigova.

Mau mengikuti jejak Ernest sebagai sutradara film? Ge menganggukkan kepala. Ia memang punya minat cukup besar ke dunia penyutradaraan. Bahkan sekali lagi mentornya itu sudah mulai mempengaruhinya untuk terjun. Namun Ge mengaku belum punya cukup keberanian. Sebab sebagaimana Ernest menekuni dunia penyutradaraan setelah melewati berbagai proses.

“Kalau mau ikuti jejak Ernest, untuk menuju ke situ, banyak tahapan yang mesti aku lalui. Ernest tuh bagus jejaknya. Dari komika lalu menjadi sutradara. Aku orangnya lumayan perfeksionis. Kalau misalnya mau sebagus itu, aku harus melewati proses yang sama. Dan boro-boro nulis skrip, bikin buku aja aku nggak jago, apa yang mau gue tulis. Mulai dari mana, mau nulis tentang hidupku, ceritanya biasa-biasa juga,”pungkas Ge, kembali tertawa lepas.

----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Dok. Pribadi

 

selebritas, ge pamungkas, muka drama

Artikel Terkait

Comments