Anisa Rahmania: Tuna Rungu Yang Kenyang Dibully

Anisa Rahmania: Tuna Rungu Yang Kenyang Dibully

Wanita 24 tahun ini sekilas sama seperti wanita seusianya. Ketika berbicara baru lah terlihat dia menggunakan bahasa isyarat. Nia, begitu ia disapa terlahir tuli. Orang tuanya memberi nama Annisa Rahmania, artinya rasa syukur atas anugerah anak pertama perempuan yang diliputi rahmat Allah Swt.

Sebagai anak satu-satunya, Nia coba menjalani hidup normal. Kedua orang tuanya pun tuli, karenanya sebagai generasi tuli kedua, keluarganya sudah tahu cara berinteraksi dengan tuli. Syukurnya orang yang membantu keluarganya di rumah menawarkan diri untuk fokus mengasuh Nia.

“Dari TK sampai SD dia (pengasuh) setia antar-jemput, mengulangi metode pelajaran sekolah seperti baca, tulis, ngaji dan mendidik cara beretika dengan orang dari segi usia atau dari lingkungan mana,“ kenang putri pasangan Rizal dan Wida ini.

Nia juga mewarisi Waardenburg sindrom dari ibundanya. Sindrom ini merupakan kondisi genetik dan dapat menyebabkan gangguan pendengaran juga perubahan warna (pigmentasi) pada rambut, kulit, dan mata. Sehingga mereka yang memiliki sindrom ini ada ciri khusus seperti jarak antara kedua mata agak lebar, memiliki warna iris mata terang atau beda sebelah, garis rambut putih di bagian tengah depan dan bercak kulit (permanen).

“Tanda-tanda saya tidak terlalu menonjol. Sedangkan mami yang berdarah murni Indonesia pernah dikhawatirkan akan bermasalah dalam penglihatan waktu lahir karena memiliki warna iris mata biru “ tuturnya.

Keunikan yang dimiliki orang dengan Waardenburg sindrom memunculkan pemberitaan jika orang yang memiliki ciri khas itu adalah suku pedalaman hasil perkawinan dengan orang Eropa atau kena kutukan. Hal yang sepenuhnya tidak benar itu memancingnya untuk beraksi memperkenalkan waardenburg sindrome.
 
“Sekitar 2014, beberapa teman tuli internasional menunjukkan hasil dari Google. Saya cukup terkejut dengan tebakannya, benar bahwa saya juga memiliki tanda-tanda Waaerdenburg sindrom dan mewarisi dari salah satu orang tua,” kata Nia.

Tak Menyesali Keadaan

Orang tuanya menyekolahkan Nia di SDLB Santi Rama tempat yang sama dengan orang tuanya menimba ilmu dulu. Menguasai bahasa verbal dan isyarat memengaruhi kecerdasannya melebihi teman-teman seusianya. Masa sekolah dasar yang seharusnya diselesaikan delapan tahun berhasil dia tamatkan tiga tahun lebih cepat.

Meski begitu, ternyata wanita berhijab ini kesulitan saat coba menyelesaikan soal-soal di buku pelajaran sepupunya. Karenanya Nia termotivasi melanjutkan ke SMP umum karena ingin merasakan persaingan. Tak semudah itu, Nia mengalami penolakan dengan alasan tidak ada guru yang siap mengajar. Akhirnya Nia bisa sekolah di SMP swasta berakreditas A dan islami.

Masa-masa SMP pula yang Nia rasa sebagai titik terberat dalam hidupnya karena dia pertama kali benar-benar sendirian menghadapi dunia dengar. Seperti diungkapkan dalam caption sebuah foto yang diunggah ke akun Instagram-nya, Nia tak pernah menyesali pendengarannya ‘diambil’ sejak lahir.

Jika semasa kecil dia merasa dirinya berbeda, namun Nia belum menyadari sepenuhnya karena ibu atau pengasuhnya sudah lebih dulu membela hingga membuatnya lupa bersedih. Tapi berbeda saat dia di SMP.

“Berawal dari fitnah seorang teman, saya tidak ada selesainya menghadapi bullying, dari verbal sampai fisik. Ini seakan menjadi jawaban kenapa saya merasa berbeda. Jika ada teman yang mendiskriminasi saya, guru tak ada yang percaya. Saya sampai dua kali di panggil ke Bimbingan Konseling. Saya perlahan depresi, kesulitan mengikuti pelajaran, sampai turun ranking secara drastis dan malas sekolah,” ungkapnya.

 Perubahan itu dirasakan ibundanya. Setelah mendengar kisahnya, sang ibu menyarankan guru untuk lebih memantau proses perkembangan belajar Nia sambil mengawasi sikap teman-temannya.

“Saya juga belajar mengabaikan bullying atau jika perlu, berani melaporkan pelaku bullying. Itu yang terpenting untuk melindungi diri. Moral itu masih saya pegang sampai sekarang. Saya makin terbiasa bijak menghadapi pelaku bullying,” jelasnya.

Oleh karena itu Nia juga tak ragu melapor saat mengalami kekerasan verbal dari salah satu pengemudi ojek online saat mengetahui kekurangannya. Kontan saja pengalamannya ini viral di media sosial sampai diliput media massa.

----
Teks: Arimbi Tyastuti
Foto: Dok. Pribadi

 

Kisah, Tuna Rungu, Annisa Rahmania, korban bully

Artikel Terkait

Comments