Waspada Depresi Selebgram

Waspada Depresi Selebgram

Kegemaran masyarakat milenial Indonesia terhadap Instagram belakangan kian menggila. Muncullah para selebritis di dalamnya. Bukan hanya remaja dan ibu muda, tak sedikit anak-anak balita mendapat gelar sama.

Tentu saja mereka belum dapat mengoperasionalkan media sosial. Bahkan sejatinya belum dapat memiliki akun sendiri sebelum usianya 13 tahun. Namun jamak terjadi, bayi yang baru lahir saja langsung punya akun Instagram. Pemegang akunnya siapa lagi kalau bukan orangtuanya. Alasannya sebagai album elektronik untuk mendokumentasikan tumbuh kembang buah hati.

Psikolog Anak & Keluarga Amanda Margia Wiranata mengatakan, tak ada salahnya mengekspresikan kebahagiaan memiliki buah hati dan membanggakan tumbuh kembangnya. Namun ketika seorang anak disukai sebagian penduduk Instagram dan lantas mendapat gelar Selebgram (selebritis Instagram), orang tua harus lebih waspada.

Salah satu yang harus diwaspadai adalah potensi cyber bully. Karena selain sanjungan, bukan tidak mungkin muncul hujatan.

“Anak yang tidak tahu apa-apa karena fotonya diposting oleh ibunya atau orang lain, bisa tiba-tiba mendapat komentar tidak pantas atau dijelek-jelekkan oleh orang yang tidak dikenal pula. Itu yang sebetulnya perlu kita protect dari anak-anak kita,” tutur Amanda Margia Wiranata mengingatkan.

Amanda demikian sapanya menambahkan, saat ini anak memang tidak tahu karena belum juga bisa membaca. Namun jangan sampai dalam perjalanan hidupnya nanti kepribadiannya dibentuk oleh persepsi orang lain.

“Dia hanya mengikuti apa yang dikatakan orang lain. Misalnya, ‘kamu cantik.’ Tanpa dia paham cantik itu seperti apa, sehingga dia tidak menemukan jati diri sesungguhnya dia itu apa,” katanya.

Kuatkan Mental Anak
    
Lebih bahaya lagi jika anak tumbuh dengan benar-benar bergantung pada penilaian orang lain.

“Konsepnya ditentukan oleh penilaian sosial. Jika kemudian nanti misalnya ada yang komentar, ‘ih kok sekarang pipinya tembem,’ lalu langsung menguruskan badannya,” ungkap Amanda seraya menyontohkan.

Hal di atas menurut Amanda menunjukkan seseorang takut tampil apa adanya. Apalagi ditambah kebiasaan mengambil gambar berulang demi mendapat yang sempurna untuk diposting di instagram.

“Akhirnya bertopeng. Apalagi saat menjadi selebriti ada banyak tuntutan dari sekitar. Di sini harus menjaga begini, di sana begitu. Bahaya jika seseorang melakukan sesuatu hanya untuk memenuhi harapan orang lain tanpa paham esensinya,” lagi Amanda mengingatkan.

Selanjutnya, jika seseorang merasa telah berusaha memenuhi harapan orang lain namun tetap saja ada komentar negatif, bukan tidak mungkin menjadi depresi.
 
“Contoh aktor Robin William. Suatu ketika dihujat, ‘kok sekarang tidak berprestasi, kok sekarang filmnya jelek-jelek?’ Nah karena dia tertuntut untuk terus membuat prestasi demi memenuhi harapan banyak orang, akhirnya dia stres dan berujung depresi,” Amanda kembali mencontohkan.

“Orang dewasa saja depresi, apalagi anak yang masih dalam masa pertumbuhan yang rawan. Maka kita jagalah! Jangan sampai dia terkena paparan sebelum pribadinya kuat. Mungkin nanti baru kuat setelah lewat masa pubertas. Itupun harus dibekali kekuatan untuk menghadapi segala kemungkinan dalam hidup ini,” pungkas Amanda.

---
Teks: Kristina Rahayu Lestari
Foto: Istimewa