Natasha I. Permatasari : Jembatan Militer Inggris & Indonesia

Natasha I. Permatasari : Jembatan Militer Inggris & Indonesia

Wajahnya ayu penuh kelembutan khas putri Solo, penampilannya fashionable dengan busana yang selalu pas melekat di tubuhnya. Siapa sangka pekerjaan Natasha Indira Permatasari kerap bersinggungan dengan dunia militer yang maskulin.

Bukan hanya penampilan, latar belakang pendidikan Nana pun sebenarnya bertolak belakang dengan bidang pekerjaan yang dia jalani ini. S1-nya jurusan Jurnalistik di Universitas Pelita Harapan, sementara gelar master yang didapatnya dari Inggris adalah international marketing.

“Sebenarnya saya sempat dapat program beasiswa untuk bidang broadcasting di Inggris. Tapi nggak tahu kenapa, waktu itu nggak sreg. Justru saya tertarik menekuni marketing ketika diminta orang tua untuk kuliah lagi,” ungkap wanita yang sempat magang dan ditarik menjadi karyawan salah satu televisi swasta ini.

Namun baik dunia jurnalistik maupun marketing rupanya kurang menantang dia tekuni secara profesional. Buktinya, nama Natasha Permatasari sudah 11 tahun tercatat menjadi bagian atase pertahanan kedutaan negara Inggris di Indonesia.

Tugasnya menjembatani komunikasi dan kerjasama antara militer Inggris dengan militer Indonesia. Rahasianya menurut Nana, demikian Natasha akrab disapa, adalah keluwesan dalam berkomunikasi.

“Sebagai perempuan kita lebih bisa berkomunikasi dengan halus. ‘Gimana pak, apakah bisa dibantu untuk kelancarannya? Semacam itu dan lainnya,” jelas Nana menirukan.

Wanita kelahiran, Jakarta, 26 Mei 1981 ini merasa beruntung banyak pelatihan yang bisa dia ikuti untuk menunjang pekerjaannya. Dengan begitu Nana berharap dapat lebih maksimal dalam menjembatani kerjasama antara dua negara.

“Karena menurut saya kerjasama militer itu penting untuk kedua belah pihak. Nantinya kerjasama itu dapat meningkat, diikuti dengan berbagai hal. Misalnya joint training atau yang sekarang sudah berjalan berupa kursus-kursus singkat,” ujarnya.

Perkenalan Tak Sengaja

Perkenalan Nana dengan dunia pertahanan rupanya terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu dia membuka website kedutaan Inggris untuk berburu prosedur mengurus visa. Namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan info lowongan kerja di kantor pertahanan duta besar tersebut.

Waktu pendaftaran nyaris berakhir. Pendidikannya pun jauh dari dunia pertahanan. Namun karena terlanjur tertarik, Nana tetap saja mencoba.

“Hari ini kirim, besok pagi sudah tutup. Tapi rupanya begitu saya keluar dari gedung kedutaan dapat telepon. Katanya saya diterima. Benar-benar nggak menyangka, kok cepat banget prosesnya. Saya benar-benar beruntung waktu itu,” lanjut ibunda Maghali Wiawa Hetaria dan Paradisha Arva Hetaria ini bersyukur.
    
Ketertarikan sedari awal rupanya membuat Nana nyaman bekerja. Apalagi disela kesibukan, dia selalu bisa mencuri waktu untuk diving. Tentang bagaimana akhirnya ia jatuh cinta terhadap dunia bawah laut ini, Nana mengaku ‘diracuni’ oleh salah seorang temannya.

Mulanya Nana hanya menggemari snorkeling. Namun begitu mencoba diving, seketika ia jatuh cinta.

“Dari situ aku aku pengin diving lebih dalam dan lebih lama lagi. Setelah itu aku ikut kelas advance. Sekarang terhitung sudah belasan kali aku diving. Terakhir diving di Tanjung Bira. Next ke Gorontalo,” papar Nana yang bergabung dalam grup Kristal Klear Dive Indonesia.

Belakangan Nana menularkan keseruan ber-diving pada suami tercinta, Novtali Alain Delon Hetaria.


----
Teks: Dewi Muchtar
Foto: Zulham