Susi Susanti: Berkah Bawang Goreng Pengobat Rindu

Susi Susanti: Berkah Bawang Goreng Pengobat Rindu

Keinginannya untuk berwirausaha memang sangat kuat. Karenanya, meski setelah lulus kuliah sempat mencari kerja, Susi pilih kembali ke niat awalnya mendirikan usaha sendiri. Berbagai usaha pernah dicoba, sampai akhirnya mulai terlihat kala berjualan bawang goreng di salah satu marketplace terkemuka.  

Deretan bawang goreng yang sudah dibungkus berjejer rapi di atas meja. Di sebelahnya. sebuah mesin sealer siap digunakan untuk mengemas produk bertuliskan Nirwana Bawang Goreng. Sementara sang empunya produk, Susi Susanti, memasukkan bawang goreng ke dalam kemasan-kemasan yang siap dijual. Begitulah pemandangan Jumat siang itu, 13 Juli 2018 di kediaman Susi Susanti di Kota Palu. Susi yang hari itu mengenakan gamis merah marun senada dengan warna kerudungnya, bercerita tentang perjalanannya berwirausaha hingga bisnis bawang goreng Palu yang saat ini ditekuninya.  

Dimulai dari masa kuliah, bungsu dari enam bersaudara ini pernah berjualan baju dan rujak buah. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi, Universitas Tadulako, Palu di 2013, Susi sempat mencari kerja dan diterima di sebuah perusahaan tambang. Tapi tidak diambil dan pilih bantu menjaga kios kelontong orang tuanya yang hanya dijaga sang ibu setelah ayahnya tiada. Ditambah dari buku-buku motivasi yang dibacanya, Susi semakin yakin untuk berwirausaha.

“Kodratnya wanita kan sebagai ibu rumah tangga, dalam Islam pun seperti itu. Saya juga dengar ceramah kalau wanita sebaiknya di rumah, jadi madrasah untuk anak-anaknya,” papar wanita 28 tahun ini.

Agar tetap bisa menghasilkan uang, menurutnya, berwirausaha bisa menjadi solusi. Dengan harapan, setelah menjadi ibu rumah tangga, tetap bisa mengurus keluarga dan menghasilkan uang dengan bekerja dari rumah. Saat itu, sambil menjaga kios orang tuanya, Susi berjualan keripik pisang. Dia sendiri yang mengantar keripik-keripik tersebut ke toko-toko di Palu, alhasil bisnisnya keteteran.

“Sepertinya bisnis keripik pisang saya saat itu juga tidak berkembang, ditambah, saat itu pasokan pisang terkendala dan kalau seperti itu terus, saya kelelahan karena masih harus menjaga kios juga,” tambah wanita kelahiran Palu, 30 April 1990 ini.

Ongkos Kirim Lebih Mahal

Susi putar otak mencoba usaha baru yang bisa ia kerjakan sambil menjaga kios. Dari mengikuti kelas bisnis online, Susi mendapat pengetahuan baru dan mendapat ide untuk berjualan online. Kala itu di 2016 dia pilih berjualan bawang goreng yang merupakan ciri khas kota asalnya. Ibundanya pun biasa menerima pesanan bawang goreng sehingga bisa membantu proses produksinya. Bermodalkan 500 ribu rupiah, dia membuat bawang goreng yang kemudian coba dipasarkan melalui media sosialnya.

“Ternyata direspon baik, malah dari orang-orang di luar Palu seperti Depok, Bogor dan Jakarta Selatan. Saya senang sekali saat itu,” tuturnya.

Susi sebenarnya kurang suka bawang goreng karena aroma bawang yang menurutnya aneh. Di sisi lain, ia heran mengapa banyak yang berminat. Setelah melakukan survei kecil-kecilan, ia bertanya kepada para ibu yang suka memasak yang menurut mereka wajib menaburkan bawang di atas masakan.

“Dari situ saya anggap ini peluang,” kenangnya.

Kemudian Susi disarankan temannya untuk berjualan di marketplace Bukalapak dan ia menargetkan pembelinya dari luar Palu karena di kotanya sendiri sudah sangat banyak penjual bawang goreng. Benar saja, dari situ permintaan dari pembeli terus berdatangan bahkan pembelinya sampai ke Papua. Mereka rela membayar ongkos kirim yang lebih mahal dari harga bawang goreng yang mereka beli.

“Ternyata laku, mulai deh ketagihan dan terus berjualan di Bukalapak karena lebih simple ketimbang berjualan di sosial media juga aman, mudah dan terpercaya,” jabarnya. 

Bawang goreng Palu yang dijual Susi memang istimewa. Ia sengaja memilih bawang batu khas Palu untuk produknya. Bawang merah itu hanya tumbuh di Lembah Palu yang lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Unsur hara tanahnya yang berbeda dan kandungan air yang sedikit membuat rasanya lebih gurih dan renyah bila digoreng. Inilah yang membedakan bawang di Palu dan kota lainnya.

“Bawangnya mungkin bisa tumbuh di kota lain, tapi rasanya belum tentu sama saat digoreng,” sambung Susi.

Keunikan bawang yang pertumbuhannya dipengaruhi cuaca ini kadang memang menjadi kendala. Sebelumnya, ia pernah kehabisan stok dan mendatangi langsung lokasi pertanian bawang di Sigi. Tapi kini, Susi menjalin kerja sama dengan penyedia bawang-bawang tersebut sehingga memudahkan proses produksinya.

Untuk merek, Susi menggunakan nama Nirwana, seperti nama kios orang tuanya. Awalnya, Susi baru memproduksi setelah stoknya habis. Kini, ia bisa memproduksi seminggu sekali sampai dua kali dan jika ditotal dalam sebulan bisa mengolah sekitar 100 kg bawang merah mentah menjadi bawang goreng. Jika awalnya sang ibu yang bertugas menggoreng bawang, kini untuk bagian produksi Susi sudah memercayakan pada dua karyawannya. Tak mudah memang mengolah bawang merah batu. Untuk mengirisnya saja harus secara manual menggunakan tangan dan pisau cutter.  

“Bawang goreng ini ‘manja’, kalau salah goreng sedikit saja, warnanya jadi merah hitam dan tidak bisa dijual,” ungkapnya.

Bawang gorengnya juga seolah menjadi pengobat rindu bagi orang Palu. Dari yang Susi tahu, banyak pembeli bawang gorengnya adalah orang Palu yang sedang merantau. Ada pula yang pernah merasakan bawang goreng Palu lantas rindu ingin mencoba lagi dan membeli di lapaknya.     

“Salah satu pengobat rindunya orang Palu yang merantau ya dengan makan bawang goreng ini,” tambahnya.

Serba Memudahkan

Produk utama yang dijual di lapaknya memang bawang goreng, tapi selain itu ia juga menjual produk dari UKM lain seperti sambel roa, keripik bawang, ikan penja duo, kacang goyang dan lainnya. Bawang goreng buatannya dibanderol mulai dari 30 ribu rupiah ukuran 100 gr sampai 300 ribu rupiah untuk ukuran 1 kg. Setiap bulannya, untuk ukuran 100 gr bawang goreng buatannya bisa laku sampai 100 bungkus.  

Untuk meningkatkan penjualan, Susi pun memanfaatkan berbagai fitur menarik di Bukalapak seperti memberi harga promo. Ia bersyukur, berjualan melalui e-commerce seperti ini melancarkan usahanya. Kini, Susi menjadi satu di antara tiga juta pelapak di Bukalapak yang mendapat predikat pelapak sukses di kotanya. Lantas, apakah Susi sudah merasa sukses sesuai predikat yang tersemat padanya?

“Definisi sukses kan berbeda tiap orang, alhamdulillah saat ini saya sudah merasa sukses karena saya bahagia, bisa membantu orang lain, bisa memberi dan menikmati prosesnya,” paparnya.

Untuk di kotanya, sebenarnya Susi masih ‘pemain baru’ di usaha bawang goreng Palu karena sudah banyak yang lebih dulu merintis usaha ini. Kesabarannya pun di uji karena pada awalnya tak selalu ada yang membeli bawang gorengnya. Ditambah jika ada yang komplen mengenai lambatnya pengiriman karena wilayah tujuan yang memang jauh. Tapi, karena menjalani bisnis ini secara online, Susi merasakan keasyikan tersendiri.

“Alhamdulillah, kapanpun ada yang order dan tidak terbatas wilayah jangkauannya, memudahkan. Asal target kita pas dan promosinya bagus,” urainya.

 

----

Foto: Arimbi