3 Penyebab Penyakit Ginjal Bisa Menyerang Anak

3 Penyebab Penyakit Ginjal Bisa Menyerang Anak

Tidak berbeda jauh pada orang dewasa, berbagai penyakit bisa saja hinggap pada anak. Salah satu yang menghantui para orang tua adalah penyakit gangguan ginjal.

Ada tiga hal yang harus diketahui oleh orang tua sejak awal yang menyebabkan seorang anak mengalami penyakit ginjal. Seperti yang diungkapkan oleh dokter spesialis anak RSCM departemen ilmu kesehatan anak, divisi nefrologi, dr. Cahyani, Sp.A(K).

Pertama yang perlu diketahui adalah adanya kelainan urine yang ditandai dengan warna urine berbeda atau volume urine yang keluar tidak normal. Urine normal berwarna kuning jernih dengan volume keluar banyak dan lancar, tidak terputus atau tersendat-sendat. Yang perlu diwaspadai adalah ketika urine berwarna kuning pekat, coklat, merah atau bahkan kehitaman. Termasuk juga jika urine berbuih atau berbusa dan keluar dengan volume yang tidak normal.

Hal kedua yang diperhatikan adalah tekanan darah. Dikatakan  dr.Cahyani, semakin  besar usia, biasanya makin besar tekanan darah normalnya.

“Secara umur kita harapkan sampai dengan usia remaja, tekanan darah anak  tidak boleh melebihi 120/80. Jadi kalau tekanan darah lebih dari 120/80 pada anak, itu berarti dia hipertensi dan indikasinya dia ada kelainan,” jelas dr. Cahyani dalam acara ‘Kidney City Tour 2018 - Fight Kidney Disease, Cause I'm a Warrior".

Terakhir, atau yang ketiga, orang tua harus lebih memperhatikan anak obes atau mengalami kegemukan akibat kelebihan berat badan. Berdasarkan data Unicef dari World Children Report 2012, sebanyak 12,2 persen anak-anak di Indonesia menderita obesitas. Angka ini mendudukkan Indonesia dalam urutan pertama  di Asean.

Rutin Periksa Kehamilan

Saat anak mengalami obesitas, biasanya tekanan pembuluh darahnya tidak stabil. Hal ini ditunjukkan dengan kualitas pembuluh darah itu sendiri, seperti tidak elastis atau kenyal. Hal ini memicu kolesterol dan tingginya asam uratnya.

“Tidak berbeda dengan orang dewasa, kelainan pembuluh darah juga menyebabkan anak mengalami hipertensi atau gangguan darah tinggi. Kemudian imbasnya menjadi gangguan fungsi ginjal. Kalau obesitas pada masa anak, mempunyai potensi untuk kemudian berkembang menjadi diabetes mellitus pada saat dewasanya,” papar Cahyani.  

Saat ini pusat ginjal khusus untuk anak baru tersedia di RSCM dengan jumlah pasien cuci darah sebanyak 25 anak. Lalu, pasien cuci darah dengan selaput dinding perut berjumlah 33 anak. Transplantasi ginjal baru ada sebanyak 8 anak. Keseluruhan jumlah itu datang dari berbagai kota dan pulau.

“Tapi sebetulnya angka tersebut masihlah jauh dari angka sebenarnya. Permasalahannya  kalau dari pulau yang jauh, itu kan punya kendala. Mulai dari biaya transportasi ke Jakarta, lalu biaya deteksinya. Kami sering dapat telepon dari luar kota yang khusus berkonsultasi mengenai pasien para dokter di puskesmas atau RSUD,” papar Cahyani, lagi.

Jika ditelaah lagi, banyak kasus anak penderita gangguan ginjal di Indonesia lebih banyak ditemukan akibat bawaan lahir. Hal ini bukan disebabkan kesalahan makan, minum obat atau diturunkan dari bapak ibunya. Tapi memang Tuhan sudah memberikan bentuk serta kondisi ginjal yang sedemikan rupa.  

“Tidak ada upaya pencegahan yang dapat dilakukan selain deteksi sejak dini. Jika ditangani dari awal kita bisa lakukan berbagai upaya, misalnya operasi lebih dini. Dengan begitu kita bisa menghindari terjadinya kerusakan permanen pada ginjal. Ketika ada 3 indikasi yang saya sebutkan tadi, yaitu kelainan urine, tekanan darah dan obesitas, segeralah periksakan anak Anda,” saran Cahyani.(DM)