Risiko Bagi Anak Perempuan Pada Pernikahan Dini

    23 July 2018
Risiko Bagi Anak Perempuan Pada Pernikahan Dini

Pernikahan dini, atau perkawinan usia anak tampaknya masih rentan terjadi di beberapa negara, khususnya negara berkembang. Di Indonesia sendiri, pernikahan di usia kurang dari 17 tahun masih banyak terjadi pada masyarakat yang tinggal di pedesaan atau daerah tertinggal. Pengetahuan para orang tua yang masih minim terkait risiko perkawinan usia anak, menjadi faktor utama.

Menyambut Hari Anak Nasional 2018, Sequis mengajak masyarakat untuk berperan meningkatkan kesadaran akan bahaya perkawinan usia anak karena anak memiliki hak untuk mewujudkan hari esoknya yang lebih baik dan berkesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Kita perlu menyadari bahwa perkawinan usia anak adalah masalah yang sangat serius karena ada berbagai risiko yang ditimbulkan. Salah satunya adalah risiko kesehatan terutama pada remaja perempuan jika melakukan hubungan seksual, hamil dan melahirkan. Juga terdapat risiko yang mengintai janin yang dikandung serta anak yang dilahirkan,” tambah Eko Sumurat, Vice President of Life Operation Division Sequis.

Lantas apa saja sih risiko yang mengintai para remaja perempuan yang melakukan perkawinan usia anak? Yuk simak penjelasan dari dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan OMNI Hospitals Alam Sutera, dr. Handojo Tjandra, MD., Mmed O&G (M’Sia), Sp.OG., dan Head of Health Claim Department Sequis, dr. A.P. Hendratno.


Risiko Bagi Sang Ibu  

Dr. Handojo mengungkapkan, bahwa secara anatomi, tubuh remaja perempuan belum siap untuk proses mengandung dan melahirkan. Organ-organ reproduksi mereka belum berkembang dengan sempurna.

“Seseorang yang sudah mengalami pubertas belum dapat disebut dewasa. Karena pubertas menandakan si anak memasuki masa remaja. Pada masa ini, organ reproduksi mulai bertumbuh dan baru berkembang menuju kedewasaan jadi sebaiknya tidak digunakan untuk melakukan hubungan seksual dan reproduksi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dikuatkan dr. Hendratno. Menurutnya, masa pubertas pada remaja putri terkait dengan mendapatkan haid dan tidak berhubungan dengan dewasa secara biologis maupun mental. Organ reproduksi pun bertumbuh tidak persis sama untuk setiap orang, biasanya antara usia 16 -22 tahun. Organ intim berfungsi 100%  biasanya ketika mencapai minimal 3-5 tahun pascahaid. Perkawinan usia anak biasanya tidak didasari oleh pengetahuan reproduksi dan secara anatomi tubuh pun belum siap untuk melakukan hubungan seks dan melahirkan

“Hubungan seksual yang dilakukan di usia kurang dari 17 tahun dan dilakukan dengan paksaan, tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi mengandung risiko terkena penyakit menular seksual, penularan infeksi HIV, dan kanker leher rahim,“ kata dr Hendratno.  

Hal ini karena organ reproduksi anak perempuan belum siap untuk melakukan hubungan seksual. Ukuran rahim remaja putri pun belum siap untuk kehamilan dan ukuran  panggul pun belum siap sepenuhnya untuk persalinan. Sehingga, persalinan pada masa remaja dapat meningkatkan risiko persalinan caesar dan komplikasinya.

“Jika dipaksa hamil dan bersalin, dapat menimbulkan komplikasi dan persalinan caesar karena ukuran panggul yang sempit, serta menimbulkan bekas caesar pada rahim seperti plasenta akreta (perlengketan ari-ari pada rahim). Pada paska persalinan juga rentan terjadi pendarahan,” imbuh dr Handojo.


Risiko Bagi Bayi

Selain berisiko pada ibu ketika hamil atau melahirkan, perkawinan usia anak juga berisiko pada janin atau anak yang dilahirkan seperti kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan bayi rendah dan stunting (tubuh kecil dan pendek serta ukuran otak kecil).

“Masa kehamilan adalah masa pertumbuhan badan bagi ibu. Pada tahap ini, terjadi persaingan nutrisi antara janin dan ibu. Hal ini dapat mengakibatkan  defisiensi nutrisi. Akibatnya berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, terkena anemia. Sedangkan pada janin, berisiko lahir dengan berat lahir yang rendah. Anak yang lahir prematur, di masa depannya akan berisiko terkena komplikasi sindroma metabolik (obesitas, diabetes mellitus, hipertensi dll),” ujar dr Handojo.

Risiko lainnya menurut dr Handojo adalah dapat terjadi kematian pada janin. “Karena anatomi panggul remaja perempuan masih dalam pertumbuhan sehingga proses persalinan dapat menjadi lama. Akibatnya bayi mengalami kekurangan oksigen, dapat tercemar air ketuban, terinfeksi bakteri, dan ritme jantung melemah. Hal ini rentan menyebabkan kematian pada bayi” imbuhnya. Ia juga mengatakan bahwa kematian pada bayi juga dapat terjadi jika pada persalinan ibu dalam keadaan depresi, karena tekanan darah meningkat sehingga rentan terjadi kejang sesaat setelah melahirkan (eklamsi).(Nyd)

----
Foto: Freepik

anak, hari anak, hari anak nasional, pernikahan dini, perkawinan usia anak

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments