Resa Boenard Harus Bertahan Hidup Jika Ingin Terus Berkiprah di BGBJ

Resa Boenard Harus Bertahan Hidup Jika Ingin Terus Berkiprah di BGBJ

Kebangkrutan orang tuanya membawa Resa Boenard ke jalan yang ia pilih saat ini. Dibantu oleh seseorang untuk bisa berkuliah, dan membuatnya pernah merasakan tawaran bekerja dengan gaji 42 juta sebulan, Resa kini malah aktif sebagai salah satu sosok yang dikenal peduli akan sampah plastik dan rongsokan.

Tak dipungkiri, nyatanya menjalankan sebuah pekerjaan sosial tak bisa mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Sebagai jalan keluar, ia menjalankan pekerjaan paruh waktu agar bisa melanjutkan kegiatannya di BGBJ.

“Sementara ini saya bisnis macam-macam, mulai dari batik atau baju tertentu. Jika ada yang order saya pesen ke outlet. Saya juga bekerja sebagai konsultan bisnis sampah,” ujarnya.
    
Klien Resa adalah orang-orang yang ingin membuka lapak sampah dan juga pemerintahan daerah yang punya program mengajarkan pengelolaan sampah.
“Klien pemerintahan lebih banyak. Mereka tahu dari mulut ke mulut atau lihat saya di media lalu mengundang. Karena kami sempat juga punya perusahaan daur ulang sampah plastik, namanya Because Iam A Girl,” cerita Resa mengenang.
    
Usaha daur ulang sampah plastik itu didukung oleh Crocs Eropa. Teknisnya, sampah plastik yang terkumpul dibersihkan lalu disobek menjadi potongan lebar kemudian di-press dengan alat khusus. Tumpukan sampah plastik yang telah bersih dan rapi lantas dikirim ke perusahaan pengolahan untuk dijadikan biji plastik.
    
“Sebenarnya mau dimanfaatkan untuk membuat produk khusus Crocs, tapi karena satu dua hal persoalan birokrasi di Indonesia tidak jadi. Saya akhirnya capek dan berhenti di tahun 2012, usaha plastik tutup. Akhirnya saya hanya menjadi pembicara bisnis plastik,” ungkapnya.
    
Namun berkat perusahaan itu Resa pernah aku diundang ke Tokyo Jepang, menjadi pembicara di acara annual meeting World Bank dan IMF.

“Saya diundang sebagai Managing Director perusahaan recycling sampah di Indonesia. Suatu kebanggaan bisa bicara di konfrensi tingkat dunia. Saat itu ada menteri juga yang hadir. Mereka bilang, kami bangga punya anak bangsa seperti Mbak Resa. Tapi sampai di Indonesia seolah nggak kenal lagi hehehe,” curhat Resa.


    

Karena beberapa pengalaman tak menyenangkan terkait birokrasi pula Resa bersepakat dengan rekannya, John Devlin dan Gareth Rick untuk membangun perusahaan sosial, BGBJ LIMITED yang berpusat di Australia.
    
Resa menjelaskan, dalam naungan BGBJ LIMITED akan dikembangkan berbagai usaha dan juga yayasan untuk menghasilkan uang demi kelanjutan pembangunan komunitas di Bantar Gebang. Untuk di Indonesia namanya PT. Bantar Gebang Biji.
    
Harapannya usaha itu berkembang sehingga makin banyak anak miskin di Bantar Gebang tertolong untuk memperbaiki masa depannya.   
 
“Semoga tahun ini kami dapat menyelesaikan pembangunan workshop kayu. Jadi kami membuat produk kayu dari pembuangan sampah. Kita buat seperti souvenir, juga papan-papan petunjuk seperti London berapa kilometer, Amsterdam berapa kilometer. Atau juga tulisan Merry Christmas, Happy Valentine dan sebagainya. Produk itu sudah berhasil kita jual ke Finlandia, Amerika dan lainnya melalui tamu-tamu yang datang. Nanti Idul Fitri kita juga buat kerajinan dari kayu-kayu sampah. Semoga berjalan baik sehingga anak-anak memiliki kebanggaan karena dapat menghasilkan uang dengan karyanya,” pungkas Resa seraya memanjatkan doa.(TR)

----
Foto: Dok. Pribadi.

profil, kisah, Resa Boenard, wisata Sampah

Artikel Terkait

Comments