Arifin Putra: Jadi Toa

Arifin Putra: Jadi Toa

Dalam sebuah perjalanan syuting di Washington DC, seorang warga setempat menyapa Arifin Putra dengan panggilan Mr. Putra. Karena tidak familiar dengan panggilan itu, Arifin cuek saja. Tapi begitu dipanggil beberapa kali dia pun sadar bule itu menyapanya. Mr. Putra from ‘The Raid’?, ‘Yes I am. Hi’, jawabnya tersipu malu.
    
Pengalaman itu membekas di hati Arifin hingga kini. Terpikir olehnya untuk  semakin selektif menerima tawaran film. Keterlibatannya di film The Raid 2 membuktikan bahwa kualitas sebuah film sangatlah berpengaruh pada perjalanan kariernya. Tawaran akting datang tidak saja dari negeri sendiri.
    
Skalanya memang belum sekelas Hollywood. Tapi rasanya Arifin boleh bangga karena belakangan ia lebih banyak wara-wiri syuting untuk proyek film atau serial yang penayangannya di sejumlah televisi yang terjaring dalam HBO Asia Tenggara.
    
“Aku beberapa kali syuting untuk serial di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darusalam. Sempat juga main untuk serial Halfworlds HBO Asia. Waktu itu syutingnya di Batam, tayangnya di seluruh Asia Tenggara dan Cina. Seru sih, jadi kaya pengalaman,” urai Arifin seraya mengembangkan senyumnya.
    
Sesungguhnya Arifin tak menyangka akan berjalan sejauh ini. Apalagi jika mengenang awal mula terjun ke dunia hiburan.
    
Arifin ingat, saat itu sebenarnya ia hanya mengantar kakaknya menjalani kasting iklan. Tak dinyana ia ditawari menjadi figuran. Tak ingin menolak kesempatan, Arifin mencoba menjalaninya. Ternyata seru! Arifin kemudian mengeksplor lebih dalam bakatnya di dunia seni peran. Adalah Sinetron Senandung Masa Puber dan Kisah Kasih Di Hari Minggu yang melejitkan namanya. Perlahan Arifin beralih ke film yang membuatnya merasakan kepuasan lebih.

“Aku merasa lebih cocok di film. Kalau di sinetron, sekalinya kita main satu karakter bagus, berikutnya dikasih karakter yang mirip-mirip terus. Bahkan jika berada di satu PH (production house), sejatinya kita nggak benar-benar dikasih pilihan. Pilihannya hanya, ‘Ada judul baru lagi nih, mau diambil atau nggak? That’s it,” ungkapnya.

Namun Arifin mengaku sangat bersyukur boleh mencicipi dunia televisi. “Bahkan boleh dibilang aku besar di sana. Aku sempat beli rumah juga gara-gara itu,” kenang Arifin penuh syukur.

Ahlinya Orang Jahat

Arifin menambahkan, di film setiap pemain punya kebebasan mengembangkan karakter. Jadwal kerjanya pun relatif tertata.

“Misalnya per proyek kita syuting 3 bulan. Kalaupun mundur paling sebulan. Tapi kalau di serial teve, kita bisa jadi tahanan kota, nggak bisa kemana-mana. Bosan sih nggak, cuma mau mencoba sesuatu yang baru. Di film saya bisa bermain di banyak karakter yang aneh-aneh,” ujarnya kembali tersenyum.

Bersyukur pula peran-peran itu berbuah berbagai penghargaan. Tahun 2011 misalnya Arifin dinobatkan Kaskus Award (Kufi) sebagai ‘Best Supporting Actor’ melalui film Rumah Dara. Tahun 2015 ia meraih Piala Maya ‘Best Supporting Actor’ lewat film The Raid 2. Masih di tahun yang sama, lewat ajang IMA 2015 Arifin diganjar ‘Best Supporting Actor’ di The Raid 2.

Hasil selanjutnya, Arifin mendapat beberapa tawaran pekerjaan untuk tayang secara internasional. Terakhir Arifin baru saja menyelesaikan Foxtrot Six. Film ini diproduseri oleh Mario Kassar yang telah berpengalaman memproduksi sejumlah film box office Hollywood, diantaranya Rambo, Basic Instinct, Terminator 2: Judgement Day dan Total Recall.

Arifin mengatakan film bergenre action-science fiction ini telah masuk jadwal rilis secara internasional di Festival Film Cannes 2018. Walau begitu Arifin menegaskan, dirinya tidak membatasi pekerjaan dari rumah produksi negeri sendiri. Karenanya dalam waktu dekat ini Arifin akan menjalani syuting film terbarunya, Fate and The City produksi MD Productions.

Di film yang juga dimainkan oleh aktris Titi Kamal ini, Arifin bakal mengembalikan sisi romantisme yang belakangan tak pernah diasahnya.
    
“Belakangan film-film aku kan action, makanya sempat dibilang ahlinya orang jahat. Begitu dapat tawaran film ini rasanya menarik. Genrenya drama romantis,” ungkap Arifin.

Duta WWF

Selain membuka jalan kariernya lebih lebar, penghargaan yang diterima Arifin juga menyadarkannya, bahwa sebagai pesohor dia bisa memberikan kontribusi lebih bagi negara. Jika diibaratkan Toa, maka suaranya bisa didengar banyak orang dalam setiap kampanye perubahan.

“Seperti sekarang aku menjadi duta WWF. Saat ini sedang ada program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP). Program ini berlangsung di 8 negara, salah satunya Indonesia. Tujuannya melestarikan dugong dan habitat padang lamun (sejenis rumput laut),” jelas Arifin.

Ia mengungkapkan, populasi dugong dan habitat padang lamun di Indonesia belum banyak diketahui. Padahal dugong sudah termasuk kategori satwa yang dilindungi.

“Kemarin aku juga sempat bantu-bantu untuk pelestarian harimau dan gajah di Sumatera. Lalu sempat ke Papua juga untuk kampanye perlindungan hiu paus,” ujarnya.

Di luar aktivitas bersama WWF Arifin kerap diminta berbagi pengalaman sebagai aktor di sebuah sekolah akting.

“Lebih pada sharing pengalaman aku aja sih. Karena yang sering terjadi di Indonesia, sudah belajar pun masih nggak tahu harus ngapain ketika terjun. Harus kemana, ketemu siapa, siapa yang bisa dipercaya dan lain sebagainya. Nah aku berusaha membagi pengalaman aku ketika memulai karier. Termasuk jatuh bangunnya,” pungkas Arifin. (DM)

---
Foto: Raja Siregar

seleb, arifin putra, selebritis, indonesia

Artikel Terkait

Comments