Melati: Rumit Tapi Tidak Mustahil

Melati: Rumit Tapi Tidak Mustahil

Meraih pendidikan tinggi bagi sebagian orang, khususnya wanita kadang masih menjadi kendala. Apalagi untuk kuliah di luar negeri. Ingin semua perempuan bisa mendapat kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan, Melati mengajak teman-temannya untuk berbagi kisah dan menyemangati para wanita Indonesia.

Sebuah buku bersampul merah muda dengan judul Neng Koala: Kisah-kisah Mahasiswi Indonesia di Australia tertumpuk rapi di pintu masuk sebuah aula kampus di Jakarta Barat. Hari itu Melati yang menginisiasi terbitnya buku ini berkumpul bersama para kontributor yang juga para mahasiswi dalam kisah-kisah tersebut untuk meluncurkan buku ini.

Awal terbentuknya wadah yang disebut Neng Koala ini adalah karena ia merasa resah akan seorang teman perempuan yang mencari beasiswa kuliah ke luar negeri. Diterima di Australia dan Jerman, ia akhirnya justru melepas kesempatan emas tersebut karena kurang didukung oleh keluarga dan kekasihnya. Saat itu di tahun 2012 Melati sudah bersama suaminya menempuh S2 di Australian National University.  

“Saya sangat prihatin dengan ceritanya, sedangkan saat itu di Australia saya lihat banyak perempuan Indonesia yang sudah berkeluarga, ajak suami dan anak, single mother dan lajang, bisa tetap kuliah walau tantangan banyak tapi dengan cara masing-masing agar bisa meyakinkan keluarga dan mencari beasiswa,” jelas wanita
Karenanya, wanita 33 tahun ini merasa perlu berbagi kisah perempuan lainnya yang berjuang keras dalam situasi berbeda untuk meraih pendidikan tingginya di luar negeri.

Seperti ditulisnya dalam buku tersebut, beberapa teman akhirnya berhasil ia ajak untuk menulis beragam pengalaman pribadi mereka saat kuliah di Australia. Semuanya sedang menempuh studi Master atau PhD dan sebagian besarnya lagi penerima beasiswa.  

Segala suka duka itu mereka tuangkan dalam blog www.nengkoala.id yang ternyata direspons baik pembacanya. Beberapa di antaranya terbantu mendapat beasiswa ke Australia dari informasi yang meraka dapat di Neng Koala.

Para kontributor yang berbagi kisah pun semakin banyak. Dari yang awalnya hanya belasan orang, menjadi lebih dari seratus orang. Hingga tercetus ide untuk membukukan kisah para Nengs (sebutan kontributor Neng Koala-red) agar lebih luas lagi jangkauannya. Tidak hanya dijual, buku ini juga disumbangkan ke komunitas relawan dan perpustakaan daerah.

Rencana selanjutnya, Melati berharap bisa berkolaborasi dengan platform pemberdayaan wanita lain di dalam dan luar negeri agar pesan untuk kuliah tinggi lebih besar dan jaringan menguatkan semangat lebih kuat. Pasalnya, hingga saat ini ia masih menemukan wanita yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi karena kurangnya dukungan dan kurangnya informasi.

“Padahal laki-laki dan perempuan punya kesempatan sama untuk meraih pendidikan tinggi,” kata Melati.(AR)

---
Foto: Zulham