Aruna & Lidahnya: Bikin Laper dan BAPER!

Aruna & Lidahnya: Bikin Laper dan BAPER!

Sekilas terlihat sepele ketika berbicara film bergenre makanan. Tapi dalam film Aruna dan Lidahnya makan seperti halnya tali penyatu. Di mana dari makanan mengalirklah sebuah kisah persahabatan, kisah cinta, bahkan petualangan kuliner Indonesia yang menggairahkan.

Syuting selama 25 hari dalam film Aruna dan Lidahnya membuat Dian Sastro dan Hannah tak bisa move on dari makanan yang mereka idolakan. Dalam wawancara eksklusif dengan Wanita Indonesia, dua wanita pemeran Aruna dan Nad ini membagikan pengalamannya.

“Kalau aku suka banget sama lorjuk. Menurut aku sih unik dan enak,” ungkapnya di Gedung Granadi Kamis, 6 September lalu.

Lorjuk menurut Dian adalah makanan khas Madura yang berasal dari kerang bambu yang berasal dari sawah-sawah liar dan hanya ada di Pamekasan - Jawa Timur di saat-saat tertentu (musiman).

Sementara itu, Hannah memilih bakmi kepiting yang menjadi favoritnya. Bakmi kepiting adalah makanan khas Pontianak dan disajikan dengan sambal bawang.

“Bakmi kepiting tuh tekstur mi nya enak banget, ditambah dengan kepiting yang ada cupit dan telornya,” papar dengan mata berbinar mengisahkan makanan yang menjadi favoritnya.

Menu Baru Perfilman Indonesia

Tentu makanan favorit tersebut bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa baik Dian maupun Hannah menerima tawaran film yang disutradarai Edwin tersebut. Menurut Dian Sastro alasan ia mengambil peran di film ini karena genre kuliner masih belum ada dalam perfilman di Indonesia. Dengan demikian ia bisa memberikan ‘menu baru’ dalam industri perfilman tanah air.

“Selain itu karena aku juga udah kenal lama Edwin, juga sama pemain-pemain lain rasanya udah nyambung dan nyaman aja. Makanya nggak susah dapetin chemistry-nya,” tutur pemain film Ada Apa Dengan Cinta ini.

Hannah memerankan Nad sebagai seorang kritikus makanan. Ia menyampaikan bahwa dirinya merasa tertantang bermain dalam film ini dan menyadari bahwa di era sekarang ini banyak orang yang bisa mengkritik makanan. Padahal makanan tak sekadar makanan, tapi di dalamnya terdapat nilai sejarah dan budaya. Termasuk budaya kecil seperti nongkrong.

“Dari situ juga aku mengerti bahwa makanan itu bisa menyatukan orang. Bagaimana obrolan serius itu tiba-tiba ketika makan akan menjadi berbeda,” tuturnya.

Adapun persiapan yang Hannah lakukan sebagai seorang kritikus makanan yaitu ia berulang-ulang menonton TV series tentang kritikus makanan. Termasuk di dalamnya cara mengomentari makanan, cara duduk serta budaya makan.

Sementara itu menurut Dian tantangan terbesar memerankan Aruna dalam film ini adalah ketika ia telah kenyang namun  harus berakting makan dengan nikmat.  

“Itu menurut aku yang susah. Ketika kita udah kenyang dan eneg tapi harus berperan seolah belum mencicipi makanan itu,” ujarnya.

Dian juga menambahkan bahwa ada 20 varian makanan yang ia cicipi. Jumlah tersebut berasal dari lima wilayah yang menjadi lokasi syuting film Aruna dan Lidahnya, yaitu di Jakarta, Surabaya, Madura, Pontianak dan Singkawang.

“Jadi 20 jenis makanan itu belum yang kita nikmati di luar syuting. Kalau ditambah yang di luar kemungkinan sekitar 50an,” beber Dian Sastro.

Alhasil, mau tak mau dua wanita ini mengalami perubahan berat badan setelah selesai syuting film dari adaptasi novel Laksmi Pamuntjak ini. “Coba bayangin dalam satu adegan ada 17 sampa18 kali take. Dan sekali take kita menyicipi setengah menu lebih," tutur Dian.

Ya Benar-benar Makan!

Dian menambahkan bahwa bermain dalam film kuliner itu berarti ia harus serius menyelami perannya dengan benar –benar makan.  Sementara Hannah memilih antisipasi karena ia tak mau terlalu banyak makan.

“Kalau aku sih kalkulatif ya. Kalau nanti syuting makan berarti pagi nggak sarapan. Lebih diatur aja sih,” imbuhnya.

Menurut Hannah, selain soal berat badan agaknya bermain dalam film bergenre kuliner ia harus benar-benar memperhatikan kontinuitas. Pasalnya ,ia harus memperhatikan lebih detail perkara berdialog dan makan.

“Jadi kita tuh di sini benar-benar mengalir apa adanya dan natural seperti sehari-hari. Nggak makan dulu lalu diam lalu ngomong. Misalnya begini saya ngomong lalu makan kerupuk lalu meletakkan minum di mana, begitu. Jadi natural saja,” paparnya.

Untuk diketahui bahwa film Aruna dan Lidahnya adalah film yang menceritakan tentang Aruna dalam investigasinya  sebagai ahli wabah. Dalam perjalanannya meneliti, dua kawannya juga ikut jelajah kuliner yakni Nad dan Bono. Nad adalah kritikus makanan sedangkan Bono adalah seorang chef.  Sementara Faris adalah mantan teman Aruna. Keempat sahabat ini mengalami hal-hal yang tak terduga dalam perjalanan mereka. Antara persahabatan dan cinta.

“Sebenarnya ini romantic comedy sih. Jadi nggak sedih yang nangis-nangis ataupun terbahak-bahak. Cukup membuat penonton tersenyum simpul,” ungkap Dian.

Hannah menambahkan bahwa tujuan yang ia harapkan dari film yang rilis 27 nanti adalah semoga marsyarakat suka dengan film genre baru ini.

“Dengan adanya film ini diharapkan penonton Indonesia bisa melahap semua genre film. Nggak hanya komedi ataupun horror aja sih,” pungkas Dian. (DN)

---
Foto: Zulham & Koleksi Palari Film