Pantau Kesehatan lbu dan Anak dengan Buku KIA

Pantau Kesehatan lbu dan Anak dengan Buku KIA

Bagi para ibu hamil tentu familiar dengan buku bersampul pink bertuliskan Buku Kesehatan Ibu Anak, sayangnya buku ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh banyak ibu.  Padahal buku tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak karena berisi informasi kesehatan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan seperti imunisasi, gizi seimbang dan Vitamin A. 

Penelitian di berbagai negara menunjukkan, pemberian suplementasi kapsul vitamin A dua kali setahun pada balita membantu mencegah kematian. Nutrition International melakukan survei pada 2017 terhadap cakupan suplementasi vitamin A di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Jawa Barat, Banten dan NTB, ditemukan faktor utamanya dipengaruhi tingkat pengetahuan ibu atau pengasuh anak balita. 

Data Surkesnas 2016 menunjukkan hanya 60,5% ibu memiliki Buku Kesehatan Ibu Anak (KIA). Monitoring Kemenkes di 9 provinsi menunjukkan hanya 18% yang diisi lengkap dengan paling banyak pada bagian kehamilan dan bayi baru lahir.

Belum dimanfaatkannya Buku KIA secara optimal diketahui dapat mengancam terhambatnya pertumbuhan anak balita. Hal ini tentu memprihatinkan di tengah upaya pemerintah mencegah dan menurunkan stunting. Karenanya, beberapa waktu lalu Nutrition International bekerja sama dengan  Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes RI menyelenggarakan workshop pemanfaatan buku KIA dalam  memperkuat suplementasi vitamin A. 

Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak berbagai hal tentu harus dilakukan seperti imunisasi serta pemberian vitamin A, demi persalinan berjalan lancar dan bayi yang dilahirkan sehat dan tumbuh kembangnya optimal.

Agar tercapai diperlukan media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) serta pencatatan yang efektif dan efisien. Telah ditetapkan pula oleh Kementerian Kesehatan buku KIA sebagai alat satu-satunya yang mencatat pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi berusia 5 tahun, termasuk pelayanan imunisasi, gizi tumbuh kembang anak dan KB.

Komitmen pemanfaatan buku tersebut sudah lama ditetapkan tapi masih belum sesuai harapan sehingga perlu penguatan terutama kelengkapan pengisiannya oleh petugas kesehatan, kader dan orang tua. Data Riskesdas 2013 dan Sirkesnas 2016 menunjukkan, ada keterkaitan antara kepemilikan Buku KIA dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Diketahui, ibu yang memiliki Buku KlA lebih sering memeriksa kehamilan, lebih banyak bersalin dengan pertolongan tenaga kesehatan dan lebih banyak bersalin di fasilitas kesehatan, dibandingkan ibu yang tidak memiliki Buku KIA.

Bayi dan ibu yang memiliki Buku KIA juga lebih banyak mendapat imunisasi dasar lengkap daripada bayi dari ibu yang tidak memiliki Buku KlA, disimpulkan Buku KIA berdampak positif pada perubahan perilaku ibu. Disampaikan dr. Kirana Pritasari, MQIH, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, secara garis besar, ada dua elemen penting Buku KIA, yaitu media informasi dan media pencatatan di keluarga atau masyarakat.

“ Buku KIA mengintegrasikan beberapa catatan kesehatan di komunitas seperti Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengukur pertumbuhan dan perkembangan bayi balita, kartu imunisasi, kartu ibu dan lainnya,” tambah dr. Kirana.

Bukan hanya dari segi kesehatan, manfaat buku ini juga sudah diintegrasikan dengan sektor lain seperti surat keterangan lahir yang memudahkan mendapatkan akte.

“Perlu keterlibatan lintas program untuk mengoptimalkan pemanfaatan Buku KIA, terutama komitmen petugas kesehatan dalam penggunaan dan pengisian buku ini sebagai instrumen pemberian KIE dan pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kesadaran paraorang tua juga penting untuk menyimpan dan selalu membawa Buku KIA saat pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan,” pungkas dr. Kirana. (AR)

 

 

Buku Kesehatan Ibu Anak,Buku KIA,ibu anak,parenting,vitamin A,kementerian kesehatan,imunisasi

Artikel Terkait

Comments