Chintya Tengens Kastanya: Asal Kita Positif, Tidak Ada yang Jahat

Chintya Tengens Kastanya: Asal Kita Positif, Tidak Ada yang Jahat

Seringkali binatang buas dianggap mengerikan bahkan jahat bak monster. Chintya Tengens adalah pengecualian. Ia yakin, ketika diri kita mengeluarkan energi positif, tidak akan ada yang jahat kepada kita. Begitu pula bencana. "Itu adalah proses alam," ungkapnya.

Kegemarannya terhadap binatang buas sering kali membuat orang di sekitarnya tak percaya, terlebih keluarganya. Tapi semua orang berdecak kagum ketika dara cantik ini memperlakukan ular seperti halnya kucing. Memeluk buaya seperti memeluk boneka kesayangannya.

"Suka banget sama binatang-binatang reptil sejak kecil. Seperti ular, buaya, kadal panama. Kalau ular sih suka phyton," ungkapnya ditemui di Kopi Oey Sabang.

Menurut Chintya kegemarannya itu adalah hal biasa. Pasalnya gadis kelahiran 13 Juni 1993 ini menganggap semua binatang sama saja. Justru yang membuat batas antara binatang buas atau tidak adalah manusia. "Saya percaya mereka punya perasaan juga," papar pemilik nama lengkap Chintya Tengens Kastanya ini.

Gadis Ambon, Maluku ini sempat menceritakan pengalamannya ketika ia menjadi host di acara petualang salah satu TV swasta di Merauke. Ia pernah dianggap sebagai seorang dewi karena berani menyelamatkan warga sekitar dari serangan ular. Saat itu banyak yang berteriak 'patola.. patola!'. Patola merupakan nama lain dari ular jenis phyton. Dan bagi masyarakat Merauke, ular sangatlah mengerikan. Ketika ia berhasil mengeluarkan ular, ia diberikan perlakuan istimewa oleh masyarakat sekitar.

"Aku dikasih makanan setiap hari, disuruh menginap juga. Pokoknya diperlakukan istimewa seperti dewi deh!" kenang putri pasangan Heygel Tengens dan Hilda Kastanya ini.

Lebih jauh Chintya bercerita bahwa dulunya ia sering memelihara reptil di rumah. Ia bahkan memelihara kadal Panama. Sayangnya, belakangan ini ia tak melakukannya lagi. "Sekarang kan aku tinggal di apartmen, kasihan juga mereka harusnya hidup bebas di alam," paparnya.


Alam Itu Baik

Chintya percaya bahwa alam adalah baik. Termasuk makhluk hidup seperti halnya manusia, hewan atau tumbuhan. Bahkan termasuk juga bencana gempa yang menimpa Lombok. Meski menyayangkan, ia percaya bencana di Lombok merupakan proses alami yang tak bisa diduga.
 
"Ketika ada gempa di Lombok itu saya berada di Bali menemani ibu. Gempanya kencang banget sekitar 20-30 detik. Susulannya juga 3 sampai 4 kali. Baik itu vas bunga, piring pecah semua. Karena panik semua orang keluar," kata Chintya.

Bagaimanapun Chintya tak hanya sekadar simpati dengan bencana yang menimpa Lombok. Pulau ini seperti sudah menyatu dengan dirinya. Gadis berzodiak Gemini ini bahkan mengunjungi Lombok pertengahan Agustus lalu.
 
"Memang buat donasi ke sana. Membutuhkan banyak relawan juga makanya saya ke sana. Kebetulan ada temen juga," ungkapnya.

Chintya tak hanya memberikan donasi tapi juga membuka rumah healing bagi anak-anak di Lombok. Kebetulan bertepatan dengan hari kemerdekaan RI maka gadis yang hobi traveling ini memberikan hiburan agar anak-anak kembali ceria. "Mengibarkan bendera di sana lalu bermain bersama anak-anak," ungkapnya.(DN)

--
Foto: IG @chintyatengens