Munculkan Bakat Anak melalui Pandu 45

Munculkan Bakat Anak melalui Pandu 45

Bakat merupakan suatu anugerah yang dimiliki oleh anak tapi beberapa orang tua kerap keliru mengenali bakat anak. Melalui acara Pandu 45 yang digagas oleh Institut Ibu Profesional, orang tua bisa memunculkan bakat anak secara alami.

Banyak orang tua, terutama ibu keliru dalam mempersepsikan bakat sang anak sehingga banyak anak yang sebenarnya berbakat malah dicap 'anak nakal'. Padahal mereka terlalu aktif dan membutuhkan wadah untuk menyalurkan hal tersebut. Penting bagi orang tua untuk mengenali sejak dini bakat yang dimiliki oleh anak. Dalam acara Pandu 45 yang diselenggarakan oleh Institut Ibu Profesional, dikupas dengan detail cara menjadi orang tua yang peka terhadap bakat anaknya. Laksemi Bania Siregar selaku ketua acara workshop Pandu 45 menyatakan acara tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan milad Institut Ibu Profesional yang ketujuh.

"Jadi Institut Ibu Profesional ini ada di 52 kota dari Sabang hingga Merauke di 10 negara. Nah, ini kami mengundang founder Institut Ibu Profesional yaitu Ibu Septi Peni Wulandari dan Bapak Dodik Mariyanto," ungkapnya.

 

Wanita yang akrab dipanggil Ami ini menuturkan acara yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia ini membahas tentang 45 ragam kegiatan yang bisa digunakan untuk mengeksplor bakat sang anak.

"Terkadang sebagai orang tua sering menganggap anak kita berbeda dengan bakat orang lain. Oleh karena itu untuk mendeteksi bakat anak,  tidak perlu mengambil talent mapping dari orang lain. Cukup dengan orang tua saja. Itulah mengapa acara ini diadakan," ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ibu Septi Peni Wulandari. Wanita yang telah lama menggeluti dunia parenting ini mengatakan, bahwa target anak bisa mengenal dirinya adalah usia 16 tahun. Sebelum usia itu, menurut Ibu Septi sangat penting bagi orang tua untuk mengeksplor ragam kegiatan, ragam wawasan dan gagasan pada anak untuk merangsang rasa ingin tahu anak.

"Misalnya sang ibu mengajak anak untuk melakukan field trip kecil- kecilan mengunjungi kepada tokoh- tokoh yang sukses. Nantinya, anak bisa termotivasi untuk mencontoh tokoh- tokoh tersebut," paparnya.

Lantas mengapa di usia 16 tahun seorang anak harus tahu jati dirinya? Ibu Septi menjelaskan bahwa di usia ini seorang anak cenderung sudah mencari jati dirinya sendiri. "Di usia 16 tahun biasanya anak sudah ingin sendiri. Tidak terlalu suka kalau terlalu lengket dengan orang tuanya," imbuh Ibu Septi.

Oleh karena itu orang tua harus bisa memunculkan potensi bakat sang anak. Dalam artian, orang tua sebagai pemberi fasilitas dan bukan mengintervensi bakat sang anak.

"Jadi bakat anak itu bermacam- macam. Ada anak yang suka command atau suka memimpin, anak yang terlalu aktif. Mereka perlu diapresiasi," imbuhnya.

Ibu Septi juga memberikan berbagai tips kepada orang tua agar selalu mendengarkan kesukaan atau minat sang anak. Selain itu, penting bagi orang tua untuk mendampingi baik secara fisik maupun batin ketika sang anak menemukan bakatnya. "Yang terakhir bersyukur atas kekuatan atau bakat anak kita," tukas Ibu Septi.
Dalam workshop yang dilakukan Minggu (8/12), orang tua tak hanya dibekali cara memunculkan bakat sang anak. Tapi juga menjadi ajang bermain bermain untuk merangsang kreativitas sang anak. "Bakat adalah hal unik yang tak dapat dimunculkan secara instan. Oleh karena itu peran dan dukungan orang tua sangat penting bagi anak," pungkasnya. (DN)

--
Foto: Rahmadani Wahyu N.

adv, barter, ibu profesional

Artikel Terkait

Comments