Esti Nurjadin: Antara Seni dan Jantung

Esti Nurjadin: Antara Seni dan Jantung

Menyadari gaya hidup bisa dibentuk sedini mungkin, Esti Nurjadin menyasar generasi milenial agar meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan khususnya jantung. Di tengah aktivitas barunya sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Esti juga tetap menjalani passion-nya di bidang seni.

Belum lama ini kepengurusan baru Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dibentuk dan Esti Nurjadin didapuk sebagai ketua umum. Keterlibatannya dengan yayasan ini rupanya sudah cukup lama. Dijumpai di tengah berbagai kesibukannya itu, Esti bercerita, sudah sekitar 11 tahun ia membantu YJI. Berawal dari perkenalannya dengan pengurus lama yang merupakan ibu dari temannya, Esti kemudian direkrut.

Saat itu ia membantu setiap ada acara, baru delapan tahun lalu ia masuk sebagai salah satu pengurus.  Tapi saat itu di 2011 suaminya harus menjalani operasi jantung bypass di usia 42.

“Saat itu saya merasa sudah membantu yayasan jantung tapi kok suami saya harus operasi jantung, saya merasa berkewajiban menyampaikan ke masyarakat kalau yang dialami suami itu jantung koroner karena life style, pola makan kurang sehat, kurang olahraga. Memang ada karena faktor keturunan tapi suami saya waktu itu pernah skip tes kesehatan,” kenangnya.

Padahal, lanjut Esti, untuk menjaga kesehatan jantung kita harus menjalankan panca usaha jantung sehat yang salah satu poinnya rutin cek darah, hindari rokok dan stres.

“Gara-gara itu saya merasa penyakit jantung karena lifestyle bisa dihindari kalau tahu dari muda,” kata wanita 46 tahun ini.

Jika sebelumnya YJI dibuat untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat usia produktif atau kebanyakan menyadarinya di usia 40-an. Dengan kepengurusan baru yang dipimpinnya ini, Esti ingin menyasar usia lebih muda agar terbentuk gaya hidup sehat sedini mungkin.

Dirikan Galeri
Jauh sebelum bergabung dengan YJI, Esti sudah mendirikan galeri bernama D Gallerie sejak 2001 dan sudah mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Koleksinya di galerinya merupakan hasil karya dari seniman lokal dan dua seniman asing.

Latar belakang pendidikan Esti sebenarnya di bidang hukum. Usai menamatkan S1 di Universitas Indonesia, ia melanjutkan S2 Magister Kenotariatan di kampus yang sama. Tapi ia merasa seni adalah passion-nya.

“Bukannya saya bisa membuat karya seni, tapi saya senang dengan keindahan seni. Anak-anak juga sejak kecil saya ajak ke museum dan orang tua saya senang koleksi lukisan. Jadi saya terbiasa,” ungkap ibu dua anak ini.

Meski dunia seni dan YJI berbeda, ada beberapa hal yang menurutnya bisa mengaitkan kedua bidang itu.

“Kalau dari sisi awareness, campaign atau fund rising bisa dikaitkan dengan seni. Misalnya bisa kerja sama lelang lukisan yang kemudian didonasikan untuk YJI. Awareness dalam bentuk selebaran kadang orang nggak ingat, tapi kalau ajak seniman membuat grafiti atau lomba fotografi itu kan sebenarnya awareness, tapi jadi ‘nempel’ karena dilakukan,” tutur Esti.

Selain itu, RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak ) Kali Jodo  di Jakarta Utara merupakan salah satu yang diinisiasi Esti dengan mengajak seniman-seniman grafiti.  
“Waktu itu dibentuk grup Artsip Jakarta, kami mengerjakan 50 RPTRA dalam dua minggu, semua bikin grafiti. Bersamaan dengan itu ada ada workshop dari seniman grafiti untuk anak-anak di sekitar RPTRA tentang membuat art work, membuat grafiti, dan memasarkannya karena banyak seniman grafiti ini punya merchandise dan mereka sukses,” jabarnya.

Masih banyak hal yang ingin dilakukan Esti untuk YJI, di antaranya ia fokus ke generasi milenial dan membuat semua lebih digital mengikuti perkembangan zaman.
Sedangkan untuk galeri, Esti masih ingin menggelar pameran di museum, membawa seniman lokal pameran di Eropa. Untuk tahun ini masih ada satu pameran yang akan digelar. Mengatur itu semua bagi Esti kuncinya adalah membuat perencanaan atau planning.

“Kalau planning dari jauh hari semua bisa dikerjakan, saya biasanya sudah pikirkan tahun depan mau apa? dua tahun lagi mau bikin apa?,” tambahnya.

Dengan kesibukan saat ini, Esti tetap bisa membagi waktu untuk keluarga dan tentunya untuk dirinya sendiri.        
“Harus ada waktu untuk olahraga, jangan karena sibuk, lalu nggak olahraga, harus perhatikan diri sendiri juga. Sekarang masih penyesuaian dengan kesibukan yang bertambah ini tapi karena galeri itu usaha sendiri jadi lebih mudah atur waktu,” pungkasnya.(AR)

---
Foto: Zulham

 

profil, wanita inspiratif, yayasan Jantung Indonesia

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments