Adianti Reksoprodjo Si Mama Crossfit

Adianti Reksoprodjo Si Mama Crossfit

Depresi yang dialami usai melahirkan anak keduanya sempat membuat Adianti ingin mengakhiri hidup. Tapi, masa suram selama enam bulan itu justru kini memberi hikmah sangat besar baginya. Tak disangka pula, kelas olahraga bersama bayi yang ia inisiasi dibanjiri peminat. Nikmat yang sungguh membuatnya tak henti bersyukur.

Sejak kecil, Anti, begitu ia biasa disapa, memang senang berolahraga. Pekan lalu WI menjumpai Anti di SANA Kith & Kin, studio kebugaran yang fokus pada pengembangan fisik dan program latihan untuk sebelum dan setelah melahirkan, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Wanita 38 tahun ini bercerita, setelah menyelesaikan sekolah sampai jenjang S2  di bidang desain komunikasi visual, ia sempat bekerja di sebuah stasiun televisi swasta. Dalam perjalanannya, Anti bertemu teman-teman yang saat itu memiliki lini pakaian bernama Satcas, salah satu merek lokal ternama. Anti diajak bergabung untuk membesarkan bisnis ini.

“Kami cukup terkenal pada zamannya selama belasan tahun, dalam satu tahun bisa buka sampai dua toko,” kenangnya.

Setelah menikah dan memiliki satu anak, Anti yang memang rutin berolahraga ini semangatnya sempat kendur usai melahirkan. Sekitar tahun 2013, ketika anaknya berusia empat tahun, bentuk tubuhnya masih belum kembali seperti semula. Sampai akhirnya ia menemukan olahraga crossfit yang merupakan latihan dengan berbagai gerakan fungsional dan dilakukan pada intensitas tinggi secara konstan.

Olahraga itu menjadi dunia baru baginya, ditambah berat badannya kembali seperti semula. Kesenangannya pada olahraga juga membuat Anti paham pentingnya menjaga nutrisi tubuh. Antusiasnya itu membuat Anti ditawari menjadi asisten pelatih. Kariernya sebagai pelatih olahraga dirintisnya saat itu.

Di saat bersamaan, dunia fesyen Tanah Air kedatangan toko-toko retail besar dari luar negeri yang turut berdampak pada bisnisnya. Hampir 15 tahun berdiri, dengan berat hati akhirnya Anti dan teman-temannya menyudahi bisnis mereka.

Setahun kemudian, Anti mengandung anak kedua. Padahal, sebelum tahu kehamilannya ini, Anti terbang ke Melbourne untuk mengambil sertifikasi coaching crossfit.  Hamil di usia 35 dirasakannya lebih berat walau ia rutin berolahraga dan masih mengajar. Anti semakin mendalami dunia crossfit namun dalam kondisi hamil, ia tak sembarangan melakukan gerakan olahraga. Semua gerakan-gerakan olahraga yang ia ketahui dari internet, Anti  selalu konsultasikan pada dokter untuk memastikan aman dilakukan ibu hamil.

Rasanya Sepi dan Asing
Tapi, kehamilan kedua ini membuatnya sering keluar masuk UGD, ia berhenti olahraga saat usia kandungannya 8 bulan. Setelah melahirkan, ia dan keluarga kecilnya pindah ke rumah baru mereka. Anti seperti ibu baru lagi karena jarak kehamilan keduanya ini enam tahun dari anak pertama. Bukan hanya itu, beberapa hal diakui Anti membuatnya stres hingga mengalami postpatrum depression atau depresi setelah melahirkan.

“Rasanya sepi dan asing, tiba-tiba kaget ada dua anak. Malam pertama tidur di rumah baru aku menangis semalaman walau anakku nggak rewel, ada perasaan kosong, tidur juga nggak bisa,” tuturnya.

Perasaan tak menentu itu berlanjut di hari berikutnya. Saat membersihkan pusar bayinya menggunakan alkohol 70%, tiba-tiba terlintas di benaknya untuk menenggak cairan tersebut.

“Aku seperti gelap mata, aku menangis nggak berhenti, setelah itu pulang lagi ke rumah Mama, aku tahu kalau aku tetap bertahan di rumah itu, aku bisa semakin gila,” imbuhnya.

Menurut Anti, penting bagi wanita yang baru melahirkan mengutarakan apa yang dirasakan, karena berbahaya jika disimpan sendiri.

“Aku juga nggak cerita karena aku bingung apa yang sebenarnya aku rasakan,” Anti mengatakan, ketidakseimbangan hormon yang dirasakan setiap ibu hamil sampai melahirkan menjadi salah satu pemicunya. Ia bersyukur, efek depresi itu tidak berdampak ke anak-anaknya, tapi ke dirinya sendiri.

“Aku merasa tidak ada nilainya, tidak ada rasa sayang pada diri sendiri. Kasihan juga sih sekeliling aku nggak tahu caranya menarik aku keluar dari perasaan-perasaan itu, teman-teman nggak ada yang mengalami ini, aku merasa sendiri,” curhatnya.

Olahraga Bersama Anak
Tidak sekali, Anti sampai tiga kali mencoba mengakhiri hidupnya. Ia kemudian terpikir untuk mencari pertolongan dari psikolog dan secara medis. Anti disarankan melakukan hal yang disukai untuk mengatasi masalahnya. Olahraga langsung terpikir di benaknya. Tiga bulan setelah melahirkan, Anti mencari tempat olahraga yang bisa membawa bayinya, tapi hasilnya nihil.

“Ya sudah, aku latihan sendiri aja. Awalnya iseng, upload video ke Instagram. Lalu banyak yang direct message bertanya olahraga setelah melahirkan,” sambungnya.

Meski sudah memiliki sertifikat L1 Crossfit, Anti menyadari, berbagi hal seputar olahraga setelah melahirkan bukanlah ranahnya. Dengan pemikiran sebagai pelatih, Anti mengambil sertifikasi post natal trainer. Tak disangka, ia sembuh dari depresinya.

Kegiatannya itu diapresiasi dan teman-temannya menyarankan membuka kelas latihan bersama bayi untuk para ibu yang baru melahirkan.

“Awalnya buka kelas di rumah mama, lalu cari nama, diskusi dengan dokter untuk gerakan-gerakannya,” jelasnya.   

Menggunakan nama Fit Mum & Bub sejak dua tahun lalu, Anti memulai langkah barunya ini sebagai bentuk kepedulian pada sesama ibu yang ingin olah raga dan tetap bisa mengajak anaknya. Ia pun mengembangkan konsep olahraga bersama anak, termasuk menggunakan stroller dan sambil menggendong bayi yang usianya minimal tiga bulan atau saat leher bayi sudah tegak.

Saat itu yang mengikutinya kelasnya hanya tiga sampai lima orang dan belum dipungut biaya. Ketika mulai ramai yang mendaftar kelasnya, Anti butuh ruangan lebih besar, ia menawarkan programnya ini ke Sana Studio, sebuah pusat kebugaran. Sejak itu, makin banyak yang mengikuti kelasnya.

Selain memberi contoh positif untuk anak, olahraga bersama anak ini pastinya menguatkan ikatan ibu dan anak.

“Bayi digendong saat olahraga, kadang mereka justru tertidur karena mengingatkan mereka saat masih di dalam rahim dan dengar detak jantung ibunya dan si ibu senang karena bisa olahraga beneran. Kalau usianya lebih besar sedikit, anaknya malah happy karena diayun-ayun,” tambah Anti.

Semakin Banyak, Semakin Baik
Masa-masa kegelapan yang ia lalui selama enam bulan usai melahirkan anak keduanya itu justru kini menjadi langkah baru yang menyemangatinya.

“Aku tahu tak enaknya perasaan saat itu dan dengan berolahraga menurutku bisa membantu diri sendiri. Awalnya, aku nggak tahu Fit Mum & Bub ini mau dibawa ke mana, karena berpikirnya hanya mengajar, ternyata demand-nya ada dan tren hidup sehat di negara kita mulai ramai,” urainya.

Anti memetik hikmah besar. Menurutnya, Tuhan memberikannya cobaan karena ada misi terselubung di balik itu. Ia merasa harus membagi pengalamannya, dengan begitu mereka yang mengalami hal sama sepertinya, tidak merasa sendiri.

Mimpinya, ia ingin memenuhi permintaan orang-orang di daerah yang ingin mengambil sertifikasi pre dan postnatal darinya. Anti tak masalah semakin banyak orang yang menggeluti bidang sepertinya. Justru menurutnya semakin banyak, semakin baik.

“Artinya, akan lebih banyak ibu yang terselamatkan dari baby blues dan bisa berolahraga dengan aman. Sebelum memulai kelas, biasanya aku juga bagi-bagi kuesioner tentang yang para ibu rasakan, lalu sharing session, mereka jadi merasa ada support group,” tuturnya. (AR)

---
Foto: Zulham

profil, wanita inspiratif, crossfit

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments