Ajak Anak Membaca Dengan Metode Read Aloud

Ajak Anak Membaca Dengan Metode Read Aloud

Kebiasaan membaca memang sudah semestinya dipupuk sejak dini karena 90% dari perkembangan otak anak terjadi pada umur 0 – 6 tahun. Metode story telling read aloud’ diyakini bisa menjadi salah satu cara membangun ketertarikan anak terhadap membaca.

Kebiasaan membaca pada anak-anak di negara kita masih tergolong rendah. Rossie Setiawan, ahli dan penerjemah buku “Read Aloud” memperkenalkan metode story telling ‘read aloud’ atau membaca nyaring. Story telling atau dalam bahasa Indonesia disebut mendongeng, biasanya tidak menggunakan buku. Sedangkan read aloud menggunakan buku.

“Kalau read aloud, ada yang membacakan, ada yang dibacakan dan ada yang dibaca. Ini salah satu cara agar anak tahu kalau membaca itu tidak datar, ada intonasinya dan anak akan meniru. Karenanya, saat membacakan buku harus gunakan tanda baca yang sesuai dan ketika bacakan buku, kita tunjuk kata-katanya, jadi anak tahu apa yang dibaca dan melihat tulisannya,” jelas Rossie.   
    
Dengan menggunakan buku, lanjut Rossie, anak jadi tahu jika cerita-cerita bagus yang dibacakan itu berasal dari buku, sehingga anak akan mencari buku itu.

“Itulah awal cara kita membangun ketertarikan anak terhadap membaca.  Membacakan nyaring bukan mengajarkan membaca, tapi membangun ketertarikan anak untuk baca,” sambung Rossie.

Menurut Rossie, metode read aloud turut berperan untuk perkembangan anak karena memperkenalkan anak pada kemampuan dasar literasi, yaitu mendengarkan. Saat membacakan buku secara nyaring, anak bisa dalam posisi dipangku sambil atau duduk bersebelahan dan sama-sama memperhatikan buku. Hal ini bisa memberi kesempatan momen berkualitas antara ibu dan anak dengan adanya skin to skin contact, karena proses ini mengharuskan keduanya fokus kepada satu dengan yang lain sehingga membangun kebersamaan.

“Selain baik dalam mendekatkan hubungan antara ibu dan anak juga bermanfaat untuk stimulasi otak anak. Melalui metode ini bisa mengenalkan kosa kata dan mengembangkan kemampuan otak anak agar lebih sehat dengan rangsangan kata-kata,” tambah Rossie dalam talkshow Hari Ibu Lotte Choco Pie dengan tema ‘Mempererat Ikatan Ibu dan Anak dengan Metode Read Aloud’, pekan lalu.

Tahapan Membaca

Melihat tahapannya, mengenalkan membaca pada anak dimulai sejak anak usia 0-3 tahun atau periode pra baca. Anak seolah membaca tapi yang dilihat adalah gambar-gambar. Saat ini terdapat berbagai macam buku anak. Seperti buku untuk bayi ada jenis concept book atau buku yang berisikan satu konsep saja seperti konsep warna dan konsep angkat. Biasanya buku tersebut hanya gambar dengan beberapa kata saja. Bentuk bukunya bisa berupa buku kain atau buku plastik yang aman untuk anak.
    
Untuk anak usia  3-6 tahun sudah memasuki tahap membaca dini. Untuk mengenalkan membaca pada anak bisa dengan buku bergambar sederhana dengan satu atau dua kalimat di dalamnya. Selanjutnya, usia 6-9 tahun anak belajar baca tahap awal dengan membaca buku bergambar dengan kalimat yang lebih banyak. Kebiasaan ini semestinya terus dilanjutkan sampai dewasa memasuki tahapan membaca kritis, bukan sekadar membaca tapi mengkritisi buku yang dibaca,” papar Rossie.

“Read aloud bisa dimulai sejak anak usia 0 bulan. Bahkan sebenarnya mulai trimester terakhir kehamilan saat fungsi pendengaran udah terbentuk sempurna karena anak sudah bisa mendengar suara ibunya,” pungkas Rossie. (AR)

---
Foto: Istimewa

ibu anak, membaca, read aloud

Artikel Terkait

Comments