Rencanakan Kehamilan dengan Bayi Tabung

Rencanakan Kehamilan dengan Bayi Tabung

Program bayi tabung menjadi salah satu cara yang bisa digunakan pasangan suami-istri yang memiliki gangguan keseburan. Hanya saja, program ini diketahui membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jumlah klinik yang menyediakan program ini pun tergolong rendah, hanya 32 klinik se-Indonesia.

Bayi tabung merupakan salah satu cara mendapatkan kehamilan pada pasangan infertilitas dengan cara mempertemukan sperma dan sel telur di luar tubuh manusia. Setelah terjadi pembuahan, dua sampai tiga embrio akan ditanam kembali ke rahim calon ibu. Dalam acara Seminar Media Smart IVF pekan lalu, dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG(K), MSc, menjelaskan, gangguan kesuburan merupakan kegagalan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual yang benar selama setahun tanpa memakai alat kontrasepsi. Penyebabnya bervariasi, seperti gangguan sperma, sumbatan saluran telur, gangguan pematangan telur dan lainnya.
    
Namun, gangguan kesuburan masih belum dianggap masalah utama di Indonesia. Padahal data BPS 2008 menunjukkan, dari sekitar 39,8 juta wanita usia reproduksi, ada 10-15% yang mengalami gangguan kesuburan atau sekitar 4 juta orang. Menurut dr. Fachry Achmad, MPH, Direktur PT Ingin Anak, gangguan kesuburan ini sudah menjadi masalah kita bersama.

“Spektrum masalahnya sangat besar, dari diagnosis sampai penatalaksanaan, dengan banyaknya hambatan yang dihadapi mulai dari sumber daya manusia sampai fasilitasnya,” tambahnya.

Penyebab gangguan kesuburan beragam, dr. Beeleonie, BMedSc, SpOG(K) mengatakan, tidak selalu masalah gangguan kesuburan ada pada wanita, pada pria juga bisa ada masalah atau kombinasi keduanya dan persentasenya hampir sama.

“Biasanya, di akhir tahun pertama pernikahan 85% wanita akan hamil, kalau tidak berhasil, di akhir tahun kedua 92% wanita akan hamil. Kalau belum hamil juga masuk kategori infertilitas. Jadi harus tahu kapan cari pertolongan,” kata dr. Beeleonie.

Program bayi tabung pintar atau Smart IVF pun hadir sebagai salah satu cara memperoleh momongan. Selama ini kita memang sudah familiar dengan program bayi tabung. Program ini bisa dilakukan jika diketahui penyebabnya karena faktor sperma, sumbatan saluran telur, gangguan pematangan sel telur, terdapat kista endometriosis dan unexplained infertility (semuanya normal).

Evaluasi dan penanganan lebih awal bisa dilakukan jika usia sudah lebih dari 35 tahun, memiliki riwayat oligo atau amenora (ketiadaan haid), diketahui ada sumbatan pada tuba atau endometriosis dan masalah pada sperma.


Usia Bertambah, Kualitas Sel Telur Menurun

Masalah yang mulai banyak saat ini, penuaan reproduksi perempuan. Makin banyak wanita menunda menikah dan punya anak, bertambahnya usia dan kualitas sel telur menurun.
Dr. Yassin menambahkan, seorang perempuan pasti mengalami penurunan jumlah dan kualitas sel telur pada usia 35 tahun. Pada pasangan yang merencanakan menunda kehamilan, perlu memperhitungkan aspek ini.

“Kita tidak bisa memprediksi secara akurat kapan usia biologis (usia tubuh yang sebenarnya) seseorang sudah menua melebihi usia kronologisnya (sesuai tanggal lahir). Maka itu, idealnya penundaan kehamilan haruslah ditempatkan dalam kerangka perencanaan keluarga, khususnya perencanaan reproduksi keluarga, dengan didampingi oleh spesialis obstetri dan ginekologi,” jelas dr. Yassin.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, pendiri SMART-IVF sekaligus Presiden Perhimpunan Fertilisasi in Vitro Indonesia (PERFITRI) memaparkan laporan IA-IVF  2017 bahwa dari 9.122 siklus bayi tabung pada tahun 2017 di Indonesia, terdapat 2467 siklus yang menghasilkan kehamilan. Persentasi kehamilan terbesar pada usia kurang dari 35 tahun (17.46%), pada usia 35-37 tahun (6.01%), usia 38-40 tahun (3.49%), 41-42 tahun (1.16%) dan yang paling rendah pada usia lebih dari 42 tahun (1%). (AR)

---
Foto: Pexels dan Istimewa

ibu anak, bayi tabung, rencana

Artikel Terkait

Comments