Denia Isetianti & Bisnis Menjaga Kebersihan Bumi

Denia Isetianti & Bisnis Menjaga Kebersihan Bumi

Meski telah berprofesi sebagai pengacara, Denia tetap memenuhi panggilan hatinya yang terusik melihat maraknya penggunaan barang yang sulit didaur ulang dan merusak lingkungan dengan mendirikan marketplace untuk produk ramah lingkungan dan zero waste.

Sehari-hari Denia bekerja sebagai pengacara di sebuah firma hukum, karier ini telah dibangunnya lebih dari 10 tahun. Sebagai ibu bekerja, agar lebih hemat waktu dan tenaga, Denia memanfaatkan toko online untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangga. Pernah ia membeli 10 barang, cukup banyak plastik yang digunakan untuk membungkus belanjaannya dan pada akhirnya hanya menjadi sampah.

“Aku pikir harus ada solusi, tidak bisa terus-terusan seperti ini. Ditambah, aku juga melihat video penyelam dari Inggris yang menyelam di Laut Bali dan menemukan banyak plastik di sana,” kata wanita 32 tahun ini.

Kedua hal itu yang memacunya tanpa ragu lagi, di Maret 2018, membuat marketplace untuk produk ramah lingkungan dan zero waste. Menggunakan nama Cleanomic yang merupakan gabungan dari kata clean dan economic, Denia ingin memiliki bisnis yang menjaga kebersihan bumi, bernilai ekonomis dan berkelanjutan.

Awalnya ia lakukan semua sendiri, mulai dari foto produk sampai membungkus pesanan. Barang yang ia jual pun belum banyak dan masih menjadi reseller dari sebuah toko online yang sudah lebih dulu menjual aneka produk ramah lingkungan dan sisanya membeli di toko lain.

“Aku mengkurasikan produk dengan tema zero waste, lalu aku kumpulkan jadi satu di Cleanomic,” tambahnya.

Denia menjelaskan, istilah zero waste yang merupakan sebuah gaya hidup dengan tujuan utama, sebisa mungkin mengurangi sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA), dipopulerkan Bea Johnson melalui buku Zero Waste Home. Meski awalnya ragu dirinya bisa benar-benar zero waste di kehidupannya sehari-hari tapi ia tetap coba lakukan.

Zero waste itu bisa dilakukan dengan cara 5R; refuse, reduce, reuse, recycle, dan rot. Aku coba implementasikan itu misalnya; pakai sikat gigi bambu, memilah sampah, kalau sampah organik di rumah aku kompos sendiri, bawa botol minum sendiri dan tidak pakai sedotan lagi,” papar wanita berkacamata ini.
     
Begitu pula di Cleanomic, ia menjual aneka barang yang bertujuan mengurangi sampah, terutama produk sekali pakai, kalau pun tidak, bisa di-recycle dengan cara yang suistainable.

“Seperti cotton bud kan banyak terbuat dari plastik, aku provide yang terbuat dari bambu dan sikat gigi juga dari bambu. Untuk kantong belanja aku jual dari bahan belacu, kalau masa penggunaannya selesai bisa didaur ulang,” tambahnya.

Kembangkan Bisnis

Untuk mendukung bisnisnya ini, Denia tak ingin menggunakan plastik dalam proses pengiriman barang. Awalnya, ia sempat bertemu sebuah start up bidang logistik yang bisa memenuhi permintannya, tapi karena satu dan lain hal, tidak berlanjut.

“Sempat mau tanda tangan nota kesepahaman ke perusahaan logistik nasional untuk dijadikan pilot project tapi gagal karena untuk beberapa perusahaan logistik besar, penggunaan plastik sudah jadi standar operasional prosedur. Jadi, meski aku punya kesepakatan dengan satu kantor cabang, ketika disebar ke cabang lain, diplastikan lagi dan dikomplain customer karena pakai plastik,” urainya.

Akhirnya Denia menemukan perusahaan logistik yang bisa memenuhi permintannya meski ongkos kirimnya sedikit lebih mahal. Paket berisi sendok garpu terbuat dari kayu, sedotan dari stainles steel beserta sikat pembersih dan sumpit bambu yang dimasukkan dalam satu kantong merupakan produk terlaris. Denia menambahkan, ia juga bisa memenuhi permintaan produk dalam jumlah besar, misalnya untuk dijadikan suvenir.

Denia tak menyangka, bisnisnya ini terus berkembang. Suatu hari, ada seorang selebgram yang mem-posting produk yang ia beli di Cleanomic. Setelah itu mulai banyak yang tertarik membeli dan mengikuti Instagram Cleanomic.

Meski terlihat berbeda, tapi jika ditarik garis merahnya, Denia mengatakan antara menjadi pengacara dan entrepeneur tetap memiliki kesamaan.

“Sama-sama menjual jasa yang membedakan jenis pelayanannya, kalau sebagai pengacara aku kasih advis soal hukum ke klien. Sedangkan di Cleanomic menjual produk, sama-sama butuh komunikasi yang baik,” jelasnya.

Untuk bisnisnya ini, Denia ingin menjadi semua hal terkait gaya hidup berkelanjutan terhubung dalam satu platform. Seperti saat ini, ia sedang mengembangkan situs web, tidak sekadar e-commerce yang jual produk zero waste.

“Kami akan menambah konten di situs web, termasuk online-offline workshop karena aku lihat, banyak orang ingin belajar tapi nggak tahu gimana mulainya,” kata Denia.

Karena Happy

Seiring berkembangnya usaha ini, Denia sudah memiliki tim untuk membantunya menjalankan bisnis ini. Meski begitu, ia tetap harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
 
Sejak memiliki tim, Denia fokus menyiapkan konten untuk media sosial dan di akhir pekan sesekali memenuhi undangan talkshow atau workshop. Denia mengakui butuh kerja keras untuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
 
“Pulang kerja, di rumah main dengan anak-anak. Setelah mereka tidur, aku bikin konten untuk Instagram, tapi karena happy aku senang mengerjakannya,” jelasnya.

Denia bersyukur, keluarga mendukungnya, bahkan sang suami sering membantunya membuat konten. Baginya, menyeimbangkan segala hal itu merupakan perjuangan tiada henti bagi semua perempuan dan bukan hal mudah.

“Ada low time, high time, ada masa-masa stres, tapi ini bagian dari hidup, yang penting jalan terus aja,” pungkasnya. (AR)

---
Foto: Arafah dan Dok. Pribadi

profil, wanita inspiratif, zero waste

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments