Ernest Prakasa Cuti Panjang di Tahun 2020

Ernest Prakasa Cuti Panjang di Tahun 2020

Tahun 2018 menjadi tahun keemasan bagi Ernest Prakasa. Dua film yang ia garap dirilis di penghujung akhir tahun. Di tahun 2019 ini, Ernest tak tinggal diam. Sejumlah film juga menungu untuk dikerjakan. Dikatakan sangat produktif, Ernest merencanakan di tahun 2020 nanti akan cuti panjang.

Mengawali debutnya menjadi seorang stand up comedy, kini karier Ernest tak bisa dikatakan sebatas pelawak panggung. Ernest juga merambah di balik layar menjadi penulis dan sutradara. Sejumlah film garapan pria 36 tahun ini nyatanya diterima baik oleh penikmat film di Indonesia.

Di penghujung tahun 2018 kemarin, dua filmnya rilis, dalam waktu bersamaan di antaranya film Milly & Mamet dan sekuel film series Cek Toko Sebelah yang bekerjasama dengan HOOX. Produktivitas dalam berkarya merupakan kunci besar dalam kehidupan Ernest.

“Tahun 2019 nanti mengerjakan dua film,” terang suami Meira Anastasia ini.

Dua proyek film di tahun 2019 yang sudah menunggu yakni film dari adaptasi novel sang istri berjudul Imperfect dan film Bene Dion ber-genre horror komedi.

“Ada proyek Bene Dion juga, sebagai bentuk support saya menjadi co- produsernya,” ungkap Ernest.

Diungkapkan Ernest, kesibukannya menjadi sutradara di balik layar sangatlah menguras waktu, pikiran dan energinya. Hal ini membuat Ernest sejenak merencanakan libur di tahun 2020 nanti. Ia mengaku merencanakan libur untuk refreshing otak dan fisik agar ide- idenya tidak buntu.

“Sempat terpikirkan enak kali ya 2020 nanti cuti panjang. Ada wacana mempertimbangkan libur,” terangnya.

Libur, kata Ernest sangatlah penting terlebih ia sekarang menjadi seorang ayah. Jadwal yang padat membuat ia terpaksa harus sesekali membagi perhatian antara kerjaan dan keluarga. “Perhatian ke anak- anak juga kurang, kan,” imbuh aktor kelahiran Januari 1982 ini.

Siklus Menggarap Film

Menurut Ernest siklus pembuatan film yang selama ini ia kerjakan selalu sama, yakni bulan Desember ditargetkan untuk rilis. Alhasil, jauh dari bulan- bulan sebelumnya ia harus bekerja keras menggarap pre-production dan post production. Meski demikian, tawaran menggarap proyek film tak selalu memiliki jadwal yang saklek.

“Nggak tentu juga, film Milly Mamet kemarin itu proyeknya turun ke aku sekitar Maret 2017 saat saya sedang menggarap Film Susah Sinyal,” terang Ernest.

Keputusan untuk menggarap skrip juga harus ia lakukan jauh- jauh sebelumnya. Di mana rata- rata ia mengerjakan dari bulan Juni hingga Juli. Lalu di Bulan September eksekusi syuting dimulai.

“Jadi bulan- bulan Oktober hingga November ini masuk masa- masa post produksi,” imbuh Ernest.

Lebih Ingin Menjadi Sutradara

Sepak terjang dunia industri panggung stand up comedy dan film telah ia rasakan sejak namanya melambung semenjak menjadi juara ketiga dalam Stand Up Comedy (SUCI) tahun 2011. Nyatanya, kini Ernest mengaku lebih nyaman berkarya di balik layar menjadi sutradara. Terlihat belakangan di beberapa film, Ernest tak banyak bermain sebagai aktor.

“Pelan- pelan predikat aktor ini dilepas. Lebih ke sutradara sih,” paparnya.

Menurut Ernest dengan menjadi sutradara ia bisa berkarya lebih utuh lagi dibandingkan menjadi aktor. Ia juga bisa merangkul banyak penonton ketika filmnya rilis.

“Kalau film kan lingkupnya lebih luas ya. Semua orang bisa tahu. Tapi kalau menjadi stand up comedy paling hanya 1000 hingga 2000 orang saja yang menonton,” jelas Ernest. (DN)

---
Foto: Jozz Felix

selebritis, seleb, indonesia, stand up comedy, komik, ernest prakasa

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments