Kerri Na Basaria: Doa dan Harapan dalam Sehelai Ulos

Kerri Na Basaria: Doa dan Harapan dalam Sehelai Ulos

Kepeduliannya terhadap tenun ulos menjadi langkah awal Kerri Na Basaria membuat Tobatenun. Banyak tantangan yang harus ia hadapi, tapi kecintaan pada budaya tanah leluhur membuatnya bersemangat. Apalagi jika mendengar cerita para penenun dan melihat ketertinggalan ulos di antara kain tradisional lain.
    
Dijumpai pekan lalu, Kerri yang sejak SMA sekolah di luar negeri mengungkapkan, ia sempat mengalami gegar budaya ketika kembali ke Tanah Air be berapa tahun lalu.
Dalam perjalanannya, justru tertarik dengan adat leluhurnya, Batak Toba. Saat itu, Kerri yang sering mengunjungi yayasan pendidikan milik keluarganya di Sumatra Utara bertemu banyak orang, termasuk para penggiat kain dan penenun. Hingga ia tahu jika industri tenun ulos memprihatinkan dibanding batik atau tenun ikat.

“Penenun seolah terbelenggu oleh monopoli dari para tauke atau mafia benang untuk beli bahan baku seperti benang. Para penenun juga dibayar  250 ribu rupiah sebulan, tapi para tauke menjual ulosnya ke Jakarta 2,5 juta rupiah. Itu sangat tidak fair,” kata Kerri yang hari itu mengenakan kemeja krem dibalut ulos Harungguan.   
Para penenun atau dalam bahasa Batak disebut partonun juga mengatakan padanya, jika saja mereka tahu jenis pekerjaan lain, tentu pilih tidak menenun. Ditambah, regenerasi anak muda yang ingin menenun sangat minim.
Wanita 27 tahun ini menjelaskan, ulos merupakan bahasa Batak Toba yang berarti selimut. Proses 'mangulosi' atau memberi ulos sudah diketahui Kerri sejak kecil yang biasanya terjadi pada momen penting seperti pernikahan atau kematian. Adanya ‘mangulosi’ ibarat menyelimuti seseorang dengan doa dan harapan.

Karenanya, Kerri memulai Tobatenun pada Juli 2018 untuk melestarikan tenun ulos dan memandirikan penenunnya secara ekonomi. Selain itu, ia ingin para penenun tahu, karya mereka diapresiasi. Pasalnya, tak banyak penenun yang mengerti bahwa nilai tenunan mereka di luar Sumatera sangat dihargai.

Untuk memperlihatkan keindahan ulos, Kerri juga menggelar pameran ulos tua tiga bulan lalu di Museum Tekstil, Jakarta.

“Saya ingin melihat penenun sebagai artisan, bukan sebagai pekerja karena yang mereka lakukan itu seni. Saya juga ingin ganti mindset orang, terutama orang Batak yang melihat penenun sebagai pekerja. Ironis, ulos bermakna dalam, tapi kita tidak menghargai orang yang membuat ulos. Saya ingin ada keseimbangan,” paparnya.

Koperasi dan E-Commerce

Fakta tentang ulos dan penenunnya membuat Kerri prihatin dan ingin berbuat sesuatu. Dari diskusi dengan para penenun, Kerri merangkum beberapa hal penting yang menjadi perhatian utama. Di antaranya, bahan baku yang sulit didapat karena dimonopoli dan hilangnya pengetahuan menenun, apalagi motif tradisional.

Ditambah adanya ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang menggunakan mesin, membuat keinginan menenun secara tradisional menurun dan kurang diapresiasi hasilnya.
“Penenun tradisional sulit mencari ruang dalam industri fesyen modern karena semua orang ingin hasil yang cepat. Jadi bagaimana caranya agar seimbang dan tenun ulos tetap diapresiasi. Sulit sekali karena pada akhirnya mereka butuh uang untuk menghidupi keluarganya. Sehingga,kalau ingin fokus di budaya, harus pikirkan ekonomi mereka juga,”tuturnya.

Tahun ini,Tobatenun fokus membuat koperasi di Sumut dan para penenun bisa mengambil kembali otoritas mereka dalam menenun. Untuk jangka panjang, Kerri menjamin langkah ini bisa lebih menghasilkan,meski butuh waktu yang tidak sebentar mewujudkannya.

“Kami sudah mulai menyediakannya dan akan ada weaving center di Laguboti. Mereka bisa datang pinjam benang, kami yang pasarkan hasil tenunnya. Tapi kami tidak beri mereka pesanan, bentuknya nanti e-commerce. Bukan hanya pasar domestik tapi ke internasional juga dan memfokuskan cerita penenun di balik setiap helainya agar karya mereka diapresiasi,” jelas Kerri.

Museum Batak Impian

Adanya Tobatenun juga dimaksudkan untuk melestarikan budaya Batak. Meski butuh usaha ekstra untuk mewujudkannya, keinginan itu sudah menguat dalam tekadnya.

Untuk menunjukkan berbagai kebudayaan Batak, Kerri bercerita, sang ibu ingin mendirikan museum Batak, sekaligus sebagai pusat kebudayaan. Keinginan itu menjadi mimpi besar Kerri di masa depan.

Dengan adanya museum itu, orang yang datang, terutama anak muda, bisa melihat berbagai koleksi budaya Batak dan mempelajari budayanya. Apalagi jika mengingat saat ini benda bersejarah Tanah Batak justru lebih banyak berada di luar negeri seperti di Tropen Museum, Amsterdam.

“Kalau pun benda-benda bersejarah itu ada di museum yang sudah berdiri saat ini sayangnya masih kurang mendalam, terutama soal ulos. Saya sudah ada bayangan untuk museum ini, tapi mungkin butuh waktu lama persiapannya,” kata wanita yang hobi menyelam ini.

Selain sosial budaya, Kerri juga bersemangat jika membahas tentang lingkungan dan kesehatan laut yang saat ini mulai tercemar. Kepedulian itu akan ia terapkan pula dalam penggunaan pewarna alam pada benang tenun. Dari cerita yang ia dengar, dahulu di Tanah Batak tersebar aneka tumbuhan yang bisa dijadikan pewarna alami.

“Jadi berkelanjutan, benangnya tidak usah didatangkan dari Jawa lagi. Semua bisa didapat di sana. Selain para wanita yang menenun, suami mereka juga bisa bertani kapas selain padi,” pungkasnya. (AR)

---
Foto: Arafah dan Dok.Pribadi

 

profil, wanita inspiratif, penggiat ulos batak

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments