Yasmin Winnett: Membangun Asa di Kaki Merapi (Bag. 1)

Yasmin Winnett: Membangun Asa di Kaki Merapi (Bag. 1)

Meski wilayah tempat tinggal dan sekolah informal yang ia dirikan masuk dalam kawasan rawan bencana, Yasmin tak gentar untuk membuka sekolah informal bagi para pemandu wisata dan anak-anak di kaki Gunung Merapi.
    
Di sela-sela kesibukannya, Yasmin berbincang dengan WI menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar seputar kisah hidupnya sampai mendirikan Sekolah Gunung Merapi (SGM). Sekolah yang terletak di bekas SDN Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta ini merupakan pusat kegiatan belajar untuk masyarakat di lereng Gunung Merapi yang rawan bencana.
    
Yasmin memulai cerita dengan masa kecilnya yang menyenangkan. Bungsu dari dua bersaudara ini bersyukur keluarganya termasuk yang berkecukupan. Ayahnya yang berkewarganegaraan Inggris bertemu di Jakarta dengan ibunya yang asal Bandung. Lahir di Jakarta, Yasmin dan keluarganya kemudian pindah ke negara asal sang ayah dan hidup di Faversham, sebuah desa kecil di Kent, Inggris. Besar dalam keluarga dengan latar belakang dua budaya, sejak kecil ia terbiasa menghadapi berbagai perbedaan.
    
“Makan malam kami lauknya makanan Inggris tapi masih ada nasi dan kecap,” kenangnya seraya melepas tawa.

Tapi dari perbedaan itu pula ia senang bisa cepat beradaptasi jika berada di lingkungan baru dan melatih empatinya.Sejak itu ia jarang ke Indonesia, hanya seingatnya pernah sesekali berlibur ke Bandung.

Wanita kelahiran 23 September 1988 ini menuturkan, sejak lulus SMA sudah tertarik berkegiatan sosial. Ketika lulus sekolah, ia sempat setahun bekerja sebagai asisten laboraturium di sebuah sekolah. Bosan menyiapkan alat-alat laboraturium, Yasmin justru lebih tertarik mendengar cerita mengajar para guru,dan membuatnya sangat menghargai profesi guru karena tidak mudah dijalani.

Yasmin yang senang tantangan ini ingin merasakan tinggal di luar negeri yang kondisinya berbeda dengan Inggris. Ia kemudian mengikuti program sukarelawan empat bulan di India Selatan. Tak mudah, Yasmin harus melewati serangkaian tes dan harus bisa mengumpulkan dana sendiri untuk perjalanan tersebut. Biasa melakukan kegiatan di alam bersama keluarganya, Yasmin memutuskan menggalang dana dengan berjalan kaki sejauh 300 km bersama sang kakak.

“Kami membawa alat-alat sendiri, perjalanannya 12 hari melewati rute yang disebut The Coast to Coast Walk, naik-turun gunung, melewati perbukitan, melihat bagian Inggris yang indah-indah. Teman-teman bantu sponsori perjalanan aku ini,” ungkapnya, seru.

Tiba-Tiba Ada Angin Hangat

Terbiasa tinggal di negara maju dengan segala kemudahan, Yasmin mendapati kondisi yang berbeda kala menjadi guru sukarelawan.

“Di sana tingkat kemiskinanannya sangat tinggi. Di Eropa juga ada kemiskan tapi beda dengan kemiskinan yang aku lihat di India. Pengalaman itu yang membuat aku ingin terus aktif di kegiatan sosial,” kata Yasmin.

Yasmin kemudian melanjutkan kuliah di School of Oriental and African Studies, London jurusan Indonesian and Geography yang mengkaji Indonesia dan membahas bahasa juga budaya. Sembari kuliah, kadang ia aktif di kegiatan sosial.  

“Aku sangat tertarik dengan banyak hal termasuk seni, tapi waktu itu aku sangat haus ingin mempelajari budaya lain jadi aku pilih jurusan itu biar ada kesempatan tinggal di negara lain untuk mempelajari lebih dalam,” urainya.

Agustus 2010, Yasmin mengikuti pertukaran pelajar ke Yogyakarta. Tak lama, Gunung Merapi erupsi. Ia pun turut menjadi tim relawan dan sudah mengenal Fajar Radite Syamsi, yang kini menjadi suaminya.

Lokasi Yasmin kala itu sebenarnya cukup dekat dengan Merapi. Ia pun sempat melihat Kali Gendol yang sudah dialiri material panas dari Merapi.

“Saat itu tiba-tiba ada angin hangat, sangat aneh, ternyata alarm tanda ada letusan berbunyi. Buatku saat itu enggak real karena selama ini aku tinggal di negara yang tidak ada gunung berapi,” ungkapnya.

Setelah lulus kuliah di 2012, Yasmin bekerja sebagai translator di sebuah perusahaan. Penghasilannya ia gunakan untuk mengikuti kursus pelatihan sebagai guru selama sebulan di Inggris. Pengalamannya menjadi guru sekarelawan membuatnya ingin memperdalam ilmu sebagai guru.

“Waktu di India itu aku sebelumnya tanpa pengalaman mengajar. Aku malu dan merasa sangat jelek mengajarnya,” tambah Yasmin.

Usai sebulan mengikuti pelatihan intensif, Yasmin kembali ke Indonesia dan mengajar di sebuah lembaga bahasa Inggris di Solo. Banyak pengalaman luar biasa didapatnya di sana.

“Tempatnya bagus untuk pengalamanku mengajar. Tapi lama-lama kurang puas juga karena sekolahnya cuma bisa diakses orang mampu,” imbuhnya.

Setelah merasa cukup, jiwa sosialnya kembali memanggil. Kali ini ia mendapat pekerjaan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris di Kamboja bagi mereka yang bekerja di sektor pariwisata.

“Pelatihannya sangat intensif, biayanya murah sehingga bisa diakses masyarakat ‘kelas’ biasa. Aku sangat terkesan dengan sekolah itu, walau sederhana tapi efeknya besar karena bisa meningkatkan perekonomian mereka,” tuturnya. (AR)

---
Foto: Dok. Pribadi dan IG: @bednarova.nina

 

kisah, wanita inspiratif, merapi

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments