Putri Ariani:Melihat dengan Hati, Bermusik dengan Rasa (2)

Putri Ariani:Melihat dengan Hati, Bermusik dengan Rasa (2)

Jatuh bangun Putri sampai detik ini tak lepas dari dukungan keluarganya. Perjuangan Putri dimulai sejak ia terlahir ke dunia. Reni Alfianty, ibunda Putri mengisahkan, semasa hamil putri pertamanya itu ia pernah mengalami pendarahan hebat yang membuatnya dirawat di rumah sakit dua minggu.

“Harus istirahat total di tempat tidur, nggak boleh ngapa-ngapain, miring juga enggak boleh,” kenangnya.

Tapi, malam sebelum keluar dari rumah sakit setelah dinyatakan sembuh oleh dokter, sesuatu terjadi padanya ketika ingin ke kamar mandi.     

“Tiba-tiba saya merasa ada yang ‘lepas’ habis dari toilet, banyak keluar darah, sempat mau pingsan tapi masih dengar suara samar-samar. Tubuh saya digoyang-goyangkan dokter, tidak boleh sampai pingsan, kalau pingsan bisa ‘lewat’,” jelas Reni.

Akibat pendarahan itu Reni butuh lima kantong darah untuk operasi yang dilakukan sesegera mungkin. Kondisinya semakin menurun, untuk bernapas pun ia kesulitan. Bahkan pihak keluarga sempat diminta menandatangi surat untuk memilih antara Reni atau bayinya yang harus diselamatkan. Tentu saja ini pilihan sulit, karenanya mereka meminta keduanya diselamatkan.

Syukurlah, Reni dan Putri berhasil diselamatkan. Putri lahir dengan berat badan 1,2 kilogram saat usia kandungan Reni 6 bulan 18 hari. Dokter mengatakan, organ-organ tubuhnya belum sempurna karena Putri lahir sebelum waktunya. Untuk itu selama tiga bulan Putri dirawat dalam inkubator hingga berat badannya bertambah.

Setelah di rumah beberapa hari, Reni kembali memeriksakan kondisi Putri ke rumah sakit, dan diketahui ternyata mata Putri mengalami katarak. Ia harus segera dibawa ke rumah sakit di Singapura. Ketika diperiksa, ukuran mata Putri besar sebelah, yang kanan 50 persen dan yang kiri 25 persen. Kemudian diputuskan untuk melakukan operasi pada mata kanan tapi hasilnya nihil. ROP yang dialami Putri membuatnya harus kehilangan penglihatan.

Mendengar hal itu, hati Reni hancur membayangkan masa depan malaikat kecilnya. Tapi, Reni sadar, ia pilih tak berlama-lama larut dalam kesedihan.

“Putri anak pertama kami, cucu pertama di keluarga saya dan suami. Semuanya mendukung untuk merawat Putri, ia adalah anugerah bagi kami. Bagaimanapun, sebagai orang tua kami ingin memberi yang terbaik,” ungkap Reni.

Karenanya, sejak Putri usia dua tahun, Reni mulai menyekolahkan Putri untuk melatihnya bersosialisasi dan untungnya ada guru yang bisa mengajarinya braille sampai taman kanak-kanak.  Tapi, saat masuk sekolah dasar, mereka sempat berpindah –pindah demi mendapat guru dan sekolah yang cocok, bahkan sempat terpisah dari keluarga.
Tapi beberapa tahun kemudian, kedua adiknya ingin pula menemani sang kakak. Akhirnya, kedua orang tua Putri yang memiliki usaha rumah makan masakan Melayu di Pekanbaru meninggalkan pekerjaan mereka untuk tinggal bersama anak-anaknya di Yogyakarta.

Anak itu Titipan Allah

Selama ini banyak yang memandang Putri sebelah mata karena kekurangannya. Begitu pula dalam hal pertemanan, banyak yang mau berteman dengan anaknya. Melihat hal ini, Reni coba membesarkan hati Putri.

“Yang membuat sedih, temannya di dunia maya banyak tapi di dunia nyata jarang, aku lihat mereka malu punya teman kayak Putri. Tapi kalau ketemu sesama musisi langsung klop, sampai lupa makan saking asyiknya,” jelas Reni.

Reni selalu menguatkan hati anaknya dan memupuk kepercayaan diri Putri sejak kecil. Sehingga Putri berprinsip jika orang lain bisa, tentu ia juga bisa. Seperti tertulis di bio Instagramnya, ‘melihat dengan hati, bermusik dengan rasa’. Keterbatasannya melihat tak menghalangi Putri untuk berkarya.

Ketika Putri mengikuti IGTS 2014, Reni tidak berekspektasi tinggi. Karenanya, ia sempat tak percaya ketika Putri menjadi juara satu. Dari keberhasilan Putri, banyak orang tua yang curhat pada Reni dan termotivasi ingin anak mereka seperti Putri, apalagi ada yang memiliki bakat di musik juga.
Reni berpesan agar para orang tua mengarahkan bakat anaknya. Tapi pernah pula Reni tahu  ada orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya walau usia mereka sudah menginjak 10 tahun.

“Kalau ketemu orang tua yang seperti itu saya marahi. Saya bilang, tidak boleh seperti itu, bagaimana kalau dia yang ada di posisi anaknya. Anak itu titipan Allah, harus dirawat baik-baik, insyaAllah rezeki kita nanti dilebihkan Allah” tutur Reni.

Reni percaya, Allah sudah mengatur rezeki setiap manusia. Begitu pun kala Putri bercita-cita mengumrahkan kedua orang tuanya, doanya diijabah.

“Saya usia 8 tahun belum bisa kasih apa-apa ke orang tua saya, tapi Putri sudah bisa kasih kami hadiah 500 juta rupiah dari menang IGTS 2014 dan ada yang berangkatkan kami umrah. Walaupun perjuangan kami tidak mudah. Seperti sekarang, kami meninggalkan pekerjaan dan segalanya di Pekanbaru yang mungkin bisa memberi banyak kelebihan. Di Jogja hidup kami ‘pas-pasan’, tapi  yang penting bersama anak-anak,” tutup Reni. (AR)

----
Foto: Dok. Pribadi
 

 

kisah, putri Ariani, difabel, penyanyi

Artikel Terkait

Comments