Body Shaming Sering Terjadi Pada Perempuan?

Body Shaming Sering Terjadi Pada Perempuan?

Banyak pelaku penyebar kebencian merasa ketagihan untuk melakukan bullying karena banyak komentar pendukung atas berita yang ia suguhkan. Kebiasaan mudah percaya tanpa didasari mencari tahu berita sesungguhnya menjadi penyakit mental yang harus dihilangkan oleh masyarakat Indonesia.  
        
Menurut Psikologi Klinis, Dra. A. Kasandra Putranto meningkatnya kasus body shaming di media sosial itu terkait dengan masalah profil psikologi dari pengguna. Kebanyakan dari pengguna media sosial di Indonesia terbatas dalam kecerdasan baik intelektual, sosial, emosional, mereka tidak siap dalam mengolah suatu informasi yang didapatkan.
        
“Ketika teknologi yang semakin canggih dan berada dalam genggaman tangan yang salah ditambah ketidakcerdasan intelektual, emosional, spiritual, terutama sosial, itu tentu bisa menyebabkan seseorang gampang untuk termakan berita bohong (hoax). Secara tidak langsung mereka lebih sulit mengendalikan diri atau mudah tersulut emosi,” kata Kasandra saat ditemui di kediamannya, di bilangan Cipete.
        
Melalui data infografik yang pernah ia buat, ternyata yang paling sering kena hoax adalah perempuan. Alasannya bukan karena masalah kecerdasan intelektual saja melainkan berhubungan dengan kecerdasan emosional, yang mana biasanya wanita tidak memerhatikan lagi soal kebenarannya.
        
Di sisi lain Kasandra sangat prihatin karena kebanyakan anak-anak di bawah umur di Indonesia sudah memiliki handphone serta akun media sosial. Padahal sebenarnya semua sosial media sudah meletakkan persyaratan batasan umur bagi penggunanya. Ternyata umur juga bukan jaminan untuk bisa mempunyai empat dasar kecerdasan tersebut.

Mental Tahu, Telor Rebus Atau Batu?

Menurut Kasandra pada dasarnya pribadi seseorang itu bermacam-macam, meski lahir dari orang tua yang sama. Ia pun memberi tiga contoh dari karakter manusia, walaupun sebenarnya karakter manusia itu sangatlah kompleks.
        
“Saya kasih tiga contoh si mental tahu, mental telor rebus dan mental batu. Ketika mengalami tekanan ada yang bisa sangat hancur, depresi, hingga mungkin ingin bunuh diri, sementara ada yang cuek dan tenang dalam menghadapi masalah, satu lagi mungkin di awal dia retak tapi bisa balik lagi walaupun tetap menyisakan luka-luka batin,” ungkap Kasandra.
        
Karena pada dasarnya psikologi itu tidak dapat terlihat seperti luka fisik. Seseorang yang mengalami luka batin, bisa terus ia simpan, bahkan bisa sampai bertahun-tahun. Setiap individu memiliki cara sendiri untuk bisa self healing di samping support system yang ia miliki.

Kecanduan Yang Membanggakan?

Nyatanya pelaku kekerasan secara verbal bisa terjadi oleh remaja di bawah umur. Masih banyak orang tua yang mengabaikan perannya di rumah, padahal seharusnya orang tua perlu mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan anak, berteman dengan siapa, hingga informasi yang masuk ke dalam otak anak.

“Tugas orang tua memastikan anak tumbuh dengan maksimal dan tahu apa saja yang terjadi sehingga ketika anak mengalami kekerasan, orang tua bisa langsung tahu. Pembentukan otak anak itu harus selalu dikontrol oleh ibunya sehingga anak bisa merasa terlindungi,” jelasnya.
 
Menurutnya, mem-bully fisik seseorang bisa menimbulkan efek kecanduan, saat seseorang mengejek memungkinkan seseorang punya perasaan bangga. Ditambah banyak pendukung yang ikut mem-bully korban. Selain itu, pelaku bullying atau khususnya body shaming bisa saja ia juga pernah menjadi korban bully di masa lalunya. (EV & RV)

---
Foto: Istimewa

 

aktual, body shaming

Artikel Terkait

Comments